Oleh: Muhammad Taufiq Qurrohman*)
RADARSOLO.COM-Candidiasis memang tidak banyak dibahas di masyarakat sehingga tidak sepopuler penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri.
Masyarakat mungkin sudah banyak yang mengenal COVID-19, AIDS dan ruberkulosis namun belum banyak yang mengenal candidiasis.
Candidiasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur Candida khususnya Candida albicans.
Jamur ini sebenarnya secara alami tumbuh di kulit, mulut, saluran pencernaan, hingga organ intim khususnya wanita.
Namun infeksi dapat muncul Ketika ada kesempatan (oportunity). Untuk itulah Candidiasis juga dikelompokkan ke dalam infeksi jamur oportunistik.
Candidiasis ini dapat berupa infeksi pada mulut berupa bercak putih di lidah, bibir, gusi, langit-langit mulut, dan pipi bagian dalam.
Hal ini dapat menimbulkan rasa nyeri, perih, atau sensasi terbakar di mulut. Selain itu juga dapat menimbulkan kesulitan menelan makanan atau rasa sakit saat menelan.
Infeksi berikutnya dapat menyerang organ intim wanita (Candidiasis Vulvovaginal) menimbulkan keputihan, rasa gatal yang ekstrim, dan nyeri saat buang air kecil.
Candidiasis juga bisa menyerang kulit, menimbulkan ruam merah dan gatal di lipatan kulit.
Candida juga bisa masuk ke aliran darah (Candidemia) kemudian menyebar ke organ-organ dalam tubuh.
Laporan data penelitian Candidiasis di Indonesia memang masih terbatas.
Baca Juga: Geger 'Penemuan Sesar Aktif’ Yang Berpotensi Gempa di Semarang: Fakta Ilmiah di Balik Kehebohan
Namun, di tingkat global sudah banyak dilaporkan kasusnya terutama Candidiasis Vulvovaginal dan Candidemia.
Pada sebuah systematic review yang diterbitkan di jurnal The Lancet Infectious Diseases tahun 2018 menunjukkan bahwa sekitar 138 juta perempuan di seluruh dunia menderita Candidiasis Vulvovaginal berulang setiap tahun.
Angka ini setara dengan 3.871 kasus per 100.000 perempuan. Kondisi ini diperkirakan meningkat menjadi hampir 158 juta kasus per tahun pada 2030.
Kemudian untuk kasus Candidemia di negara maju seperti Amerika dilaporkan sekitar 25.000 kasus setiap tahun, berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2024.
Faktor yang dapat memicu kondisi infeksi bisa kita lihat dari kondisi lingkungan dan dari kondisi kekebalan tubuh seseorang tempatnya tumbuh.
Kondisi lingkungan yang dimaksud yaitu hilangnya keseimbangan mikrobia didalam tubuh.
Candida bukan satu-satunya penghuni alami tubuh manusia, ada penghuni lain yaitu bakteri.
Kondisi yang seimbang memberikan dampak yang baik dan aman bagi tubuh. Namun jika keseimbangan hilang, misalnya jumlah bakteri berkurang maka Candida akan tumbuh melebihi yang seharusnya kemudian menimbulkan infeksi.
Faktor pemicu Candida tumbuh tak terkendali dapat berupa perubahan kondisi hormonal misalnya perubahan hormonal selama kehamilan atau menjelang menstruasi, penggunaan antibiotik jangka panjang maupun pola makan yang mengandung banyak gula.
Sistem kekebalan tubuh juga memegang peran besar. Prinsipnya sama seperti yang terjadi pada infeksi virus dan bakteri.
Jika kondisi sistem kekebalan tubuh baik, maka Candida cenderung terkendali.
Sebaliknya, jika sistem kekebalan tubuh menurun maka dapat meningkatkan terjadinya infeksi.
Kondisi ini terjadi pada orang dengan HIV/AIDS, orang tua, atau orang yang mengalami kekurangan vitamin dan zat besi. Kondisi stress juga bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh.
Baca Juga: Dari Ide ke Industri: Cerita Panjang Hilirisasi Riset Indonesia
Selain itu orang yang menderita diabetes melitus dengan kadar gula darah tidak terkontrol juga memiliki risiko tinggi.
Kadar gula darah yang tinggi tersebut menjadi makanan yang mendukung jamur Candida tumbuh berlebih. Perokok aktif dan orang yang memakai gigi tiruan dengan kebersihan mulut yang tidak terjaga juga memiliki risiko Candidiasis.
Pencegahan infeksi Candidiasis dapat dilakukan dengan berbagai cara. Menjaga sistem kekebalan tubuh dengan istirahat cukup, mengelola stres, olahraga teratur, serta perbanyak konsumsi makanan bergizi.
Menerapkan pola hidup bersih dan sehat , dengan menjaga kebersihan mulut, lipatan kulit dan organ intim serta batasi konsumsi gula.
Bagi penderita diabetes, pengendalian gula darah merupakan langkah utama untuk mencegah infeksi berulang.
Bagi penderita HIV/AIDS, kepatuhan terhadap terapi antiretroviral dapat mengurangi risiko infeksi. (*)
*) Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional
Editor : Tri wahyu Cahyono