Oleh: Prof. Dr. Umi Budi Rahayu, SST.FT., Ftr., M.Kes., Guru Besar Bidang Kepakaran Fisioterapi Neuromuscular UMS
STROKE merupakan penyebab kedua kematian setelah penyakit jantung iskemik, dan penyebab kecacatan yang utama di seluruh dunia (Donnan et al., 2008). Stroke juga penyebab kematian nomor tiga di negara-negara berkembang (WHO Global Burden of Disease Report).
Data kematian akibat stroke mencapai 5,51 juta jiwa dan dua pertiganya terjadi di negara berkembang pada 2002, dan menjadi penyebab utama terjadinya kecacatan sepanjang hidup pasien (Stein et al., 2009).
Angka kejadian stroke, lebih dari 80 persen adalah stroke iskemik. Stroke iskemik diawali dengan hilang atau berkurangnya suplai oksigen dan glukosa ke otak, serta perubahan metabolisme seluler karena gangguan produksi energi. Akibatnya, terjadi gangguan hemodinamik aliran darah.
Neurorestorasi merupakan suatu upaya untuk memulihkan lesi saraf berdasarkan mekanisme regenerasi saraf. Regenerasi saraf terjadi dengan meningkatnya proses neurogenesis, angiogenesis, dan oligodendrogenesis sebagai upaya perbaikan saraf (Chen et al., 2014).
Neurorestorasi didasarkan pada neurofisiologi terapan, neurobiologi klinis, dan neurologi fungsional. Salah satu pendekatan neurorestorasi adalah penerapan pembelajaran motorik yang dilakukan oleh fisioterapis.
Pembelajaran motorik dideskripsikan sebagai sebuah proses yang diasosiasikan dengan kegiatan praktik atau pengalaman, yang berperan mengubah secara permanen dalam kemampuannya memproduksi aksi yang terampil.
Pembelajaran ini tidak lepas dari prinsip kontrol motor. Kontrol motor adalah kemampuan untuk mengatur atau esensi mekanisme untuk mencetuskan gerakan.
Struktur yang mengalami perubahan selama pembelajaran motorik, yakni plastisitas saraf dan plastisitas otot. Yaitu kemampuan memperlihatkan modifikasi atau perubahan, melalui reorganisasi struktur dan fungsional meliputi supersensitivity denervation, collateral sprouting, dan sinapsis.
Rangsangan pembelajaran motorik yang diberikan berulang-ulang, merupakan pembelajaran neural cortical untuk membangkitkan reaksi asosiasi. Karena neuron cortical merupakan sistem yang menggerakkan motor, sehingga dicapai perubahan gerakan fungsional yang tepat.
Dasar teori neurofisiologi menjadi sesuatu yang penting, karena telah diketahui bahwa adanya cedera pada sistem saraf memungkinkan terjadinya perbaikan fungsional dan struktural yang luar biasa, baik pada axon, dendrit, maupun kontak sinapsis (Ojakangas et al., 2006).
Saya telah mendesain neurorestorasi dan telah memformulasikan dalam Pedoman TIDIeR melalui pembelajaran motorik. Berupa latihan-latihan yang dilakukan secara urut, terstruktur, dan sistematis dalam 1-2 hari pasca serangan stroke (kondisi sudah memungkinkan).
Baca Juga: Dinamika Skripsi di Era Digital: Antara Bimbingan dan Jalan Pintas
Jenis latihan ini memuat latihan keseimbangan, terutama untuk stimulasi gerakan dan latihan kontrol postural. Latihan pembelajaran motorik dengan Pedoman TIDIeR juga didesain dan dilakukan melalui tahapan, kognitif, asosiatif, dan otomatis (Fitts & Posner dalam Taylor, 2015).
Salah satu hasil studi saya, menguji neurorestorasi dengan pembelajaran motorik dalam Pedoman TIDIeR menunjukkan peningkatan ekspresi BDNF. Terbukti efektif meningkatkan keseimbangan dan kemampuan fungsional (sudah menjadi Buku Fisioterapi Pasca Stroke: Pendekatan Pembelajaran Motorik, ISBN: 978-634-01-0446-2, Penerbit Deepublish), yang diberikan di fase early mobilization (1-2 × 24 jam pasca serangan stroke iskemik). Tentunya dengan latihan bertahap, terstruktur, dan sistematis melalui tahapan kognitif, asosiatif, dan otomatis.
Neurorestorasi dengan pembelajaran motorik yang telah saya kembangkan, berbanding lurus dalam memengaruhi efek perbaikan keseimbangan dan kemampuan fungsional pasca stroke. Ini menunjukkan adanya kontrol postur yang semakin baik, yang dikendalikan oleh otot-otot postural dan otot-otot besar pada semua ekstremitas/anggota gerak.
Mengingat keseimbangan merupakan hal penting yang harus dikuasai pasca stroke, riset neurorestorasi saya kembangkan dengan membuat inovasi produk alat untuk mengoptimalkan kemampuan fungsi motoriknya, yakni Personal Balance Feedback (PBF).
PBF dirintis sejak 2022, yang saya kembangkan bersama kolega Ir. Bana Handaga, M.T., Ph.D., serta Nurgiyatna, S.T., M.Sc., Ph.D. Serta melibatkan sejawat Dewi Suci Mahayanti, Ftr, M.Fis., dari RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta.
PBF merupakan alat deteksi keseimbangan dan latihan keseimbangan pasca stroke yang sederhana, mudah digunakan, bisa dibawa kemana-mana, dan akurat. Deteksi keseimbangan dilakukan dengan pemeriksaan keseimbangan beban tumpuan kedua kaki dan goyangan badan, saat berdiri selama 15 detik. Sedangkan latihan keseimbangan dilakukan dengan mengendalikan respon tubuh sesuai kemampuan keseimbangan yang disajikan dalam monitor secara real time.
Prototipe alat ini sudah mendapatkan sertifikat paten sederhana dengan Nomor Paten IDS000011305, untuk invensi dengan judul Alat Deteksi dan Terapi Gangguan Keseimbangan Pasca Stroke.
PBF terdiri dari timbangan pintar yang didalamnya terdapat sensor tumpuan berat badan, sabuk sensor yang didalamnya terdapat sensor untuk mendeteksi goyangan badan, serta alat penyangga keselamatan pasien. PBF juga sudah mendapatkan paten sederhana dengan Nomor Paten IDS000010233, untuk invensi dengan Judul Personal Balance Feedback.
PBF telah diuji validitas pada pasien pasca stroke di beberapa rumah sakit. Hasilnya menunjukkan koefisien korelasi sangat kuat. Baik sebagai alat untuk mengukur dan melatih keseimbangan tumpuan berat badan, maupun goyangan badan pasca stroke. (*)
Editor : fery ardi susanto