Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Teknologi Informasi dan Kemudahan Komunikasi Jamaah Haji-Umrah

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 11 Maret 2026 | 14:19 WIB

 Aris Rakhmadi
Aris Rakhmadi

Oleh: Aris Rakhmadi*) 

RADARSOLO.COM- Tidak sedikit jamaah haji dan umrah yang mengalami kesulitan berkomunikasi saat berada di Tanah Suci, terutama ketika harus bertanya arah, membeli obat, memesan makanan, atau memesan taksi untuk keperluan transportasi.

Hambatan bahasa Arab dan Inggris sering membuat percakapan sederhana menjadi rumit dan menimbulkan rasa sungkan atau tidak percaya diri.

Dalam situasi seperti ini, jamaah akhirnya sangat bergantung pada ketua rombongan atau petugas pendamping, bahkan untuk keperluan yang sebenarnya bersifat personal dan mendesak.

Di sinilah teknologi informasi memainkan peran yang sering luput disadari.

Perkembangan teknologi informasi telah menghadirkan smartphone sebagai perangkat yang kini dimiliki oleh hampir seluruh jamaah haji dan umrah, termasuk jamaah lanjut usia.

Perangkat ini tidak lagi sekadar alat untuk berkomunikasi dengan keluarga di tanah air, tetapi juga menjadi sarana bantu dalam menghadapi berbagai kebutuhan sehari-hari di Tanah Suci.

Melalui aplikasi penerjemah berbasis suara dan teks, jamaah dapat menyampaikan maksud sederhana tanpa harus menguasai bahasa Arab atau Inggris secara aktif.

Kondisi ini menghadirkan kemudahan komunikasi yang nyata dan langsung dirasakan oleh jamaah.

Penting dipahami bahwa pemanfaatan teknologi informasi dalam konteks ini bukan untuk menggantikan peran petugas kloter atau ketua rombongan.

Teknologi justru berfungsi sebagai pelengkap yang membantu jamaah menjadi lebih mandiri dalam situasi tertentu.

Dengan kemudahan komunikasi yang ditawarkan, jamaah dapat berinteraksi secara lebih percaya diri tanpa harus sepenuhnya bergantung pada orang lain.

Pada titik inilah teknologi informasi hadir sebagai alat bantu yang bersifat praktis, bukan sebagai simbol kecanggihan.

Salah satu contoh pemanfaatan teknologi informasi yang paling mudah adalah penggunaan aplikasi Google Translate.

Aplikasi ini kerap dimanfaatkan secara spontan dalam berbagai situasi sehari-hari, seperti saat berbicara dengan pedagang, petugas layanan, atau pengemudi transportasi lokal.

Melalui fitur suara dan teks, jamaah dapat menyampaikan kebutuhan sederhana dan memahami respons yang diterima tanpa harus menebak-nebak makna percakapan.

Kehadiran aplikasi ini memberikan kemudahan komunikasi yang bersifat langsung dan praktis.

Selain itu, fitur kamera yang tersedia memungkinkan jamaah memahami tulisan atau informasi visual yang menggunakan bahasa asing, misalnya pada papan petunjuk atau kemasan obat.

Penggunaan yang sederhana membuat aplikasi ini mudah diakses, bahkan oleh jamaah yang tidak terbiasa dengan teknologi.

Dalam praktiknya, bantuan semacam ini membantu jamaah merasa lebih mandiri dan percaya diri saat beraktivitas di luar rangkaian ibadah.

Teknologi informasi, dalam bentuk yang sederhana ini, hadir sebagai pendamping yang memudahkan, bukan sebagai sesuatu yang rumit atau menakutkan.

Meski menawarkan kemudahan komunikasi, pemanfaatan teknologi informasi di kalangan jamaah haji dan umrah tidak lepas dari berbagai tantangan.

Tidak semua jamaah memiliki tingkat literasi digital yang memadai, terutama jamaah lanjut usia yang belum terbiasa menggunakan aplikasi pada smartphone.

Dalam kondisi tertentu, penggunaan teknologi justru dapat menimbulkan kebingungan apabila tidak disertai pemahaman dasar yang cukup. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu otomatis menjadi solusi bagi setiap jamaah.

Selain itu, aplikasi penerjemah juga memiliki keterbatasan yang perlu disadari bersama.

Risiko kesalahan terjemahan masih mungkin terjadi, terutama pada konteks percakapan yang lebih kompleks atau istilah tertentu.

Keterbatasan jaringan internet di beberapa lokasi juga dapat menghambat pemanfaatannya secara optimal.

Oleh karena itu, teknologi informasi perlu diposisikan secara proporsional sebagai alat bantu, bukan sebagai satu-satunya andalan dalam komunikasi jamaah.

Melihat peluang dan keterbatasan tersebut, edukasi teknologi informasi sederhana sudah selayaknya menjadi bagian dari materi manasik haji dan umrah.

Literasi ini tidak perlu disampaikan secara rumit atau memakan waktu lama, cukup melalui praktik singkat selama 10–15 menit yang berfokus pada kebutuhan komunikasi harian jamaah.

Materi dapat diarahkan pada penggunaan dasar aplikasi penerjemah untuk bertanya arah, bertransaksi, atau berkomunikasi dengan petugas setempat.

Dengan pendekatan yang praktis dan kontekstual, pembekalan ini dapat membantu jamaah merasa lebih siap dan mandiri saat berada di Tanah Suci.

Teknologi informasi bukanlah soal mengikuti arus modernitas atau menunjukkan kecanggihan, melainkan tentang menghadirkan ketenangan dalam beribadah dan menjaga martabat jamaah di Tanah Suci.

Ketika hambatan bahasa dapat diurai, kegelisahan pun berkurang, dan jamaah memiliki ruang yang lebih luas untuk menjaga kekhusyukan ibadahnya.

Komunikasi yang baik membuat jamaah merasa dihargai, tidak terasing, dan lebih percaya diri dalam setiap aktivitas ibadah.

Di titik inilah teknologi informasi menemukan maknanya yang paling manusiawi: menjadi bagian dari pelayanan jamaah yang memudahkan, menenangkan, dan memuliakan ibadah. (*)

*) Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta, S3 DIFA-Universitas Ahmad Dahlan

Editor : Tri wahyu Cahyono
#Aris Rakhmadi #universitas muhammadiyah surakarta #UMS #dosen