Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Pendidikan dan Pengangguran

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 26 November 2025 - 13:00 WIB
Dartim Ibnu Rushd, dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dartim Ibnu Rushd, dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.


Oleh: Dartim Ibnu Rushd*)

Menurut data terbaru Badan Pusat Data dan Statistik (BPS), jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2025 lalu mencapai 7,28 juta orang. Angka yang tidak bisa dibilang kecil untuk ukuran sebuah negara.

BPS menyebutkan data ini menunjukkan ada peningkatan sekitar 0.08 Juta orang dari tahun sebelumnya (2024) yang hanya sekitar 7,20 juta orang pada periode yang sama.

Sedangkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) berada pada kisaran angka 4,76 %. Nilai ini menunjukkan bahwa angka pengangguran di Indonesia masih bisa dikatakan tinggi.

Jumlah pengangguran terbanyak berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang mencatatkan jumlah pengangguran tertinggi.

Diikuti oleh lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), universitas, diploma, SMP, dan SD.

Data pengangguran ini menurut International Monetary Fund (IMF) diprediksi akan terus mengalami peningkatan pada rentang 5,1 % di tahun 2026 mendatang.

Di sisi lain, informasi data ketersediaan lapangan pekerjaan di Indonesia masih dikatakan sangat sedikit dan rendah.

Padahal, secara potensi lapangan kerja, banyak tersedia yang dapat menyerap lapangan pekerjaan.

Seperti sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan yang menawarkan berbagai peluang kerja cukup menjanjikan.

Apalagi negara Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan ketersediaan sumber daya laut yang melimpah.

Di samping dikenal sebagai negara agraris karena memiliki lahan sawah yang cukup luas.

Tapi sangat disayangkan beragam potensi lapangan pekerjaan pada sektor-sektor ini belum bisa dimaksimalkan atau diminati oleh para calon pekerja.

Terutama dari kalangan generasi muda yang mencakup generasi milenial dan generasi Z.

Mereka lebih baik menganggur daripada harus bekerja menjadi petani, nelayan, atau bekerja di sektor perkebunan lainnya.

Padahal jika kita cermati data-data terkait dengan ketiga sektor tersebut sebenarnya memiliki peluang yang cukup menjanjikan.

Masih menurut data BPS, di mana untuk saat ini baru terdapat pekerja di sektor-sektor tersebut yang berjumlah sekitar 29 % atau 32 juta.

Prosentasi yang kecil untuk sebuah negara denga potensi besar sektor pertanian, perkebunan dan perikanan jika dibandingkan ukuran tanah dan laut yang luas seperti di Indonesia.

Mereka yang bekerja di ketiga sektor tersebut pun bisa dibilang hanya lulusan setingkat SD atau SMP.

Sehingga pengelolaan di sektor ini juga masih sangat tradisional dan kurang maksimal dalam produktivitas.

Padahal di negera-negara maju atau negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam sektor pertanian, perkebunan dan perikanan sudah dikelola dengan sangat maju dan modern.

Kontribusi terhadap Pendapatan Daerah Bersih (PDB) sektor pertanian, perkebunan dan perikananpun juga bisa dikatakan masih sangat minim jika dibandingkan dengan potensi angka seharusnya.

Ketiga sektor tersebut hanya menyumbang 12,53 % terhadap total PDB nasional.

Di mana subsektor perkebunan yang berkontribusi paling besar hanya sebesar 3,88 %.

Diikuti oleh sektor perikanan sebesar 2,66 %, dan sektor tanaman pangan sebesar 2,26 %. (Sumber data BPS)

Baca Juga: Kemarahan Presiden dan Koordinasi Manajerial Keuangan  

Dari potensi-potensi ini kita sebenarnya memiliki banyak kesempatan untuk menghasilkan beragam lapangan kerja baru dalam ketiga sektor tersebut.

Dalam sektor pertanian misalnya, bisa menjadi petani produktif; spesialis operasi pertanian; pengembang teknologi pertanian; atau digital marketing agrikultur.

Pendidikan Antirealitas

Di sisi lain kesempatan ini juga harusnya dapat membuka potensi lapangan pekerjaan baru dengan kemampuan ilmiah modern melalui pendekatan teknologi lebih canggih.

Seperti: konsultan teknologi pertanian; ahli bioteknologi; ahli peternakan dan pengembangan hewan; ahli genetika; teknisi konservasi lingkungan dan jurnalistik agrikultur serta masih banyak lagi yang lain.

Melihat banyaknya beragam peluang lapangan kerja di atas, pertanyaannya mengapa masih banyak pengangguran di Indonesia?

Secara sosiologis, memang pengangguran menjadi salah satu masalah ekonomi yang paling serius di banyak negara, termasuk Indonesia.

Meskipun telah banyak upaya strategis oleh pemerintah mulai dari tingkat pusat hingga tingkat daerah, seperti industrialisasi untuk membuka beragam lapangan kerja baru, untuk mengatasi masalah pengangguran ini.

Tapi kenapa pengangguran masih menjadi tantangan terbesar bagi perekonomian dan masyarakat di Indonesia?

Mengutip dari laman International Labour Organization (ILO) terdapat lima faktor penyebab terjadinya pengangguran. Pertama adalah kurangnya lapangan pekerjaan.

Kedua adalah ketidakcocokan antara keterampilan dan kebutuhan pasar. Banyak lulusan dari universitas yang tidak memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan pasar.

Ketiga adalah terjadi perubahan teknologi. Terutama teknologi komunikasi dan digital. Perubahan teknologi yang cepat dapat menyebabkan banyak pekerjaan menjadi usang dan tidak relevan lagi.

Keempat adalah rendahnya kualitas pendidikan dan pelatihan. Kondisi ini berdampak pada para pekerja tidak memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pasar kerja.

Baca Juga: Krisis Netiket dan Empati Digital

Sehingga berdampak pada sulitnya mencari pekerjaan.

Terakhir yakni faktor demografis. Faktor demografis, seperti pertumbuhan penduduk yang sangat cepat, perubahan struktur usia penduduk, dan gaya hidup masyarakat, juga turut ditengarai memengaruhi tingkat pengangguran di suatu daerah.

Dalam perspektif lain, misal dalam kacamata sosioedukasi, mengutip pendapat dari Musa Asarie, kenapa terjadi tingginya pengangguran adalah dampak dari praktik pendidikan yang bertolak pada pandangan anti realitas.

Dunia pendidikan, terutama sekolah, masih mengajarkan teori-teori belaka tanpa memberikan kesempatan kreatif untuk bergumul dan memahami realitas yang ada.

Diperlukan landasan pendidikan yang tepat untuk mendialogkan antara ruang pendidikan dengan realitas masyarakat melalui pendekatan sosiologis dan kultur masyarakat setempat.

Realitas masyarakat Indonesia adalah masyarakat dengan sumber daya sawah, kebun, dan laut yang besar.

Persoalannya kenapa ruang sekolah dan pendidikan tidak fokus saja memaksimalkan beragam potensi itu dengan mengajarkan dan melatih keterampilan sesuai realitas tersebut.

Faktanya kita terlalu fokus pada sektor-sektor lain yang jauh atau “tidak banyak”, dalam realitas mayarakat Indonesia sendiri.

Oleh karena itu, jika ditanya kenapa masih banyak pengangguran di Indonesia?

Jawabannya yang benar adalah karena banyaknya generasi muda yang tidak mau bekerja.

Bukan karena tidak tersedianya lapangan pekerjaan.

Lapangan pekerjaan yang sesuai dengan realitas ke-Indonesiaan sebenarnya sangat banyak.

Mereka menganggap bahwa aktivitas yang disebut “bekerja” masih sebatas jika mereka menjadi pegawai atau pekerja.

Baca Juga: Mengembalikan Moralitas Pendidikan

Bekerja harus di kantor atau di pabrik-pabrik, tidak mau di sawah, di kebun, di ladang ataupun di laut. Inilah inti masalahnya. (*)

*) Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#pendidikan #pengangguran #Dartim Ibnu Rushd #universitas muhammadiyah surakarta #UMS #dosen prodi pendidikan agama islam