GURU adalah jantung sekolah. Ketika guru menghadapi persoalan, baik yang berkaitan dengan tugas maupun kehidupan pribadi, denyut sekolah ikut terasa melambat. Tidak sedikit permasalahan guru berawal dari urusan keluarga yang kemudian berpengaruh pada kinerja, emosi, dan interaksi di sekolah. Dalam situasi seperti ini, pendekatan formal semata sering kali tidak cukup. Diperlukan sentuhan yang lebih manusiawi, salah satunya melalui pendekatan keluarga.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa guru merupakan tenaga profesional yang memegang peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, di balik peran profesional tersebut, guru tetaplah manusia biasa yang memiliki persoalan hidup. Karena itu, pendampingan guru tidak seharusnya hanya berfokus pada administrasi dan penilaian kinerja, tetapi juga pada aspek kemanusiaan.
Pendampingan guru melalui pendekatan keluarga dilakukan dengan cara yang sederhana, dimulai dari komunikasi yang hangat dan terbuka. Kepala sekolah berupaya membangun ruang dialog yang aman bagi guru untuk bercerita tanpa rasa takut dihakimi. Percakapan ringan, pertemuan informal, hingga diskusi personal menjadi pintu masuk untuk memahami akar permasalahan yang dihadapi guru.
Dalam kondisi tertentu, pendekatan keluarga dilakukan dengan melibatkan pihak keluarga guru secara terbatas. Langkah ini bukan untuk mencampuri urusan pribadi, melainkan untuk membangun pemahaman bersama antara sekolah dan keluarga. Kepala sekolah berperan sebagai jembatan, membantu menciptakan dukungan emosional agar guru tidak merasa sendirian menghadapi masalah. Pendekatan ini dilakukan dengan tetap menjaga etika, kerahasiaan, dan profesionalisme.
Peran kepala sekolah dalam pendampingan guru sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa kepala sekolah memiliki fungsi manajerial dan pembinaan terhadap guru. Artinya, pembinaan tidak selalu harus bersifat formal, tetapi dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih empatik dan kontekstual.
Pendampingan dengan pendekatan keluarga terbukti memberikan dampak positif. Guru yang semula terlihat kurang bersemangat perlahan kembali menemukan motivasi. Kedisiplinan dan tanggung jawab meningkat, hubungan kerja menjadi lebih harmonis, dan suasana sekolah terasa lebih hangat. Guru merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar pelaksana tugas.
Lebih dari itu, pendekatan ini turut membangun budaya sekolah yang peduli dan saling menguatkan. Sekolah tidak hanya menjadi tempat bekerja, tetapi juga ruang tumbuh bersama. Ketika guru merasa didukung, mereka akan lebih siap mendampingi dan menguatkan peserta didik.
Pendampingan guru melalui pendekatan keluarga menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah bukan hanya soal kebijakan dan target, tetapi juga tentang kepekaan dan empati. Dengan pendekatan yang humanis, sekolah dapat terus bergerak maju tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama pendidikan. (*)
Ditulis: Mitasari Widyaningsih, M.Pd.
SDN 2 Logede, Klaten
Editor : Niko auglandy