Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Fotokatalisis, Bioadsorpsi, dan Membran Cair: Tiga Senjata Baru Hadapi Limbah

Andi Aris Widiyanto • Kamis, 28 Agustus 2025 | 21:40 WIB
Prof. Ir. Herry Purnama, M.T.,  Guru Besar Bidang TeknologiBersih dan Pengelolaan Limbah UMS
Prof. Ir. Herry Purnama, M.T., Guru Besar Bidang TeknologiBersih dan Pengelolaan Limbah UMS

Oleh : Prof. Ir. Herry Purnama, M.T.,  Guru Besar Bidang TeknologiBersih dan Pengelolaan Limbah UMS

RADARSOLO.COM - Dunia saat ini menghadapi tantangan global yang kian kompleks: kemiskinan, kelaparan, kesenjangan sosial, hingga kerusakan lingkungan. Indonesia, dengan jumlah penduduk hampir 286 juta jiwa, juga merasakan tekanan serupa.

Pembangunan yang pesat sering berbenturan dengan keberlanjutan lingkungan, padahal menjaga keseimbangan alam adalah amanah yang tidak bisa diabaikan. Dalam perspektif Islam, menjaga kelestarian bumi adalah bagian dari ibadah.

Al-Qur’an menegaskan larangan berbuat kerusakan di bumi, dan setiap upaya perbaikan lingkungan merupakan wujud dari prinsip istishlah—kemaslahatan universal bagi seluruh makhluk.

Dalam konteks inilah, sains dan teknologi berperan penting. Perguruan tinggi melalui risetnya didorong untuk mencari solusi nyata atas persoalan lingkungan. Tiga pendekatan yang menjanjikan adalah teknologi fotokatalisis, bioadsorpsi, dan membran cair emulsi. Ketiganya menawarkan jalan baru dalam pengolahan limbah cair dan pemulihan kualitas lingkungan.

Fotokatalisis memanfaatkan energi cahaya untuk mengaktifkan material semikonduktor, seperti titanium dioksida (TiO₂). Ketika terkena cahaya, TiO₂ menghasilkan pasangan elektron–hole yang mampu memicu reaksi kimia, menghancurkan polutan organik berbahaya hingga menjadi senyawa sederhana seperti air dan karbon dioksida. Dengan kata lain, sinar matahari bisa menjadi “mesin pembersih” alami bagi air tercemar.

Berbagai riset membuktikan efektivitas teknologi ini. Nanopartikel perak, komposit berbasis ZnO, hingga material nanokomposit TiO₂ menunjukkan efisiensi tinggi dalam mendegradasi zat warna beracun dari limbah tekstil. Di Indonesia, aplikasi fotokatalisis berhasil menurunkan kadar polutan pada limbah batik dan tekstil. Teknologi ini bukan hanya menjawab masalah pencemaran, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan energi bersih dari cahaya matahari.

Selain teknologi berbasis cahaya, pendekatan alami juga terbukti efektif. Bioadsorpsi adalah metode pemurnian air dengan memanfaatkan biomassa seperti limbah pertanian, tumbuhan, atau mikroorganisme. Biomassa tersebut mampu menyerap logam berat maupun zat warna beracun.

Keunggulan bioadsorpsi ada pada ketersediaannya yang melimpah, biaya rendah, dan sifatnya yang ramah lingkungan. Di Indonesia, biji kelor terbukti mampu menurunkan kadar pencemar limbah batik hingga lebih dari 80%. Arang bambu tropis juga menunjukkan daya serap tinggi terhadap polutan. Bahkan, metode ini bisa dipadukan dengan teknik lain seperti elektrokoagulasi untuk meningkatkan kinerjanya. Bioadsorpsi mencerminkan prinsip ekonomi sirkular: limbah diubah menjadi sumber daya yang bermanfaat.

Teknologi lain yang kian menarik perhatian adalah membran cair emulsi atau emulsion liquid membrane (ELM). Metode ini bekerja dengan memanfaatkan emulsi dua cairan yang tidak bercampur—umumnya air dan minyak—untuk mengekstrak polutan secara selektif. Dengan bantuan surfaktan dan zat pembawa, polutan bisa dipindahkan dari air tercemar ke fase penampung di dalam membran.

Keunggulan ELM adalah efisiensinya yang tinggi dan kemampuannya memilih polutan tertentu. Penelitian di Indonesia menunjukkan minyak jelantah dapat digunakan sebagai bahan membran cair untuk menghilangkan zat warna berbahaya dari limbah tekstil, dengan efisiensi lebih dari 90%. Inovasi ini memberikan dua keuntungan sekaligus: mengurangi limbah rumah tangga dan meningkatkan kualitas air buangan industri.

Baca Juga: Perkiraan Pemain Bhayangkara FC vs Persis Solo

Ketiga teknologi ini—fotokatalisis, bioadsorpsi, dan membran cair—sebenarnya saling melengkapi. Bioadsorpsi dapat digunakan sebagai tahap awal untuk mengurangi beban polutan. Selanjutnya, fotokatalisis mendegradasi senyawa organik kompleks, dan membran cair menyelesaikan tahap akhir dengan mengekstrak polutan spesifik secara efisien. Model integratif ini akan lebih efektif daripada penggunaan metode tunggal.

Bagi Indonesia, pengembangan teknologi ramah lingkungan ini sangat strategis. Negara kita menghadapi persoalan besar dalam pencemaran limbah cair, keterbatasan air bersih, dan kebutuhan energi terbarukan. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal—biomassa melimpah, cahaya matahari berlimpah, dan limbah minyak goreng—Indonesia bisa memperkuat kemandirian dalam pengelolaan lingkungan. Lebih jauh, riset-riset ini dapat mengantarkan Indonesia menjadi pusat pengembangan teknologi hijau di Asia, sekaligus berkontribusi pada pencapaian target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals).

Teknologi bersih seperti fotokatalisis, bioadsorpsi, dan membran cair emulsi membuka harapan baru bagi masa depan lingkungan Indonesia. Ketiganya membuktikan bahwa inovasi tidak selalu mahal dan bergantung pada teknologi impor; justru dengan menggali potensi lokal, kita dapat menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan.

Menjaga bumi adalah amanah, dan setiap langkah kecil—dari riset di laboratorium hingga penerapannya di lapangan—adalah kontribusi penting menuju bumi yang lebih lestari. Kini saatnya perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat bergandengan tangan mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkeadilan, demi generasi mendatang. (*)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#tantangan global #guru besar #Senyawa #semikonduktor #UMS