Oleh:
Rosnendya Yudha Wiguna
Pegiat Pusat Studi Lontar Nusantara
RADARSOLO.COM - Mudik bukan sekadar ritual tahunan berpindahnya jutaan orang dari hiruk-pikuk kota menuju ketenangan desa. Di balik kemacetan dan kepulan debu jalanan, tersimpan narasi kemanusiaan yang kuat. Fenomena ini mencerminkan kerinduan mendalam pada asal-usul—sebuah perjalanan pulang yang melampaui logika transportasi semata.
Bagi sebagian orang, mudik adalah kisah haru tentang perjuangan panjang untuk kembali berkumpul dengan orang tua, keluarga, serta lingkungan awal yang membentuk jati diri—termasuk surau atau masjid tempat nilai-nilai kehidupan pertama kali ditanamkan.
Baca Juga: Ini Makna Mendalam dari Budaya Silaturahmi Atau Halalbihalal di Momen Lebaran
Mayoritas pemudik memilih kenyamanan kereta api, kendaraan umum, atau mobil pribadi. Namun, ada pula yang menempuh jalur tak lazim. Mereka berjalan kaki atau bersepeda ratusan kilometer, mengandalkan kekuatan fisik dan tekad. Setiap tahun, kisah-kisah semacam ini selalu hadir dan menjadi potret nyata perjuangan sekaligus penghayatan spiritual dalam perjalanan pulang.
Mudik, dalam konteks ini, bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin menuju akar kehidupan yang telah membentuk fondasi kemanusiaan seseorang.
Sosiolog dan cendekiawan Muslim dari Universitas Gadjah Mada Prof. Kuntowijoyo memandang mudik sebagai upaya manusia urban untuk menemukan kembali jati dirinya. Di kota besar, seseorang kerap menjadi anonim dan kehilangan “wajah” aslinya.
Baca Juga: Inilah Jejak Bos Djarum Kudus: Dari Dunia Bulutangkis hingga Kembangkan Ekonomi HIjau
Mudik, dalam pandangan ini, merupakan proses de-alienasi—cara untuk melepaskan diri dari keterasingan dunia modern. Dengan kembali ke kampung halaman, seseorang menyambung kembali akar budaya, memperoleh pengakuan dalam struktur keluarga, serta memulihkan nilai-nilai kemanusiaan yang mungkin terkikis oleh kerasnya persaingan di perantauan.
Dalam kerangka Ilmu Sosial Profetik yang dikembangkan Kuntowijoyo, mudik berkaitan erat dengan tiga pilar utama. Pertama, humanisasi: mudik mengembalikan martabat manusia dari tekanan sistem industrial perkotaan. Kedua, liberasi: mudik menjadi sarana membebaskan diri dari rutinitas yang membelenggu serta struktur kekuasaan di tempat kerja.
Ketiga, transendensi: mudik yang bertepatan dengan momentum keagamaan seperti Lebaran menghadirkan dimensi spiritual sebagai bentuk syukur dan penyucian diri.
Di luar perspektif sosiologis, mudik juga memiliki dimensi ilahiah yang mendalam, yakni tentang kerinduan pada reuni yang abadi. Dalam setiap perjalanan mudik, tersimpan keinginan kuat untuk berkumpul bersama keluarga.
Momentum ini sejatinya dapat dimaknai sebagai latihan menuju pertemuan yang lebih kekal. Dalam Alquran, Allah SWT menjanjikan pertemuan kembali keluarga yang beriman di akhirat.
Dalam Surat At-Tur ayat 21 disebutkan bahwa orang-orang beriman akan dipertemukan dengan keturunan mereka yang mengikuti dalam keimanan. Demikian pula dalam Surat Ar-Ra’d ayat 23, digambarkan kebahagiaan berkumpulnya keluarga saleh di dalam surga.
Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa ikatan keluarga yang dibangun atas dasar iman tidak terputus oleh kematian. Allah akan mempertemukan kembali keluarga mukmin sebagai bentuk kebahagiaan yang sempurna.
Pada titik inilah mudik menghadirkan makna yang lebih dalam. Ia menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun perjalanan hidup manusia, pada akhirnya semua akan kembali ke “rumah” yang sejati. Sebuah rumah kebersamaan yang hanya dapat diraih dengan iman dan amal saleh.
Dengan demikian, mudik tidak sekadar soal mengembalikan martabat manusia, membebaskan diri dari rutinitas, atau perjalanan fisik yang bernuansa spiritual. Lebih dari itu, mudik dapat dimaknai sebagai semacam gladi resik menuju pertemuan agung yang lebih indah dan abadi di sisi-Nya.
Sebuah pertemuan dalam kebahagiaan iman—berkumpul kembali dengan orang tua, leluhur, pasangan, dan keturunan—di kampung akhirat kelak. Itulah hikmah terdalam yang tersembunyi di balik perjalanan mudik. (*)
Editor : Kabun Triyatno