Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Renungan Psikologi Belajar: Dari Mengajar menuju Menginspirasi

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 17 September 2025 | 13:00 WIB
Harsono, Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Harsono, Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Oleh: Harsono*)

RADARSOLO.C0M - Pendidikan sering kali dipandang sebagai ritual formal: guru masuk kelas, mengajak berdoa, mempresensi, menyampaikan materi, memberi tugas, lalu menutup pertemuan dengan salam.

Semua berlangsung rapi, sistematis, tetapi hambar.

Seperti mesin yang diprogram, kegiatan belajar sering kali hanya berorientasi pada target kognitif: berapa bab yang selesai, berapa nilai ujian yang tercapai, berapa besar persentase kelulusan yang diraih.

Padahal, psikologi belajar mengingatkan kita bahwa manusia tidak sekadar otak yang dijejali fakta, melainkan jiwa yang membutuhkan inspirasi.

Pertanyaannya, kapan terakhir kali seorang guru benar-benar menginspirasi kita, bukan sekedar mengajar kita?

Mengajar pada dasarnya adalah kegiatan transfer.

Guru menyampaikan informasi, murid menerima, lalu mengulanginya kembali dalam bentuk ujian.

Proses ini sederhana, efisien, namun sering kali berakhir pada “sekadar tahu”.

Psikologi belajar membuktikan bahwa mengetahui tidak sama dengan memahami, dan memahami tidak otomatis melahirkan perubahan perilaku.

Di sinilah letak jurang yang lebar: kelas penuh pengetahuan, tetapi minim transformasi.

Kita bisa hafal rumus, fasih menyebut teori, namun tetap bingung menggunakannya dalam kehidupan nyata.

Baca Juga: Ospek Dulu dan Sekarang: Dari Perploncoan ke Humanisasi Kampus

Inspirasi berbeda. Ia menyentuh sisi afektif, menggugah motivasi, minat, dan menyalakan kesadaran bahwa belajar adalah perjalanan personal yang bermakna.

Inspirasi tidak berhenti pada angka di buku rapor, melainkan berlanjut menjadi daya dorong internal.

Ketika seorang guru hanya berkata “begini cara menghitung,” akan lebih baik menunjukkan mengapa perhitungan itu relevan untuk hidup sehari-hari, murid tidak merasa dipaksa, melainkan terpanggil.

Saat itu, belajar berubah dari kewajiban menjadi kebutuhan.

Sayangnya, sistem pendidikan kita masih lebih banyak memberi ruang untuk mengajar daripada menginspirasi.

Standar nasional pendidikan menuntut guru memenuhi kompetensi, menyelesaikan kurikulum, dan menguasai teknologi pembelajaran.

Semua itu penting. Tetapi, apakah kita lupa menambahkan satu hal: kompetensi yang menginspirasi?

Menguasai aplikasi digital tidak menjamin siswa betah belajar, apalagi jatuh cinta pada ilmu.

Anak-anak tidak akan teringat dengan slide PowerPoint yang penuh teks, tetapi mereka akan mengingat satu kalimat tulus dari guru: “Saya percaya kamu bisa.”

Psikologi belajar menjelaskan bahwa motivasi intrinsik—dorongan dari dalam diri—lebih tahan lama dibanding motivasi ekstrinsik seperti nilai atau hadiah.

Guru yang menginspirasi tahu cara memantik motivasi ini.

Caranya sederhana: dengan memberi teladan, menghadirkan cerita, dan membangun kedekatan emosional.

Murid lebih mudah meneladani sikap yang mereka lihat daripada nasihat yang mereka dengar.

Baca Juga: Kesehatan Mental Wanita Hamil yang Sering Terabaikan

Jika guru hanya berperan sebagai “pemberi instruksi,” murid akan patuh sesaat.

Namun bila guru menjadi “sumber inspirasi,” perilaku murid akan terbentuk sepanjang hayat.

Mari kita bayangkan perbedaan sederhana. Seorang guru matematika berkata: “Kerjakan 10 soal ini, besok saya nilai.”

Siswa mengerjakan karena takut nilai jelek. Selesai sudah.

Tetapi guru lain berkata: “Kalian tahu, dengan rumus ini seorang insinyur bisa merancang jembatan yang menyelamatkan ribuan nyawa. Bayangkan suatu saat kalian menjadi insinyur.”

Seketika, angka dan simbol bukan lagi sekadar coretan di papan tulis.

Ia berubah menjadi jendela menuju masa depan. Yang pertama hanya mengajar. Yang kedua, menginspirasi.

Tentu, tidak mudah mengubah pola pikir mengajar menjadi menginspirasi.

Guru dibebani administrasi, dikejar target kurikulum, bahkan dihantui penilaian kinerja.

Dalam situasi ini, inspirasi bisa terasa mewah. Tetapi justru karena itulah kita butuh keberanian untuk menambahkan “ruh” dalam proses belajar.

Mengajar tanpa inspirasi ibarat memasak tanpa bumbu: mengenyangkan, tetapi tidak menggugah selera.

Renungan ini juga berlaku bagi mahasiswa yang kelak menjadi pendidik.

Jangan sampai kita hanya mewarisi gaya mengajar mekanis dari generasi sebelumnya.

Baca Juga: Fotokatalisis, Bioadsorpsi, dan Membran Cair: Tiga Senjata Baru Hadapi Limbah

Psikologi belajar menuntut kita memahami bahwa setiap siswa memiliki latar belakang, emosi, minat, dan mimpi yang berbeda.

Inspirasi lahir ketika guru mau mendengar, mau memahami, dan mau hadir secara utuh dalam kelas.

Sering kali, kehadiran yang tulus lebih berarti daripada seribu metode yang canggih.

Kita juga harus jujur bahwa inspirasi tidak bisa dipaksakan. Ia lahir dari ketulusan dan integritas.

Guru yang tidak menikmati ilmunya sendiri sulit menyalakan semangat pada murid.

Sebaliknya, guru yang matanya berbinar saat menjelaskan, yang suaranya penuh gairah ketika berceritera, akan meninggalkan jejak di hati murid.

Inspirasi tidak membutuhkan panggung megah; kadang ia lahir dari percakapan singkat di lorong sekolah, dari sapaan ramah, atau dari kepercayaan yang diberikan pada murid yang sering dianggap “biasa saja.”

Kini saatnya kita menggeser orientasi pendidikan dari sekadar mengajar menuju menginspirasi.

Bukan berarti kita berhenti mengajar, tetapi kita melengkapinya dengan sentuhan yang lebih dalam.

Pengetahuan tetap penting, tetapi nilai sejati pendidikan ada pada kemampuan menyalakan api dalam diri peserta didik.

Api yang membuat mereka ingin tahu, berani mencoba, dan tak takut gagal.

Pada akhirnya, murid mungkin akan melupakan rumus, teori, atau definisi yang kita ajarkan.

Tetapi mereka tidak akan pernah melupakan perasaan yang kita tanamkan.

Baca Juga: Dari Bambu Runcing ke Kecerdasan Buatan: Menakar Arti Merdeka di Era Digital

Mereka akan mengingat guru yang membuat mereka percaya diri, yang menumbuhkan keberanian untuk bermimpi, dan yang memberi inspirasi untuk terus belajar sepanjang hayat.

Dari situlah, pendidikan menemukan makna sejatinya: bukan sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan menyalakan kehidupan. (*)

*) Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta

Editor : Tri wahyu Cahyono
#Renungan #harsono #universitas muhammadiyah surakarta #fkip #menginspirasi #belajar #psikologi #UMS #mengajar