Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Technopreneurship di Ruang Kampus: Asah Bakat, Tumbuhkan Kemandirian

fery ardi susanto • Selasa, 20 Januari 2026 | 06:05 WIB
Photo
Photo

Oleh: Prof. Dr. Ir Suranto S.T., M.M., M.Si., Guru Besar Bidang Ilmu Technopreneurship UMS

RADARSOLO.COM - Technopreneurship di perguruan tinggi hadir untuk mengembangkan bakat dan potensi mahasiswa secara holistik, melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu berinovasi, berkreasi, dan berwirausaha secara mandiri. Tujuan ini sejalan dengan nilai-nilai Alquran yang menegaskan bahwa setiap manusia dianugerahi potensi, akal, dan keunikan sebagai amanah untuk dikelola secara produktif.

Perguruan tinggi melalui inkubator bisnis berbasis teknologi (technopreneurship) diarahkan tidak hanya mencetak pencari kerja, tetapi pencipta lapangan kerja yang berakhlak, adaptif, dan berdaya saing (Muhammad, 2023; Saputra, 2021; Mustain et al., 2022).

Technopreneurship juga menjadi sarana integrasi antara pendidikan akademik, vokasi, dan spiritual. Sehingga lulusan vokasi tidak hanya kompeten secara teknis (hard skills), tetapi juga memiliki soft skills, etos kerja, karakter mandiri, serta orientasi kemaslahatan umat (Rahayu et al.,2025; Ardhana et al., 2025). Dengan demikian, tujuan utamanya adalah melahirkan sumber daya insani yang mampu mengelola teknologi sebagai alat ibadah, inovasi, dan kesejahteraan sosial.

Urgensi di Perguruan Tinggi

Urgensi technopreneurship di perguruan tinggi semakin kuat di tengah tingginya pengangguran lulusan, kesenjangan kompetensi dengan dunia usaha dan industri (DUDI), serta disrupsi teknologi di era digital dan industri 4.0 serta civil society 5.0. Data menunjukkan lulusan SMK dan vokasi masih mendominasi angka pengangguran akibat mismatch antara kurikulum, keterampilan, dan kebutuhan industri.

Inkubator technopreneurship hadir di antara berbagai solusi strategis, untuk menjembatani dunia akademik dengan dunia kerja dan industri. Inkubator memungkinkan mahasiswa belajar melalui praktik nyata (learning by doing), pendampingan berkelanjutan, serta hilirisasi riset menjadi produk atau layanan bernilai ekonomi (Sutrisno, 2023; Ihsan, 2023; Suranto et al. 2023; Cahyani et al., 2025; Fratiwi et al., 2024).

Harapan Pengembangan

Harapan utama dari pengembangan technopreneurship di perguruan tinggi adalah, terwujudnya ekosistem inovasi yang mampu melahirkan startup teknologi yang beretika, berkelanjutan, dan berdampak sosial (Agustian et al., 2024; Iswardhany, 2018; Paramitasari et al., 2024). Inkubator diharapkan menjadi laboratorium pembelajaran, riset terapan, serta pusat pengembangan karakter technopreneur yang visioner, kreatif, tangguh, dan bertanggung jawab.

Selain itu, technopreneurship diharapkan mendorong lulusan menjadi individu mandiri secara ekonomi, memiliki pilihan karier luas (bekerja, melanjutkan studi, atau berwirausaha/BMW), serta berkontribusi aktif dalam pembangunan nasional (Agustian et al., 2024; Nola, 2024; Lestari & Nugroho, 2015). Harapan lainnya adalah, terwujudnya integrasi nilai-nilai keislaman dalam praktik bisnis, sehingga technopreneur tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga keberkahan, keadilan, dan kemaslahatan semesta.

Kontribusi bagi Keilmuan dan Pembangunan

Secara ilmiah, technopreneurship berkontribusi memperkaya kajian kewirausahaan berbasis teknologi, mengembangkan model pembelajaran experiential learning, serta memperkuat relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan zaman.

Secara sosial-ekonomi, technopreneurship berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja baru, penguatan ekonomi digital, dan transformasi Indonesia dari negara konsumen menuju produsen. Dengan fondasi nilai Alquran dan keteladanan sejarah kewirausahaan para nabi, technopreneurship di perguruan tinggi menjadi instrumen strategis untuk membangun generasi unggul, mandiri, berakhlak mulia, serta mampu mencerahkan dan memakmurkan kehidupan bangsa (Muhammad, 2023; Saputra, 2021; Mustain et al., 2022).

Technopreneurship di perguruan tinggi diharapkan mampu mengembangkan bakat dan potensi mahasiswa melalui inkubator bisnis berbasis teknologi agar mandiri, inovatif, dan berdaya saing. Urgensinya tentu menjawab pengangguran, skill mismatch, dan disrupsi digital, sehingga ke depan melahirkan startup yang beretika, pencipta kerja, dan ekonomi berkelanjutan, tentu dapat berkonstribusi memperkaya keilmuan, pembelajaran aplikatif, juga pertumbuhan ekonomi berbasis nilai, bermanfaat mencerahkan semesta untuk anak bangsa. (*)

Editor : fery ardi susanto
#Guru Besar UMS #ums bicara #technopreneurship