Oleh: Sigit Haryanto, Pemerhati Pendidikan Tinggi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
RADARSOLO.COM - Di era digital yang serba cepat ini, banyak hal berubah dalam kehidupan kita, termasuk cara belajar dan menyelesaikan tugas-tugas akademik. Salah satunya adalah fenomena yang belakangan marak di media sosial, khususnya di platform TikTok. Di mana banyak mahasiswa mencari jalan pintas dalam menyelesaikan skripsi atau tesis.
Mahasiswa tidak sekadar mencari bimbingan, tetapi juga membeli layanan yang menawarkan berbagai macam alat bantu untuk mempercepat proses penulisan tugas akhir. Fenomena ini tentu menarik perhatian.
Dalam berbagai obrolan grup WhatsApp (WA) dan video live di TikTok, banyak mahasiswa berterima kasih kepada "master AI" atau pengelola yang menawarkan berbagai layanan platform AI dan prompt (perintah) untuk menyelesaikan tugas akhir. '
Layanan ini termasuk alat bantu seperti Perplexity, Canva, Jenni AI, Quillbot, Turnitin, dan lain-lain, yang semuanya dijual dengan harga relatif terjangkau, bahkan hanya Rp 50 ribu per bulan.
Para pengelola tidak hanya menjual alat-alat bantu, tetapi juga memberikan bimbingan langsung dalam bentuk video atau live session yang membahas berbagai aspek penulisan skripsi dan tesis. Mulai dari penentuan topik, pembuatan latar belakang, metode penelitian, hingga olah data dan pembuatan artikel.
Namun, di balik ini, ada beberapa pertanyaan besar yang perlu dijawab. Apakah jalan pintas ini menguntungkan mahasiswa dalam jangka panjang? Apakah penggunaan teknologi AI dalam penulisan akademik mengancam integritas akademik? Ataukah ini hanya bagian dari perubahan dinamika yang tak terhindarkan?
Antara Bimbingan dan Jalan Pintas
Pertama, perlu dipahami bahwa bimbingan dalam penulisan skripsi atau tesis adalah bagian integral dari proses akademik. Sebagai mahasiswa, tugas akhir bukan sekadar kewajiban untuk lulus, tetapi juga kesempatan mengasah keterampilan penelitian dan berpikir kritis.
Biasanya, mahasiswa akan memulai dengan pemilihan topik, menyusun latar belakang masalah, memilih metode penelitian, dan mengolah data yang dikumpulkan. Semua tahapan ini butuh waktu, dedikasi, dan, pemahaman mendalam tentang materi yang diteliti.
Banyak kasus mahasiswa terjebak dalam kebuntuan, karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan sekaligus. Bimbingan dari dosen atau pembimbing sering tidak selalu tersedia sesuai harapan. Entah karena keterbatasan waktu atau jadwal padat.
Di sinilah layanan-layanan seperti ditawarkan para pengelola AI di medsos hadir untuk mengisi kekosongan. Mereka menawarkan berbagai alat bantu menyelesaikan tugas akhir dengan lebih cepat dan mudah.
Mengancam Integritas Akademik
Meski layanan seperti ini menawarkan kemudahan, ada potensi besar bahwa penggunaan jalan pintas dapat mengancam integritas akademik. Salah satunya, kekhawatiran mahasiswa terlalu mengandalkan alat bantu tanpa melibatkan proses berpikir dan penelitian mendalam.
Tantangan lain, yakni terkait etik. Misalnya, mahasiswa menggunakan AI untuk menghasilkan teks yang lebih baik. Namun, teks tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan pemikiran mahasiswa. Maka, ini bisa dianggap bentuk plagiat atau pemalsuan karya.
Banyak pengelola AI menawarkan bantuan mengerjakan tugas akhir, dengan menjual prompt atau alat bantu, tanpa memerhatikan mahasiswa bersangkutan benar-benar terlibat dalam proses penulisan atau tidak. Ini perlu menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan.
Adakah Alternatif Lebih Sehat?
Tidak dipungkiri, kita berada di tengah gelombang perubahan yang tak terhindarkan dalam dunia pendidikan. Teknologi, termasuk AI, memiliki potensi besar untuk mempercepat proses belajar dan membantu mahasiswa dalam mengatasi tantangan. Namun, kita harus menemukan cara sehat dan berkelanjutan untuk mengintegrasikan teknologi AI ke dalam pendidikan.
Salahnya memanfaatkan AI sebagai alat bantu proses belajar, bukan pengganti kerja keras mahasiswa. AI bisa dipakai untuk membantu mahasiswa mencari referensi, memeriksa tata bahasa, atau bahkan memberikan umpan balik awal tentang draf tulisan.
Namun, mahasiswa tetap harus terlibat aktif dalam penelitian dan penulisan. Mereka harus memahami, bahwa tugas akhir adalah kesempatan menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan penelitian mendalam.
Selain itu, perguruan tinggi dan dosen perlu membimbing dengan efektif dan lebih intensif ke mahasiswa. Dengan ini, mahasiswa tidak akan merasa terisolasi atau kebingungan dalam proses penulisan tugas akhir.
Pembimbing bisa membantu mahasiswa memilih topik yang tepat, memberikan arahan dalam analisis data, serta mengajarkan cara berpikir kritis dan menyusun argumen dengan baik.
Fenomena penggunaan AI dalam penulisan skripsi dan tesis ini menunjukkan, bagaimana teknologi telah merambah dunia pendidikan tinggi. Meskipun menawarkan banyak keuntungan, kita juga harus waspada terhadap dampak negatifnya bagi integritas akademik dan kualitas pendidikan.
Teknologi seharusnya jadi alat memperkaya proses belajar, bukan menggantikan usaha keras dan pemikiran kritis mahasiswa. Kita harus mendukung perkembangan teknologi yang memperbaiki proses pendidikan, tetapi juga harus menjaga nilai-nilai akademik dan integritas dalam setiap langkah.
Jangan sampai tergoda jalan pintas yang mengabaikan esensi dari pendidikan itu sendiri. Teknologi harus membantu, bukan menggantikan peran penting mahasiswa sebagai pembelajar yang aktif dan kreatif. (*)
Editor : fery ardi susanto