Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Ramadan 2026 Datang Lebih Awal, Rutinitas yang Tak Pernah Berubah

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 7 Januari 2026 | 19:09 WIB
Persiapan Ramadan kerap dimaknai sebagai aktivitas konsumtif yang harus dilakukan sejak jauh hari.
Persiapan Ramadan kerap dimaknai sebagai aktivitas konsumtif yang harus dilakukan sejak jauh hari.

Oleh: Aurani Rahma*) 

RADARSOLO.COM- Fenomena ini menunjukkan bahwa menyambut Ramadan bukan hanya persoalan ibadah personal, tetapi juga proses sosial yang dibentuk melalui komunikasi.

Salah satu teori komunikasi yang relevan untuk membaca kondisi ini adalah Teori Agenda Setting, yang diperkenalkan oleh McCombs dan Shaw.

Teori ini menjelaskan bahwa media memiliki peran besar dalam menentukan isu apa yang dianggap penting oleh masyarakat melalui intensitas dan konsistensi pemberitaan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa agenda media sangat berpengaruh terhadap fokus
perhatian publik.

McCombs dan Shaw (1972) dalam studi klasiknya menemukan bahwa isu yang sering ditonjolkan media akan dianggap lebih penting oleh masyarakat.

Dalam konteks Ramadan, hal ini terlihat dari pola pemberitaan yang hampir selalu sama setiap tahun.

Persiapan puasa, harga bahan pokok, konsumsi rumah tangga, hingga perubahan pola hidup selama Ramadan.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa menjelang Ramadan dan
Idulfitri, terjadi peningkatan konsumsi rumah tangga secara signifikan, terutama pada sektor
makanan dan minuman.

Fakta ini sejalan dengan agenda media yang gencar membahas kebutuhan Ramadan, promo belanja, dan persiapan logistik rumah tangga.

Akibatnya, persiapan Ramadan kerap dimaknai sebagai aktivitas konsumtif yang harus dilakukan sejak jauh hari.

Agenda media tersebut secara tidak langsung membentuk kebiasaan masyarakat Indonesia.

Membersihkan rumah, menyiapkan kebutuhan dapur, mengatur ulang jadwal kerja dan belajar,
hingga mulai mengurangi aktivitas tertentu menjadi rutinitas yang terus berulang.

Karena isu-isu ini selalu muncul di media, masyarakat menganggapnya sebagai bagian penting dari menyambut Ramadan.

Bagi generasi muda dan mahasiswa, agenda setting media semakin kuat melalui media digital.

Penelitian dari We Are Social dan Hootsuite menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat
Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam per hari di media sosial.

Intensitas ini membuat konten Ramadan mulai dari pengingat puasa, jadwal imsak, hingga pesan reflektif mudah membentuk persepsi dan kebiasaan, bahkan sebelum Ramadan dimulai.

Namun, agenda yang dibangun media tidak selalu menekankan aspek spiritual.

Studi dalam Jurnal Komunikasi Islam mencatat bahwa pemberitaan Ramadan di media cenderung lebih dominan mengangkat sisi konsumsi dan gaya hidup dibandingkan nilai refleksi dan ibadah.

Hal ini membuat persiapan Ramadan sering kali lebih fokus pada kesiapan materi daripada
kesiapan batin.

Ramadan 2026 menjadi momen penting untuk kembali melihat bagaimana agenda media
memengaruhi cara masyarakat mempersiapkan diri.

Media memiliki kekuatan besar untuk mengarahkan perhatian publik, sehingga isu yang diangkat seharusnya tidak hanya berputar pada konsumsi, tetapi juga pada nilai kesederhanaan, empati, dan refleksi diri.

Di sisi lain, pemahaman terhadap agenda setting membuat masyarakat lebih kritis dalam
memaknai persiapan Ramadan.

Tradisi tetap dijalankan dan kebiasaan sosial tetap dirawat, tetapi tidak kehilangan makna.

Dengan begitu, Ramadan tidak hanya hadir sebagai rutinitas tahunan yang dibentuk media, melainkan sebagai momen yang benar-benar disiapkan secara sadar dan bermakna. (*)

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro

Editor : Tri wahyu Cahyono
#jadwal #ibadah #Ramadan 2026 #rutinitas #konsumtif #spiritual #refleksi