Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Bangga Terbit atau Bangga Banyak Pembaca

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 1 Oktober 2025 | 13:15 WIB
Sigit Haryanto
Sigit Haryanto

Oleh: Sigit Haryanto*)

Di era sekarang, mahasiswa tidak hanya dituntut menyelesaikan skripsi, tesis, atau disertasi.

Akan tetapi juga dituntut kewajiban baru yang kerap membuat pusing kepala, yakni, menulis artikel ilmiah dan menerbitkannya di jurnal. Kata LOA dan Publish menjadi tambahan memori yang tak akan hilang dalam benak para mahasiswa S1 sampai S3.

Bahkan, bagi sebagian orang, publikasi dianggap jalur cepat dibanding harus menghadapi sidang tugas akhir yang ribet dan menegangkan.

Akibatnya, tidak heran jika kebanggaan baru muncul: bangga terbit. Rasanya luar biasa ketika nama kita terpampang di jurnal, apalagi jika masuk kategori “bergengsi” seperti Sinta atau Scopus.

Foto tangkapan layar pun segera dipajang di media sosial, lengkap dengan caption penuh syukur.

Tetapi, pertanyaan sederhana sering luput, setelah terbit, apakah tulisan itu benar-benar dibaca orang?

Kebanggaan Administratif

Fenomena bangga terbit tidak bisa dilepaskan dari sistem perguruan tinggi kita.

Publikasi sudah menjadi syarat formal kelulusan, bagian dari program Outcome Based Education (OBE).

Logikanya sederhana muncul, yakni kualitas lulusan diukur dari karya nyata, salah satunya artikel di jurnal. Namun, logika administratif ini sering menenggelamkan makna sejati dari menulis.

Artikel ilmiah berubah menjadi sekadar tiket kelulusan, bukan sarana berbagi gagasan.

Akibatnya, penulis lebih sibuk mengejar status “sudah terbit” ketimbang memikirkan apakah ada orang yang benar-benar membaca atau bahkan mengutipnya.

Banyak mahasiswa—dan tidak sedikit dosen—yang setelah artikelnya terbit, tak pernah lagi membuka tautannya. Tidak tahu jumlah pembaca, tidak peduli berapa kali disitasi.

Artikel pun hanya menjadi arsip digital, sunyi dan sepi.

Jika kita jujur, kebanggaan administratif ini adalah refleksi dari budaya akademik yang masih sangat birokratis.

Perguruan tinggi seolah lebih mementingkan angka akreditasi dan posisi dalam peringkat internasional ketimbang menumbuhkan iklim intelektual yang sehat.

Mahasiswa didorong untuk menulis bukan karena dorongan intelektual, melainkan karena kewajiban.

Maka tidak heran jika banyak artikel yang sebenarnya “mati muda”—terbit, tapi tak pernah betul-betul hidup di tengah wacana keilmuan.

Terbit Bukanlah Akhir

Tujuan menulis adalah komunikasi. Artikel seharusnya menjembatani pengetahuan baru kepada pembaca yang lebih luas.

Apa gunanya riset bertahun-tahun jika hasilnya hanya berhenti di lembar jurnal tanpa pernah menginspirasi siapa pun? Bayangkan ada artikel sederhana di jurnal lokal.

Tidak masuk Scopus, tidak punya impact factor tinggi. Tetapi artikel itu dibaca ribuan kali, dikutip mahasiswa lain, bahkan jadi dasar diskusi di ruang kelas.

Bukankah itu jauh lebih hidup dibanding artikel berlabel internasional yang hanya dibaca segelintir orang?

Kita perlu menyadari bahwa keberhasilan sebuah tulisan bukan hanya ditentukan oleh di mana ia diterbitkan, melainkan oleh sejauh mana ia memberi pengaruh.

Dalam sejarah ilmu pengetahuan, banyak gagasan besar yang lahir bukan dari jurnal bereputasi tinggi, melainkan dari tulisan yang beredar luas di masyarakat.

Ketika sebuah karya dibaca, diperdebatkan, dan menjadi rujukan, maka ia telah menjalankan fungsi sejatinya, yakni menggerakkan pikiran.

Menggeser Arah Kebanggaan

Sudah waktunya kita menggeser orientasi. Tentu saja terbit di jurnal tetap penting. Itu tanda karya kita diakui secara akademis.

Tetapi kebanggaan sejati mestinya lebih dari itu: bangga karena tulisan dibaca, diperbincangkan, bahkan memberi pengaruh. Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi krusial.

Mahasiswa perlu didorong bukan hanya untuk menulis, tapi juga memastikan tulisannya menjangkau pembaca. Ada banyak cara sederhana yang bisa ditempuh.

Misalnya, membagikan tautan artikel di forum akademik, mempresentasikan hasil riset dalam seminar, atau menulis ulang temuan ilmiah dalam bahasa populer yang mudah dipahami masyarakat umum.

Dengan begitu, karya ilmiah tidak hanya berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi benar-benar menjadi bagian dari percakapan sosial dan akademik.

Lebih jauh, dosen dan peneliti senior juga harus memberi teladan. Jika mereka hanya puas dengan jumlah publikasi untuk kebutuhan kenaikan pangkat, mahasiswa akan meniru pola yang sama.

Sebaliknya, jika mereka aktif mendiskusikan tulisan, membagikan gagasan, dan mengukur keberhasilan bukan dari jumlah artikel tetapi dari kualitas dampaknya, maka atmosfer akademik yang sehat akan tumbuh.

Antara Kuantitas dan Kualitas

Ada dilema yang sering muncul, perguruan tinggi menekankan kuantitas publikasi, sementara idealnya kita mengutamakan kualitas.

Kuantitas penting untuk mengukur produktivitas, tetapi kualitaslah yang menentukan apakah sebuah karya benar-benar bermakna.

Karya yang berkualitas bukan hanya dinilai dari metodologi yang rapi atau analisis yang mendalam, tetapi juga dari kemampuannya memberi kontribusi pada pengetahuan dan kehidupan nyata.

Bayangkan seorang mahasiswa yang menulis artikel tentang kearifan lokal di desanya.

Artikel itu mungkin tidak pernah masuk jurnal internasional bereputasi, tetapi bisa menjadi inspirasi kebijakan lokal, bisa menggerakkan masyarakat untuk melestarikan tradisi, atau bahkan memantik penelitian lanjutan dari mahasiswa lain.

Bukankah itu bentuk pencapaian yang tidak kalah berharga? Sebaliknya, apa arti sebuah artikel yang dipublikasikan di jurnal dengan impact factor tinggi jika hanya menjadi pajangan di CV?

Dalam perspektif yang lebih luas, publikasi bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah percakapan panjang yang terus berlangsung di dunia ilmu pengetahuan.

Menulis untuk Hidup, Bukan Sekadar Hidup untuk Menulis

Menulis adalah bagian dari hidup akademik. Namun, jangan sampai kita terjebak dalam logika bahwa menulis semata-mata untuk memenuhi kewajiban.

Menulis seharusnya menjadi cara untuk menghidupkan gagasan, berbagi pengetahuan, dan memberi manfaat nyata.

Untuk itu, tugas kita adalah menumbuhkan kesadaran bahwa setiap tulisan memiliki potensi untuk hidup.

Hidup karena dibaca. Hidup karena diperbincangkan. Hidup karena memberi inspirasi.

Jika kita hanya berfokus pada terbitnya artikel tanpa memastikan keberlanjutannya di ruang publik, maka tulisan itu akan mati sebelum waktunya.

Di titik inilah kita perlu bertanya apakah kebanggaan kita hanya berhenti di status “sudah terbit”? Ataukah kita mau melangkah lebih jauh, memastikan bahwa tulisan kita benar-benar sampai ke tangan pembaca, memantik diskusi, bahkan mungkin mengubah cara pandang seseorang?

Menutup dengan Pertanyaan

Dunia akademik memang tidak bisa lepas dari publikasi. Tetapi mari kita renungkan kembali, apa yang sebenarnya kita kejar dari sebuah tulisan? Apakah sekadar angka, sertifikat, dan formalitas administratif?

Ataukah sebuah kehidupan yang lebih luas, di mana gagasan yang kita lahirkan bisa memberi pengaruh nyata?

Mari kita bertanya lebih jauh apakah tulisan kita benar-benar hidup? Hidup karena dibaca. Hidup karena diperbincangkan. Hidup karena memberi manfaat.

Mungkin sekarang saatnya kita memilih ungkapan ini: bangga terbit, atau bangga karena banyak pembaca? Tentu yang lebih baik adalah terbit dan banyak pembaca. (*)

*) Pemerhati Pendidikan Tinggi Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#artikel #karya ilmiah #universitas muhammadiyah surakarta #UMS #Sigit Haryanto