Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Di Balik Viral Penolakan: Seberapa Besar Potensi Geotermal di Gunung Lawu?

Andi Aris Widiyanto • Rabu, 3 Desember 2025 | 23:14 WIB
Abdul Latif Ashadi, Geofisikawan, Dosen Fakultas Geografi – UMS Surakarta
Abdul Latif Ashadi, Geofisikawan, Dosen Fakultas Geografi – UMS Surakarta

Oleh : Abdul Latif Ashadi

RADARSOLO.COM - Beberapa minggu terakhir, publik kembali dikejutkan oleh gelombang penolakan terhadap proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di kawasan Gunung Lawu, Karanganyar.

Penolakan kali ini datang dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, yang secara tegas menyampaikan keberatan terhadap rencana eksploitasi sumber daya panas bumi (geotermal) di wilayah tersebut.

Sikap tersebut disampaikan langsung oleh Ketua PP Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, dalam Diskusi Publik bertajuk “Geotermal: Petaka Berkedok Potensi di Karanganyar” yang digelar oleh komunitas Jaga Lawu bersama Pemuda Muhammadiyah Karanganyar.

Sementara itu, Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menegaskan bahwa Gunung Lawu tidak termasuk dalam Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP). Penegasan ini disebut sebagai wujud komitmen pemerintah dalam menjaga nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang melekat pada kawasan Gunung Lawu.

Meskipun demikian, pemerintah tetap membuka opsi untuk mengusulkan wilayah Jenawi sebagai lokasi alternatif melalui Proyek Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE) potensi panas bumi. Jenawi sendiri masih berada di lereng Gunung Lawu dan dinilai memiliki prospek sumber daya yang dapat dikaji lebih lanjut.

Di tengah pro kontra proyek energi geotermal yang sedang memanas, ada baiknya kita menelisik dan memahami secara ilmiah seberapa besar sih potensi geotermal di Gunung Lawu. Diharapkan pada akhirnya kita mampu menimbang secara adil antara manfaat dan mudarat dari proyek geotermal yang disebut menjanjikan ini.

 

Potensi Geotermal di Kawasan Gunung Lawu

Penelitian mengenai potensi panas bumi di kawasan Gunung Lawu telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Indikasi kuat adanya sistem geotermal ditunjukkan oleh kemunculan sejumlah mata air panas (hot spring) di permukaan.

Salah satu yang paling menonjol adalah fumarola Candradimuka di dekat puncak gunung yang suhunya mencapai sekitar 93 °C. Selain itu, mata air panas bertipe klorida–bikarbonat dengan temperatur 30–40 °C tersebar di bagian barat laut dan barat daya Lawu, menguatkan dugaan adanya sistem hidrotermal aktif di bawah permukaan.

Sumber panas utama sistem ini diperkirakan berasal dari intrusi magma muda Gunung Lawu. Panas tersebut ditransfer ke reservoir melalui jaringan sesar yang memotong tubuh gunung, terutama Sesar Lawu yang berorientasi utara–selatan dan berperan sebagai jalur migrasi fluida panas.

Studi geosains pendahuluan pada 2009 mencatat bahwa kawasan ini memiliki potensi panas bumi yang signifikan. Dari penelitian ini, Kementerian ESDM pada 2017 mempublikasikan estimasi sumber daya geotermal Gunung Lawu yang mencapai 137 MW. Kapasitas sebesar ini diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan listrik sekitar 150.000 hingga 200.000 rumah tangga, tergantung pola konsumsi listrik (700–900 VA per rumah).

Penelitian Qahhar dkk. (2015) menggunakan metode magnetotellurik (MT), teknik geofisika yang lazim digunakan dalam eksplorasi geotermal, mengidentifikasi lapisan beresistivitas rendah pada kedalaman sekitar 500 meter.

Lapisan ini diinterpretasikan sebagai clay cap atau lapisan penutup, yang berfungsi sebagai penyekat alami untuk menjaga agar panas dan tekanan tetap terakumulasi dalam reservoir sehingga sistem tetap stabil dan ekonomis untuk pembangkitan listrik.

Kajian Bagaskara dkk. (2021) melalui analisis geokimia menunjukkan bahwa suhu reservoir diperkirakan berada pada kisaran 250–289 °C. Rentang temperatur ini menempatkan Gunung Lawu sebagai sistem panas bumi berentalpi tinggi, tipe yang sangat ideal untuk produksi listrik berskala besar.

Penelitian lanjutan oleh Maryadi dkk. (2024) dengan data MT tiga dimensi (3D) berhasil memetakan struktur clay cap yang berpusat di bagian selatan puncak Gunung Lawu. Lapisan ini memiliki ketebalan hingga 1 km dan semakin menipis ke arah barat, yang konsisten dengan lokasi kemunculan mata air panas.

Sementara itu, Brilliandi dkk. (2025) melalui analisis gabungan data magnetik dan gravitasi mengindikasikan keberadaan reservoir panas bumi pada kedalaman sekitar 1.500 meter di sekitar zona fumarola Candradimuka. Kedalaman ini dinilai ideal sekaligus ekonomis untuk tahap pengeboran eksplorasi hingga eksploitasi.

Rangkaian temuan tersebut menunjukkan bahwa Gunung Lawu memiliki potensi geotermal yang besar, ditunjang oleh sistem panas bumi berentalpi tinggi serta dengan kedalaman reservoir ideal, sehingga sangat layak untuk dikembangkan. Atas dasar pertimbangan ilmiah tersebut, tidak mengherankan jika pemerintah sangat getol mendorong rencana pengembangan proyek panas bumi di kawasan ini.

 Duduk Bersama untuk Mencapai Kompromi

Selain memiliki potensi panas bumi yang dinilai menjanjikan, kawasan Gunung Lawu juga menyimpan deretan situs sejarah dan budaya penting di lerengnya. Candi Cetho dan Candi Sukuh—dua peninggalan Hindu abad ke-15—menjadi ikon utama yang merekam perjalanan panjang peradaban di kawasan ini. Tak jauh dari keduanya, terdapat pula Situs Cemoro Bulus dengan arca-arcanya yang berusia ratusan tahun.

Di luar itu, Gunung Lawu juga menaungi sejumlah lokasi yang sejak lama menjadi pusat kegiatan spiritual masyarakat, seperti Petilasan Hargo Dalem, Situs Punden Berundak, Cemoro Pogo, Sendang Rojo, hingga Segoro Gunung. Semua tempat ini bukan sekadar jejak masa lampau, melainkan ruang hidup tradisi, ritual, dan identitas budaya masyarakat setempat hingga hari ini.

Keberadaan situs-situs tersebut tidak hanya merekam jejak sejarah masa lalu, tetapi juga memainkan peran penting dalam menjaga kesinambungan tradisi dan praktik budaya komunitas sekitar. Karena itu, rencana pengembangan proyek panas bumi di kawasan Gunung Lawu menuai penolakan dari sebagian kelompok masyarakat yang khawatir akan terganggunya kelestarian situs-situs tersebut.

Dalam kondisi demikian, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mencari titik temu antara manfaat energi panas bumi dan potensi dampaknya terhadap lingkungan budaya. Diperlukan kompromi yang memungkinkan kekayaan alam Gunung Lawu dimanfaatkan secara optimal tanpa mengorbankan nilai sejarah dan spiritual yang mengelilinginya. Menyeimbangkan dua kepentingan ini menjadi kunci agar keberlanjutan lingkungan tetap terjaga, sementara warisan budaya yang telah turun-temurun dapat terus hidup di tengah masyarakat.

Editor : Andi Aris Widiyanto
#gunung lawu #Busyro Muqaddas #pp muhammadiayh #Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi