Oleh
Astrid Widayani
Wakil Wali Kota Solo
RADARSOLO.COM - Solo bukan sekadar titik koordinat di peta Jawa Tengah. Ia adalah sebuah narasi panjang yang terus bersalin rupa. Sejak perpindahan keraton dari Kartasura ke Desa Sala pada 17 Februari 1745, kota ini telah melewati berbagai fragmen zaman—dari kemegahan kerajaan, getirnya kolonialisme, hingga dentum semangat pembangunan pasca-kemerdekaan.
Kini, menapaki usia ke-281, Solo berdiri di persimpangan jalan yang menantang. Tema "Berbudaya, Pradaya, dan Sejahtera" bukan sekadar slogan di atas spanduk perayaan, melainkan sebuah kontrak sosial bagi masa depan.
Memasuki usia hampir tiga abad, Solo menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Modernitas yang kencang menuntut Solo untuk tetap relevan tanpa kehilangan jiwanya.
Pertama, adaptasi digital. Bagaimana "Pradaya" (pemberdayaan) diterjemahkan ke dalam birokrasi yang lincah dan melek teknologi agar pelayanan publik tak lagi terhambat jarak dan waktu.
Kedua, ketahanan budaya. Di tengah gempuran budaya global, tantangannya adalah menjadikan tradisi bukan sebagai benda museum yang statis, melainkan gaya hidup yang dinamis bagi generasi muda.
Ketiga, ruang terbatas. Sebagai kota yang padat, tantangan Solo ke depan adalah bagaimana menata ruang publik yang tetap asri dan manusiawi bagi setiap warganya.
Sejahtera bukan hanya soal angka pertumbuhan ekonomi atau megahnya infrastruktur pusat kota. Sejahtera yang sesungguhnya adalah kesejahteraan holistik yang terasa hingga ke gang-gang sempit di pelosok kampung.
Melalui program Asta Cita Surakarta—seperti Posyandu Plus dan UMKM Center—Solo sedang berupaya membuktikan bahwa kemajuan tidak boleh meninggalkan siapapun. Namun, pembangunan fisik saja tidak cukup. Kita butuh pembangunan mentalitas Solo yang ramah untuk semua.
"Kota yang hebat bukanlah kota yang hanya melayani mereka yang kuat, melainkan kota yang memeluk mereka yang renta, ramah bagi penyandang disabilitas, dan aman bagi tumbuh kembang anak-anak."
Mencintai Solo tidak cukup dengan rasa bangga, tapi dengan aksi nyata. Mari kita jadikan peringatan ke-281 ini sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas sosial. Hargai perbedaan yang menjadi warna warni kota ini. Rawat fasilitas publik yang telah dibangun dengan semangat inklusivitas. Dukung produk lokal melalui UMKM agar roda ekonomi berputar di akar rumput.
Solo adalah warisan sekaligus amanah. Dengan semangat inovasi yang tetap berpijak pada nilai luhur, mari kita pastikan Solo tetap menjadi kota yang ngangeni, bukan hanya karena bangunannya, tapi karena kehangatan warganya yang saling melayani.
Dirgahayu Kota Solo. Berbudaya, Pradaya, Sejahtera!
Editor : Kabun Triyatno