Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Mengembalikan Moralitas Pendidikan

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 8 Oktober 2025 | 13:00 WIB
Dartim Ibnu Rushd, dosen Prodi Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta
Dartim Ibnu Rushd, dosen Prodi Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta

Oleh: Dartim Ibnu Rushd

RADARSOLO.COM- Seperti yang sudah kita ketahui bahwa masalah utama pendidikan adalah absennya moralitas atau akhlak di dalam tubuh generasi. Apabila meminjam istilah Al-Attas, disebut generasi “hilang adab”.

Sedangkan generasi kontemporer identik dengan generasi milenial dan generasi alpha, yang serba instant dan lemah dalam interaksi sosial.  Sebagai indikasi lemahnya moralitas ini dapat dilihat dalam beberapa kejadian anomali etika seperti yang tersiar di berbagai platform media masa.

Baik media cetak maupun media digital. Seperti kelakuan remaja yang mudah berbuat asusila, terjadinya tawuran antar pelajar dan geng motor, terjadinya begalisme dan vandalisme, serta berita-berita lainnya.

Beragam ikhtiyar untuk mengembalikan moralitas atau karakter generasi (dalam istilah lain) sebenarnya telah dilakukan. Salah satunya melalui pendidikan. Di mana pada tahun 2013 lalu telah terbit kurikulum pendidikan yang mengintegrasikan nilai moralitas pada setiap mata pelajaran melalui konsep pembelajaran tematis kurikulum 2013 (K13).

Pertanyaan kita adalah karakter apa yang harus mula-mula dihidupkan untuk mengembalikan moralitas generasi itu? Sehingga ketika karakter ini dihidupkan kembali akan memicu tumbuhnya moralitas-moralitas yang baik lainnya.

Penulis teringat pada salah satu ayat dalam Al-quran sebagai dasar normatif yang artinya sebagai berikut,

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak (generasi) yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

Merujuk dari ayat yang terdapat dalam surat An-Nisa: 9 tersebut, kandungan utamanya adalah agar kita tidak membiarkan generasi masa depan menjadi lemah. Caranya adalah dengan menguatkan “ketakwaan” dan mengajari generasi bagaimana “perkataan yang benar”.

Saya berpendapat bahwa karakter yang dapat ditampilkan dari isyarat dalam dua kalimat sebagaimaa pada akhir ayat tersebut adalah: membudayakan rasa malu sebagai wujud ketaqwaan dan berlatih kejujuran sebagai wujud perkataan benar.

Rasa Malu dan Kejujuran

Pertama adalah karakter dengan membudayakan rasa malu. Sebagaimana hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Iman itu terdiri dari 73-79 cabang, dan salah satu bagian dari cabang iman adalah malu”. Kenapa karakter malu yang disebutkan dalam teks hadits ini?

Isyarat ini seolah menandakan bahwa karena budaya malu inilah karakter manusia yang (saat ini) telah hilang, maka budaya malu ini juga yang harus kita hadirkan kembali dalam pendidikan.

Istilah malu dalam redaksi asli hadits ini disebutkan dengan istilah “al-hayaau” senada dengan istilah “al-hayyatu" yang bermakna hidup.

Karena memang orang yang hidup harus memiliki rasa malu. Oleh karena itu, jika seseorang sudah tidak memiliki rasa malu, maka sebenarnya ia tidak hidup. Ia hakikatnya sudah mati sebelum jasadnya mati. Konsep malu di sini bukan yang berarti minder ataupun rendah diri.

Ditambah tantangan generasi hari ini adalah media sosial yang tidak jarang menampilkan konten-konten atau aktivitas yang mengabaikan budaya rasa malu. Seperti konten berbuat asusila, bertindak tidak senonoh, berkata kotor atau jorok, berpenampilan tidak sopan, dan berjoget-joget yang mengandung pornoaksi di berbagai platform digital.

Kedua selain rasa malu diperlukan juga karakter jujur. Sebagaimana dalam potongan ayat dalam Surat Al-Baqarah: 30, (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”.

Tugas manusia diciptakan adalah sebagai khalifah. Adapun istilah khalifah ini menunjukkan bahwa peran manusia adalah sebagai pemimpin. Sedangkan menjadi seorang pemimpin harus menjadi teladan dalam berkarakter baik.

Mengutip dalam teori kepemimpinan, misalnya pendapat yang disampaikan oleh Dr. Khoiruddin Bashari (salah seorang aktivis Muhammadiyah), bahwa konsep kepemimpinan jika diperas, intinya adalah human relation atau hubungan baik antar sesama. Sedangkan hubungan antar sesama jika diperas kata kuncinya adalah komunikasi.

Adapun komunikasi jika diperas kata kuncinya adalah kejujuran. Kesimpulannya, menjalankan tugas kekhalifahan atau kepemimpinan harus dimulai dari karakter kejujuran ini. Menjadi seorang pemimpin harus memiliki karakter jujur. Sebagaimana teladan kenabian dan teladan dari para tokoh founding fathers bangsa ini. Pemimpin pembohong hanya akan menghadirkan kedzaliman.

Semua bermula dari sesuatu yang terdapat di dalam hati (iman dan takwa). Mengutip dari Prof. Sabar Narimo bahwa, apa yang ada di dalam hati akan memengaruhi apa yang ada dalam pikiran kita. Kemudian apa-apa yang kita pikirkan akan menjadi apa yang kita ucapkan.

Sedangkan apa yang kita ucapkan akan menjadi pemandu laku dari apa yang kita kerjakan. Apa dan bagaimana yang kita kerjakan, di sanalah terletak karakter dan kepribadian kita (personality).

Kebiasaan yang kita lakukan inilah karakter dan kepribadian. Bahkan terdapat sabda lain dari Rasulullah yang pernah mengatakan, bahwa kondisi seseorang ketika meninggal dan dibangkitkan juga sesuai dengan kebiasaan mereka (habbit). "Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya". Hal ini sesuai dengan redaksi hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim nomor 2878.

Jika masalah pendidikan ialah lemahnya moralitas atau adab, maka solusinya adalah hadirkan kembali pendidikan berbasis karakter. Adapun karakter yang terutama harus dikembalikan adalah budaya malu dan kejujuran. Karena budaya malu dapat mencegah individu dari perbuatan keji, tercela, asusila dan tidak senonoh serta kriminalitas atau kejahatan.

Sedangkan karakter jujur akan mendorong atau membuat individu bersikap membuka diri (open minded) dan objektif dalam menilai diri, sehingga akan terjadi peningkatan prestasi. Selain itu, juga dapat menghasilkan beragam inovasi yang baru, dan kreativitas dalam kinerja ataupun ide-ide kemajuan dalam hidup lainnya. (*)

*) Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam-UMS

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#prodi pendidikan islam #moralitas pendidikan #Dartim Ibnu Rushd #universitas muhammadiyah surakarta #UMS #dosen