Oleh
Astrid Widayani
Wakil Wali Kota Solo
RITUAL mudik Lebaran bukan sekadar migrasi fisik tahunan, melainkan urat nadi sosial-ekonomi yang denyutnya paling terasa di kota-kota tujuan utama. Kota Solo, berada di episentrum fenomena ini. Sebagai kota yang memanggul reputasi sebagai pusat kebudayaan Jawa, Solo bukan sekadar titik singgah, melainkan destinasi akhir yang menjanjikan nostalgia sekaligus pesona wisata bagi jutaan orang.
Data berbicara tentang gravitasi kota ini. Pada Lebaran 2025, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo mencatat sedikitnya 333.732 wisatawan memadati berbagai objek wisata. Angka ini berkelindan dengan mobilitas kendaraan yang fantastis.
Sekitar 7,5 juta unit kendaraan merangsek masuk ke Solo dalam rentang H-7 hingga H+8. Tahun ini, optimisme menebal dengan prediksi lonjakan kunjungan sebesar 5 hingga 10 persen. Namun, di balik angka-angka yang menggembirakan tersebut, terselip sebuah pertanyaan fundamental, sejauh mana kesiapan infrastruktur dan mentalitas kota ini dalam menyangga beban lonjakan tersebut?
Solo tidak boleh terjebak dalam romantisme "Kota Budaya" yang statis. Status tersebut adalah modalitas, namun eksekusinya memerlukan integrasi yang presisi. Kekuatan otentik seperti Wayang Orang Sriwedari dan Sendratari Ramayana di Taman Balaikambang harus tetap menjadi tulang punggung identitas.
Namun, jika karakter ini tidak diintegrasikan dengan kemasan acara yang modern, eksplorasi kuliner legendaris, dan penataan ruang yang estetis, Solo berisiko kehilangan daya saing di tengah agresivitas kota-kota tetangga.
Tantangan terbesarnya adalah relevansi. Label Kota Budaya jangan sampai tereduksi menjadi sekadar simbol seremonial yang membosankan. Pemerintah kota perlu jeli melihat pergeseran tren; dari wisata budaya murni menuju ekosistem wisata yang lebih cair, yakni kombinasi antara kuliner, belanja, dan edukasi. Pergeseran ini adalah peluang sekaligus ancaman.
Di satu sisi, ia menghidupkan sektor informal dan UMKM yang menjadi kaki-kaki ekonomi kerakyatan Solo. Di sisi lain, tanpa tata kelola yang ketat, pertumbuhan ini bisa berujung pada kesemrawutan kota—mulai dari kemacetan akut, tumpukan sampah, hingga okupansi ruang publik yang liar.
Di sinilah peran pemerintah diuji melampaui sekadar penyelenggara seremoni. Fokus utama harus diletakkan pada integrasi aksesibilitas. Kemudahan wisatawan dalam menjangkau layanan transportasi publik, kenyamanan trotoar bagi pejalan kaki, serta konektivitas antar-objek wisata menjadi kunci agar "Pesona Kota Bengawan" dapat dinikmati secara inklusif oleh semua kalangan, tanpa terhalang kemacetan yang menguras emosi.
Pada akhirnya, Solo memiliki modalitas yang terlalu besar untuk sekadar menjadi penonton dalam gegap gempita libur Lebaran. Dengan perpaduan akar budaya yang kuat, kekayaan kuliner yang tiada banding, serta komunitas kreatif yang progresif, Solo berpotensi menjadi standar baru destinasi wisata perkotaan di Indonesia. Selamat merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah, dan selamat menyelami kedalaman rasa serta tradisi di Kota Solo. (*)
Editor : Kabun Triyatno