Oleh: Sigit Haryanto*)
RADARSOLO.COM-Bulan Agustus menjadi momen bersejarah bagi ribuan mahasiswa baru.
Mereka memasuki gerbang perguruan tinggi dengan penuh harap, sekaligus was-was menghadapi atmosfer baru yang disebut dunia kampus.
Tradisi penyambutan mahasiswa baru yang dulu dikenal luas dengan istilah Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK), kini sudah banyak berganti nama.
Beberapa kampus menggunakan istilah berbeda sesuai ciri khas masing-masing.
Di universitas negeri semisal UNS, UNDIP, atau UNNES, istilah PKKMB digunakan secara resmi.
Di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, seperti UIN, nama yang populer adalah Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).
Sementara kampus Muhammadiyah akrab dengan Masa Ta’aruf (MASTA).
Meski bervariasi, tujuan intinya serupa, yakni memberi gambaran tentang dunia akademik,
organisasi, hingga kultur kampus yang beraneka ragam kepada para “pendatang baru” agar
mereka siap menapaki perjalanan akademik dan kehidupan kemahasiswaan.
Dari Perploncoan ke Humanisasi
Bila kita menoleh ke belakang, OSPEK di masa lalu seringkali identik dengan perploncoan.
Senior seakan mendapat “hak istimewa” untuk menguji mental mahasiswa baru.
Tidak jarang kegiatan itu berubah menjadi ajang balas dendam—panitia yang dulu diperlakukan keras ketika menjadi mahasiswa baru, kini menurunkan perlakuan serupa kepada adik tingkatnya.
Dalam praktiknya, OSPEK kerap diwarnai bullying, baik verbal maupun fisik.
Teriakan, hukuman fisik, hingga tugas-tugas aneh dan tak masuk akal menjadi menu sehari-hari.
Fenomena ini memunculkan trauma tersendiri. Banyak mahasiswa baru kala itu merasa ketakutan bahkan sebelum kuliah dimulai.
Alih-alih menumbuhkan semangat belajar, OSPEK justru menjadi momok.
Lebih dari itu, praktik perploncoan tak jarang melahirkan konflik, memperlebar jarak antara
mahasiswa baru dengan senior, bahkan ada kasus-kasus ekstrem yang berujung pada kekerasan
fisik.
Seiring waktu, kesadaran publik tentang bahaya perploncoan makin kuat.
Pemerintah, melalui regulasi, turut mempertegas larangan segala bentuk kekerasan dalam penyambutan mahasiswa baru.
Paradigma kemudian berubah. Ospek masa kini—atau PKKMB, PBAK, maupun MASTA—dirancang lebih humanis, mendidik, serta berorientasi pada pengembangan potensi mahasiswa.
Ospek di Era Baru: Humanis, Edukatif, dan Kreatif
Mahasiswa baru sekarang disambut dengan cara yang lebih bersahabat. Tugas-tugas aneh ala OSPEK konvensional mulai ditinggalkan.
Sebagai gantinya, mereka diperkenalkan pada nilai-nilai akademik, tata krama kehidupan kampus, hingga peluang organisasi dan pengembangan diri. Bahkan, beberapa kampus menambahkan acara hiburan yang lebih segar.
Ada sesi bernyanyi bersama, joget massal, hingga permainan kolaboratif.
Sekilas memang tampak sederhana, namun di balik itu terselip pesan kebersamaan dan pelepasan
ketegangan.
Kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan strategi mencairkan suasana, mengikis rasa canggung antar mahasiswa baru, serta membangun semangat kolektif.
Perguruan tinggi pun semakin sadar bahwa mahasiswa baru adalah aset jangka panjang. Mereka perlu diperlakukan dengan penuh penghormatan, bukan sebagai objek kekuasaan senior.
Humanisasi dalam penyambutan mahasiswa baru menjadi kunci agar mereka bisa merasa nyaman sejak hari pertama menapakkan kaki di kampus.
Makna Kultural Ospek. Ospek, dalam arti luas, bukan sekadar serangkaian kegiatan seremonial.
Ia adalah proses transisi dari dunia sekolah menengah ke dunia perguruan tinggi—sebuah “ritus
peralihan” yang sarat makna.
Dalam perspektif antropologi pendidikan, kegiatan seperti ini sejatinya adalah momen pengenalan budaya baru.
Mahasiswa baru perlu memahami norma, etika, sekaligus kebebasan yang melekat pada kehidupan kampus.
Bedanya, bila dulu transisi ini dilapisi oleh praktik intimidasi, kini ia diisi dengan kegiatan yang lebih produktif.
Materi pengenalan kampus meliputi cara mengakses jurnal, etika akademik, literasi digital, hingga isu-isu penting seperti pencegahan intoleransi, kekerasan seksual, dan penyalahgunaan narkoba.
Dengan kata lain, ospek bukan hanya memperkenalkan ruang kelas, melainkan juga nilai-nilai kehidupan yang akan membentuk karakter mahasiswa.
Inilah yang menjadikan PKKMB dan sejenisnya relevan di era sekarang: sebagai wahana membangun mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara sosial dan emosional.
Tantangan dan Harapan
Meski demikian, bukan berarti semua persoalan usai. Di beberapa tempat, masih ada kasus
kasus perploncoan yang tersisa. Bentuknya memang lebih halus, namun esensinya tetap sama:
relasi kuasa senior-junior yang timpang. Ini menjadi tantangan nyata.
Kampus dituntut lebih serius mengawasi dan memastikan kegiatan penyambutan mahasiswa benar-benar mendidik.
Pengawasan dari pihak rektorat, dukungan dosen, serta peran aktif organisasi mahasiswa sangat
dibutuhkan.
Tanpa pengawasan yang ketat, masih terbuka peluang praktik lama “menyelinap”
dalam bentuk baru.
Harapan ke depan, ospek bisa terus berkembang menjadi ajang pembelajaran kreatif.
Alih-alih menjadi beban, ia dapat berfungsi sebagai pintu gerbang yang menyenangkan menuju dunia kampus.
Mahasiswa baru bukan hanya diperkenalkan pada gedung kuliah dan birokrasi, tetapi juga diajak mengenal kampus sebagai rumah intelektual—tempat kebebasan akademik, solidaritas, dan integritas dijunjung tinggi.
Penutup
Perubahan paradigma dari OSPEK lama menuju PKKMB, PBAK, maupun MASTA adalah
bukti bahwa pendidikan tinggi di Indonesia bergerak ke arah yang lebih beradab.
Dari budaya perploncoan menuju budaya humanisasi, dari intimidasi menuju edukasi. Bila dulu mahasiswa baru merasa cemas menghadapi ospek, kini mereka bisa menyambutnya dengan antusias.
Penyambutan yang humanis dan mendidik tidak hanya memperkenalkan kampus, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan, empati, serta semangat kolaborasi.
Akhirnya, kita berharap bahwa transformasi ini bukan sekadar perubahan istilah, melainkan perubahan budaya.
Ospek bukan lagi tentang senioritas, melainkan tentang solidaritas. Ia bukan lagi ruang kekuasaan, melainkan ruang pembelajaran.
Dan pada titik itulah, dunia kampus menemukan jati dirinya sebagai rumah bersama untuk tumbuh dan berkembang. (*)
*) Pemerhati Pendidikan Tinggi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Editor : Tri wahyu Cahyono