Oleh: Abdul Latif Ashadi*)
RADARSOLO.COM - Sekitar bulan Agustus lalu, publik sempat dihebohkan oleh berita tentang penemuan sesar aktif di Kota Semarang.
Berita ini ramai diberitakan oleh berbagai media nasional, baik cetak maupun daring.
Dalam pemberitaan tersebut disebutkan bahwa tim peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi (BRIN) melakukan ekspedisi geologi di wilayah Semarang dan menemukan sejumlah indikator morfologi serta geologi yang menunjukkan adanya struktur sesar aktif.
Informasi ini sontak menimbulkan kehebohan di kalangan masyarakat, khususnya warga Kota Semarang.
Banyak yang merasa cemas karena dalam beberapa pemberitaan disebutkan bahwa sesar aktif ini berpotensi menimbulkan gempa bumi. Kekhawatiran tersebut wajar, mengingat kata "sesar aktif" sering diasosiasikan dengan bahaya gempa yang dapat menyebabkan kerusakan.
Melalui tulisan ini kami ingin memberikan klarifikasi dan penjelasan ilmiah mengenai apa yang sebenarnya dimaksud dengan "penemuan sesar aktif" tersebut—agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang lebih tepat dan proporsional terkait kondisi geologi di Semarang.
Hal pertama dan paling penting untuk diklarifikasi adalah bahwa keberadaan sesar aktif di wilayah Semarang bukanlah temuan baru.
Informasi mengenai struktur sesar di kawasan ini sudah lama diketahui dan telah menjadi objek kajian berbagai penelitian ilmiah.
Sejumlah peneliti dari perguruan tinggi telah meneliti dan mempublikasikan hasil riset mereka tentang Sesar Semarang, jauh sebelum munculnya pemberitaan mengenai “penemuan sesar aktif” oleh tim BRIN.
Di antara penelitian tersebut antara lain karya S. Pramumijoyo (2000), S. Poedjoprajitno dkk. (2008), M Helmy (2008), Fahrudin dkk. (2011), E. Hidayat (2013), M. I. Nurwidyanto dkk. (2019), R. D. Indriana dkk. (2021), T. Yulianto dan G. Yulianto (2023), serta yang terbaru A. S. Hidayatullah dkk. (2024).
Dengan demikian, pemberitaan yang menyebutkan bahwa tim dari BRIN “menemukan” sesar aktif di Semarang beberapa waktu lalu tidaklah tepat secara faktual maupun ilmiah.
Yang lebih akurat adalah bahwa tim dari BRIN berhasil menemukan bukti tambahan serta memperkuat hasil-hasil penelitian sebelumnya melalui survei geologi darat terbaru yang mereka lakukan.
Mengenal Sesar Aktif di Semarang
Sebelum membahas lebih jauh tentang sesar aktif di Semarang, mari kita pahami dulu apa itu sesar.
Secara sederhana, sesar (fault) adalah patahan atau retakan di kerak bumi yang disertai oleh adanya pergeseran relatif (displacement) satu blok batuan terhadap blok lainnya.
Pergeseran ini terjadi akibat gaya-gaya tektonik dari dalam bumi — seperti tekanan (kompresi), tarikan (ekstensi), atau geseran (shear).
Apabila sesar tersebut masih aktif bergerak hingga masa kini atau pada periode geologi yang sangat muda (sekitar 10.000 tahun terakhir), maka sesar itu disebut sesar aktif.
Jenis sesar ini penting untuk diperhatikan karena masih berpotensi menimbulkan gempa bumi di masa mendatang.
Dalam konteks geologi regional, Kota Semarang merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki struktur geologi yang kompleks.
Hal ini disebabkan oleh letaknya yang berada di zona pertemuan antara sistem struktur geologi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Kondisi tersebut menjadikan wilayah Semarang dipengaruhi oleh berbagai jenis sesar, antara lain sesar turun (normal fault), sesar geser (strike-slip fault), dan sesar naik (reverse fault).
Sesar normal di kawasan ini umumnya berarah barat–timur dengan sebagian bidangnya melengkung ke utara, sementara sesar geser memiliki orientasi barat laut–tenggara serta utara–selatan.
Pola yang beragam ini menunjukkan bahwa aktivitas tektonik di bawah Kota Semarang masih berlangsung dinamis hingga saat ini.
Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, Sesar Kaligarang dikenal sebagai sesar aktif yang paling dominan di wilayah Semarang.
Sesar ini memanjang dari bagian selatan Kota Semarang hingga ke arah Laut Jawa di utara, dengan arah umum utara–selatan (sekitar N5°E–N185°E).
Jalurnya berasosiasi kuat dengan aliran Sungai Kali Garang, yang diduga mengikuti zona patahan tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa sesar Kaligarang termasuk jenis sesar geser (strike-slip fault) dan memiliki setidaknya tujuh segmen patahan utama yang masih menunjukkan aktivitas deformasi hingga saat ini.
Zona sesar ini juga memperlihatkan fitur geologi restraining dan releasing bend, yang menunjukkan dinamika tektonik yang masih berlangsung.
Beberapa kajian mencatat bahwa sesar ini membentang dari daerah Gajahmungkur di utara hingga Gunung Swakul di selatan, sejajar dengan lembah Kali Garang.
Penelitian yang lebih mutakhir, seperti yang dilakukan oleh M. I. Nurwidyanto dkk. (2019), menunjukkan bahwa wilayah Semarang tidak hanya dipengaruhi oleh Sesar Kaligarang, tetapi juga oleh struktur lain yang dikenal sebagai Sesar Semarang.
Hasil pemodelan tiga dimensi (3D) memperlihatkan bahwa Sesar Kaligarang berarah selatan–utara dengan kedalaman mencapai sekitar 2.500 meter.
Sedangkan Sesar Semarang terletak di sisi timur wilayah Semarang dan membentang dari Sungai Pengkol di selatan, melewati Bukit Kencana Jaya, Bulusan, Kramas, hingga ke Jurang Blimbing dan Sendang Kenongo, lalu berbelok ke arah barat melewati Trangkil–Ngesrep hingga Ngelosari–Sadeng, dengan kedalaman mencapai lebih dari 4.000 meter di bawah permukaan tanah.
Temuan ini memperkuat gambaran bahwa sistem sesar di Semarang tidak tunggal, melainkan kompleks dan saling berinteraksi, sehingga penting untuk terus dipantau dan dikaji dalam upaya mitigasi bencana gempa bumi di kawasan ini.
Apakah Sesar di Semarang Berbahaya?
Pertanyaan ini sangat penting, mengingat berita tentang “sesar aktif” sering kali langsung diasosiasikan dengan ancaman gempa besar yang menakutkan.
Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua sesar aktif memiliki tingkat bahaya yang sama. Tingkat risiko tergantung pada panjang segmen sesar, kecepatan pergerakan (slip rate), kedalaman bidang patahan, serta kondisi geologi lokal.
Salah satu penelitian terbaru oleh Indriana dkk. (2021) menunjukkan bahwa laju pergeseran batuan pada Sesar Kaligarang sebenarnya relatif sangat kecil.
Namun, jika pergeseran kecil ini terus berlangsung dan terakumulasi dalam waktu yang sangat lama, energi yang tersimpan di bawah permukaan bumi dapat meningkat. Ketika energi itu akhirnya dilepaskan, maka gempa bumi bisa terjadi.
Inilah sebabnya Sesar Kaligarang tetap dikategorikan sebagai sesar aktif, meskipun aktivitasnya terbilang rendah dan masih memerlukan penelitian lanjutan untuk memastikan tingkat bahayanya.
Secara historis, wilayah Semarang tergolong relatif aman dari gempa bumi besar.
Meski demikian, catatan dari masa kolonial Belanda menyebutkan bahwa pada 19 Januari 1856, kota ini pernah diguncang gempa dengan episentrum di daratan dengan kekuatan sekitar V–VI pada Skala Intensitas Modified Mercalli (MMI).
Skala MMI sebesar itu digambarkan sebagai gempa yang dirasakan oleh semua orang, menyebabkan benda-benda berjatuhan, bangunan semi permanen rusak, serta menimbulkan likuefaksi di beberapa lokasi. Penyebab gempa tersebut diduga berasal dari aktivitas Sesar Kaligarang, meskipun hal ini masih merupakan perkiraan (estimation) mengingat pada masa itu belum tersedia teknologi perekaman seismik yang memadai.
Perlu diketahui bahwa keberadaan sesar aktif bukanlah hal yang luar biasa di Indonesia.
Hampir semua kota besar di Pulau Jawa—seperti Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya—juga berdekatan dengan sistem sesar aktif.
Dengan demikian, persoalannya bukan pada “ada atau tidaknya sesar aktif”, melainkan pada sejauh mana kita memahami potensi risikonya dan menyiapkan langkah mitigasinya.
Oleh sebab itu, keberadaan sesar aktif di Semarang tidak perlu disikapi dengan kepanikan, melainkan dengan kewaspadaan dan pengetahuan ilmiah yang memadai.
Pemerintah daerah bersama lembaga riset perlu terus melakukan kajian mendalam dan pemantauan berkala, sementara masyarakat dapat memperkuat kesiapsiagaan bencana melalui edukasi publik, simulasi gempa, serta penerapan tata ruang yang memperhatikan aspek mitigasi bencana. Dengan cara inilah, risiko gempa dapat diminimalkan tanpa menimbulkan kekhawatiran berlebihan.(*)
*)Geofisikawan, Dosen Fakultas Geografi – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
Editor : Nur Pramudito