Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Menyalakan Cahaya di Usia Senja

Perdana Bayu Saputra • Senin, 30 Maret 2026 | 06:30 WIB
Astrid Widayani
Astrid Widayani

PERUBAHAN zaman tidak hanya ditandai oleh kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh pergeseran struktur penduduk. Indonesia tengah berada di persimpangan penting. Di satu sisi menikmati bonus demografi, di sisi lain mulai memasuki fase penuaan penduduk (aging population). Perubahan ini menuntut kesiapan semua pihak, terutama pemerintah daerah, untuk merespons kebutuhan masyarakat secara lebih adaptif dan berkelanjutan.

Di tengah konteks itulah, kehadiran Sekolah Lansia di Kota Solo menjadi relevan. Program ini bukan sekadar pelengkap jaring pengaman sosial, melainkan jawaban atas realitas baru yang tak terelakkan. Jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat dan membutuhkan pendekatan yang tidak lagi konvensional.

Struktur penduduk yang dahulu didominasi usia muda perlahan bergeser menuju komposisi “jam pasir”. Jumlah lansia diproyeksikan meningkat signifikan dalam waktu dekat. Hingga akhir 2025, jumlah lansia di Surakarta telah menembus angka 100 ribu jiwa. Kondisi ini menjadi dasar bagi Pemerintah Kota (Pemkot) solo untuk mencanangkan visi Solo Ramah Lansia 2030.

Berbagai program pun mulai diperkuat. Tujuannya bukan hanya memastikan lansia hidup sehat, tetapi juga bahagia dan tetap produktif. Cara pandang lama yang menempatkan lansia sebagai beban sosial harus ditinggalkan. Lansia tidak lagi bisa diposisikan sekadar sebagai pihak yang menunggu untuk dirawat, melainkan sebagai kelompok yang tetap memiliki potensi dan peran dalam kehidupan sosial.

Di titik inilah program pemberdayaan lansia menjadi krusial. Lansia adalah individu dengan pengalaman panjang, ketahanan menghadapi perubahan zaman, serta nilai-nilai hidup yang teruji. Potensi ini tidak boleh terabaikan. Jika dikelola dengan tepat, fase usia senja justru dapat menjadi babak baru kontribusi, meski dalam bentuk yang berbeda. Sekolah Lansia hadir untuk membuka ruang itu—menghidupkan kembali semangat belajar dan partisipasi di usia lanjut.

Proses pembelajaran di Sekolah Lansia tidak berhenti pada kegiatan rutin semata. Di akhir program, para peserta juga mengikuti prosesi wisuda sebagai simbol pencapaian. Momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengakuan bahwa para lansia tetap mampu belajar, berkembang, dan mencapai tahap-tahap baru dalam kehidupan mereka. Wisuda tersebut sekaligus menjadi pesan kuat bahwa usia tidak pernah menjadi batas untuk bertumbuh.

Program ini tidak berhenti pada aspek edukasi. Lebih jauh, Sekolah Lansia membangun kepercayaan diri bahwa masa tua tetap bisa bermakna. Berbagai kegiatan seperti pelatihan keterampilan, aktivitas fisik, hingga edukasi kesehatan membuktikan bahwa proses belajar tidak mengenal batas usia. Di saat yang sama, program ini juga mendorong kemandirian, terutama bagi lansia yang tidak seluruhnya memiliki jaminan ekonomi yang kuat.

Sekecil apa pun aktivitas ekonomi yang dihasilkan, tetap memiliki arti penting. Rasa berdaya dan tidak bergantung sepenuhnya pada orang lain menjadi nilai utama yang ingin dibangun. Hal ini sekaligus memperkuat posisi Solo sebagai kota yang semakin dilirik sebagai tempat ideal untuk menjalani masa pensiun—didukung fasilitas kesehatan yang memadai, lingkungan sosial yang hangat, serta budaya yang menjunjung tinggi peran orang tua.

Namun, predikat sebagai kota nyaman untuk lansia juga membawa konsekuensi. Pemerintah dituntut menghadirkan sistem yang mampu menopang kehidupan lansia secara menyeluruh. Di sinilah Sekolah Lansia memainkan peran strategis sebagai penghubung antara kebijakan dan kebutuhan riil di masyarakat. Di tingkat kota, terdapat ruang representasi untuk menampung aspirasi lansia. Sementara di tingkat kelurahan, Sekolah Lansia menjadi ruang interaksi, belajar, dan saling menguatkan.

Tantangan terbesar justru terletak pada perubahan cara pandang masyarakat. Lansia harus dilihat sebagai bagian aktif dari kehidupan sosial. Dalam budaya Jawa, lansia sejak lama dihormati sebagai penasihat dan penjaga nilai. Namun penghormatan itu tidak cukup berhenti pada simbol. Ia perlu diwujudkan dalam bentuk nyata: membuka ruang partisipasi dan memberikan kesempatan untuk tetap berkontribusi.

Karena itu, Sekolah Lansia bukan hanya program, melainkan simbol harapan. Ia menegaskan bahwa usia senja bukan fase kemunduran, melainkan tahap kehidupan yang tetap bisa bersinar. Dengan dukungan yang tepat, lansia tidak hanya hidup lebih lama, tetapi juga lebih bermakna.

Ketika lansia berdaya, manfaatnya meluas. Tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Tatanan sosial pun menjadi lebih inklusif dan kota tumbuh lebih manusiawi. Kota Solo telah memulai langkah penting ini. Kini, dukungan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci agar inisiatif ini benar-benar membawa perubahan nyata. (*)

Editor : Perdana Bayu Saputra
#Astrid Widyani #pemkot solo #Sekolah Lansia