Oleh:
Astrid Widayani
Wakil Wali Kota Solo
HADIRNYA 18.143 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Solo hingga akhir 2025, bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah denyut nadi sekaligus jantung ekonomi Kota Bengawan. Jumlah ini sesuai data Kinerja dan Pelayanan Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian Kota Solo per 31 Desember 2025.
Dari warung rumahan hingga usaha kreatif berbasis digital, UMKM menopang penghasilan ribuan keluarga dan menjadi bantalan utama ketahanan ekonomi daerah. Maka setiap kebijakan pemerintah terhadap sektor ini tak boleh salah arah. UMKM harus didorong agar naik kelas, bukan sekadar bertahan hidup.
Di titik inilah Program UMKM Center, bagian dari Asta Cita Surakarta menemukan relevansinya. Program ini tidak hanya berhenti pada seremoni, melainkan menyasar kebutuhan riil pelaku usaha: pendampingan manajemen, pelatihan digitalisasi, perluasan pangsa pasar, hingga skema “bantu jual” dan “bantu modal”.
Pendekatannya komprehensif, yakni memperkuat fondasi sekaligus membuka akses agar UMKM Solo mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Nah, peran Pemerintah Kota (Pemkot) Solo terhadap UMKM bisa dianalogikan seperti seorang ibu bagi anak-anaknya.
Pemerintah hadir mendampingi, melindungi, sekaligus membuka peluang terbaik agar para pelaku usaha tumbuh dan berkembang. Kerja sama dengan berbagai pihak ketiga, baik swasta, komunitas, maupun penyelenggara event, menjadi etalase strategis untuk memasarkan produk-produk UMKM Solo ke panggung yang lebih luas. Event dan kolaborasi bukan sekadar agenda rutin, tetapi instrumen promosi dan penguatan jejaring bisnis.
Namun, keberpihakan saja tidak cukup. Evaluasi berkala, peningkatan kualitas produk, dan penyesuaian terhadap selera pasar harus terus dilakukan. Tanpa itu, UMKM akan tertinggal dalam arus perubahan. Standar kemasan, konsistensi mutu, hingga strategi branding perlu ditingkatkan agar berdampak langsung pada kenaikan omzet dan daya saing.
Dengan konsep yang matang, orkestrasi kebijakan menjadi kunci. Selain melalui UMKM Center dan PLUT, Pemkot Solo memperluas kolaborasi dengan perguruan tinggi, sektor perbankan, dan berbagai mitra strategis lainnya.
Pendekatan ini memperkuat ekosistem, dari akses permodalan hingga inovasi produk. Lebih dari itu, identitas sejarah dan budaya Solo harus terus disematkan sebagai pembeda. Keunikan inilah yang membuat produk UMKM Solo memiliki karakter, bukan sekadar komoditas.
Integrasi antara pelaku UMKM dan pengusaha skala lebih besar juga menjadi langkah penting. Konektivitas yang terbangun akan menciptakan rantai nilai yang saling menguatkan.
Jika seluruh elemen ini mampu diorkestrasi secara konsisten dan berkelanjutan, lima tahun ke depan UMKM Solo bukan hanya menjadi penopang ekonomi daerah, melainkan fondasi ketahanan ekonomi yang tangguh dan berjangka panjang.
UMKM bukan sektor pinggiran. Ia adalah jantung yang memompa kehidupan ekonomi Kota Solo. Dan jantung itu harus dijaga, dirawat, serta diperkuat, agar terus berdetak untuk kesejahteraan bersama. (*)
Editor : Kabun Triyatno