Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Adab yang Disalahpahami

Nur Pramudito • Selasa, 14 Oktober 2025 | 16:12 WIB
Asst. Prof. Dr. Agus Hendriyanto, M.Pd, Dosen dan Peneliti Universitas Nusa Putra,  Manager PT NUTRAL, Santri Pondok Pesantren Al Muayyad Surakarta (2006-2017)
Asst. Prof. Dr. Agus Hendriyanto, M.Pd, Dosen dan Peneliti Universitas Nusa Putra, Manager PT NUTRAL, Santri Pondok Pesantren Al Muayyad Surakarta (2006-2017)

Oleh Asst. Prof. Dr. Agus Hendriyanto, M.Pd *)

RADARSOLO.COM - Kita hidup di zaman yang serba cepat menilai, namun jarang mau memahami.

Sebuah tayangan televisi baru-baru ini menampilkan sindiran terhadap kehidupan santri—tentang jalan jongkok di hadapan kyai, kerja bakti yang disebut roan, dan amplop yang dibawa untuk sang guru.

Bagi sebagian orang kota yang jauh dari dunia pesantren, semua itu mungkin tampak lucu.

Tetapi di balik tawa yang ringan itu, ada sesuatu yang terluka: adab, makna, dan ingatan tentang kebudayaan.

Tradisi jalan jongkok bukan sekadar gestur tubuh. Ia adalah bahasa diam dari jiwa yang tahu menempatkan diri.

Dalam dunia pesantren, menunduk di hadapan guru adalah cara tubuh mengingatkan akal agar tidak sombong.

Ilmu, bagi para santri, bukan hasil dari logika semata, tetapi anugerah yang turun bersama keikhlasan.

Maka, sikap hormat kepada guru bukanlah sisa feodalisme, melainkan bentuk kesadaran spiritual: bahwa pengetahuan sejati tidak mungkin tumbuh di tanah kesombongan.

Menariknya, tradisi ini bukan hanya milik pesantren. Di keraton Jawa, orang berjalan jongkok di hadapan raja sebagai wujud tata krama dan pengendalian diri.

Di Jepang, membungkuk adalah penghormatan yang penuh makna. Di berbagai peradaban Timur, menunduk adalah tanda bahwa manusia mengakui ada sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya.

Itulah yang kini jarang kita temukan dalam masyarakat modern: kemampuan untuk menunduk dengan hati yang sadar.

Pesantren, dengan segala kesederhanaannya, justru menjadi penjaga nilai itu.

Di sana, kerja bukan sekadar tugas, tapi ibadah. Roan—kerja bakti yang dilakukan santri—adalah simbol dari manusia yang sadar bahwa kebersihan dan keteraturan bukan urusan pribadi, melainkan tanggung jawab bersama.

Para santri belajar tentang kehidupan bukan dari teori, tetapi dari sapu, ember, dan tanah.

Dalam peluh kerja kolektif, mereka memahami bahwa spiritualitas bukan hal yang jauh di langit, melainkan hadir di tanah tempat kaki berpijak.

Sayangnya, di zaman modern, keheningan nilai sering kalah oleh kegaduhan simbol.

Tradisi yang penuh makna ditertawakan karena tak sesuai dengan ukuran efisiensi.

Kita menilai apa yang kita lihat, tetapi jarang berusaha memahami apa yang hidup di baliknya.

Dalam istilah penelitian kualitatif, cara pandang semacam ini disebut etic—melihat dari luar, dengan kategori kita sendiri.

Sementara pesantren hanya dapat dipahami melalui pendekatan emic—masuk ke dalam kehidupannya, merasakan napasnya, dan memahami logikanya dari dalam.

Menilai santri tanpa memahami dunia santri adalah bentuk kesalahan epistemik: kita ingin mengerti, tetapi enggan mengalami.

Sebagaimana dalam filsafat pengetahuan, pemahaman sejati selalu lahir dari perjumpaan, bukan jarak. Tidak ada kebenaran yang bisa ditemukan hanya dengan mengamati dari luar pagar.

Kyai, dalam pandangan pesantren, bukan hanya pengajar, tetapi penjaga cahaya.

Ketika santri mencium tangan kyai atau memberikan amplop, maknanya bukan pada benda, tetapi pada rasa: penghargaan terhadap ilmu, cinta terhadap guru, dan kesadaran bahwa pengetahuan adalah relasi moral

Di masa ketika relasi manusia kian impersonal, tindakan sederhana itu justru menyelamatkan makna kemanusiaan.

Media modern, tentu, memiliki peran besar dalam membentuk persepsi publik.

Tetapi di negeri yang berlapis tradisi seperti Indonesia, tugas media tidak berhenti pada penyampaian informasi.

Ia juga memikul tanggung jawab etis: menjaga kepekaan terhadap nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat. Setiap simbol budaya mengandung jiwa yang harus dihormati, bukan dijadikan bahan olok-olok.

Mungkin inilah paradoks zaman kita: manusia kian bebas berbicara, tetapi makin jarang menimbang makna kata.

Kita mudah tertawa atas sesuatu yang tak kita pahami, dan dalam tawa itu, kita kehilangan kehalusan rasa yang dulu menjadi ciri bangsa ini.

Pesantren mengajarkan sesuatu yang tak lagi diajarkan di banyak sekolah: seni menundukkan diri di hadapan ilmu, dan kemampuan untuk menghormati yang lebih tua bukan karena takut, tetapi karena cinta.

Dari sikap sederhana itu lahir generasi yang mengerti arti rendah hati, sabar, dan hormat—tiga kata yang mungkin terdengar kuno, tetapi justru menopang keberadaban.

Maka, sebelum kita menertawakan santri yang berjalan jongkok, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: kapan terakhir kali kita menundukkan kepala bukan karena kalah, tetapi karena sadar bahwa di hadapan ilmu, kita hanyalah murid yang sedang belajar memahami hidup?

Kemajuan tidak diukur dari seberapa tinggi kita berdiri, melainkan dari seberapa dalam kita mau menunduk—seperti bumi yang rendah namun menumbuhkan kehidupan.

Di situlah pesantren, dan juga kebudayaan kita, sedang mengajarkan sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh tayangan singkat, tetapi hanya bisa dimengerti oleh hati yang mau mendengar dalam diam.(*)

*) Dosen dan Peneliti Universitas Nusa Putra,  Manager PT NUTRAL,
Santri Pondok Pesantren Al Muayyad Surakarta (2006-2017)

Editor : Nur Pramudito
#Al Muayyad Surakarta #adab #santri #pondok pesantren Al Muayyad Surakarta #Pondok Pesantren #Universitas Nusa Putra #agus hendriyanto