Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Menguatkan Generasi Beretika, Menjaga Karakter Berbudaya

Silvester Kurniawan • Senin, 6 April 2026 | 08:22 WIB
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani

 

Oleh:

Astrid Widayani

Wakil Wali Kota Solo

RADARSOLO.COM - Arus globalisasi kian deras dan membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan—mulai dari teknologi, ekonomi, hingga pola interaksi sosial. Ia ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, globalisasi membuka peluang luas bagi generasi muda untuk berkembang dan bersaing di tingkat global. Namun di sisi lain, arus ini juga menghadirkan tantangan serius berupa lunturnya etika sosial dan karakter budaya yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Fenomena tersebut tidak bisa dipandang remeh. Kemudahan akses informasi melalui media digital sering kali tidak diiringi dengan kemampuan literasi yang memadai. Akibatnya, generasi muda rentan mengadopsi gaya hidup instan, individualistis, bahkan cenderung mengabaikan norma sosial yang telah lama dijunjung. Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi melemahkan kohesi sosial dan mereduksi identitas budaya.

Baca Juga:  Merawat Masa Depan Generasi Kota

Dalam konteks itulah, penguatan etika sosial menjadi kebutuhan mendesak. Etika sosial bukan sekadar aturan sopan santun, melainkan pedoman dalam membangun relasi yang sehat dan beradab. Nilai-nilai seperti saling menghormati, empati, tanggung jawab, serta kepedulian sosial merupakan fondasi penting dalam menjaga harmoni masyarakat. Tanpa itu, kemajuan teknologi justru dapat menciptakan jarak antarindividu dan memperkuat sikap apatis.

Di sisi lain, karakter budaya berfungsi sebagai identitas sekaligus filter. Nilai-nilai lokal seperti gotong royong, tepa selira, dan andhap asor bukan sekadar warisan, melainkan relevan sebagai panduan menghadapi dunia modern. Budaya mengajarkan keseimbangan antara kebebasan individu dan tanggung jawab sosial, sekaligus menjadi pagar terhadap pengaruh global yang tidak selalu selaras dengan nilai-nilai lokal.

Baca Juga: Menjemput Sehat dari Gang Kampung

Penting dipahami, globalisasi bukan untuk ditolak, melainkan dihadapi dengan kesiapan nilai. Di sinilah pendidikan berperan strategis. Pendidikan tidak cukup hanya mengejar capaian akademik dan keterampilan teknis, tetapi juga harus menanamkan karakter dan integritas. Sekolah harus menjadi ruang pembentukan nilai, bukan sekadar tempat transfer pengetahuan.

Namun, tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan pada sekolah semata. Keluarga dan masyarakat harus berjalan seiring. Lingkungan sosial memiliki peran besar sebagai ruang praktik nilai-nilai yang dipelajari. Interaksi sehari-hari menjadi laboratorium nyata bagi anak untuk belajar menghormati, bekerja sama, dan bertanggung jawab. Ketika lingkungan mendukung, internalisasi nilai akan berlangsung lebih kuat dan berkelanjutan.

Dalam konteks ini, keluarga memegang peran kunci sebagai benteng pertama di tengah derasnya arus digital. Orang tua tidak hanya bertugas mengawasi, tetapi juga menjadi teladan dalam bersikap dan berinteraksi. Keteladanan tersebut akan membentuk cara pandang anak dalam menyaring pengaruh luar.

Ke depan, tantangan globalisasi akan semakin kompleks. Sebab itu, penguatan etika sosial dan karakter budaya harus menjadi agenda bersama. Sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, dan keluarga menjadi kunci agar generasi muda tidak kehilangan arah.

Pada akhirnya, kekuatan suatu bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan teknologinya, tetapi juga dari ketahanan nilai yang dimilikinya. Dengan etika sosial yang kokoh dan karakter budaya yang kuat, masyarakat tidak hanya mampu bertahan dari dampak negatif globalisasi, tetapi juga dapat memanfaatkannya untuk mendorong kemajuan yang tetap berakar pada jati diri. Inilah makna sejati pembangunan manusia di tengah arus zaman yang terus berubah. (*)

 

 

Editor : Kabun Triyatno
#identitas budaya #wakil wali kota solo astrid widayani #karakter #globalisasi