Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Solo Tumbuh Cepat, Tapi Apakah SDM Kita Siap?

Kabun Triyatno • Senin, 13 April 2026 | 18:54 WIB
Budhi Hartanto
Budhi Hartanto

 

Oleh: Budhi Hartanto, ST, MSi

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi FEB  Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

KOTA Solo sedang bergerak cepat. UMKM bertambah ribuan, ekonomi Jawa Tengah tumbuh di atas 5 persen, dan aktivitas perdagangan makin dinamis. Di atas kertas, ini kabar baik. Tetapi di balik angka-angka itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara serius. Apakah sumber daya manusia kita benar-benar siap mengikuti laju perubahan ini?

Jangan-jangan, kita sedang tumbuh secara ekonomi tetapi berjalan tertatih dari sisi kualitas SDM.

Baca Juga: Plastik Mahal, UMKM Solo Tercekik: Bertahan di Tengah Ongkos Produksi Membengkak

Data Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian Kota Surakarta mencatat lonjakan jumlah UMKM di Kota Solo dari sekitar 3.600 unit pada 2021 menjadi lebih dari 11.000 pada 2022, dan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di tingkat provinsi, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah mencatat lebih dari 4 juta UMKM aktif di Jawa Tengah.

Angka ini menunjukkan satu hal, ekonomi bergerak cepat. Namun, kecepatan itu belum tentu diikuti oleh kualitas adaptasi SDM yang menggerakkannya.

Baca Juga: Koperasi Merah Putih Disiapkan Jadi Pemasok MBG, Pemkot Solo Dorong Perputaran Ekonomi UMKM

Di Solo, denyut ekonomi lokal memang kuat. Data Badan Pusat Statistik Kota Surakarta dalam Kota Surakarta dalam Angka menunjukkan sektor perdagangan sebagai tulang punggung ekonomi kota. Sementara itu, Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah mencatat pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sekitar 5,05 persen pada 2023, dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mendekati 70 persen.

Artinya, tenaga kerja tersedia dalam jumlah besar. Tetapi pertanyaannya bukan lagi soal jumlah melainkan kualitas respons terhadap perubahan.

Baca Juga: Krisis Plastik Global Menghantui UMKM, Dorong Migrasi ke Bioplastik Pati Singkong

Selama ini, kita masih sering mengukur kualitas SDM dari kompetensi, pendidikan, pengalaman dan keterampilan teknis. Padahal, dalam dunia yang bergerak cepat, ukuran itu tidak lagi cukup. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk belajar ulang, menyesuaikan diri dan bergerak cepat saat situasi berubah.

Di sinilah konsep talent agility menjadi penting. Ia bukan sekadar soal pintar, tetapi soal lincah. Kemampuan untuk belajar cepat, beradaptasi dan tetap produktif dalam kondisi yang tidak stabil.

Fenomena ini terlihat nyata di lapangan. Banyak pelaku UMKM Solo yang bertahan bukan karena paling besar tetapi karena paling cepat beradaptasi. Mereka beralih ke digital, memanfaatkan marketplace dan mengubah strategi pemasaran tanpa menunggu kondisi ideal. Mereka belajar sambil berjalan.

Baca Juga: Akselerasi SDM dan Infrastruktur Jadi Fokus Utama Pemkab Klaten dalam Forum Konsultasi Publik RKPD 2027

Sebaliknya, mereka yang tidak siap berubah mulai tertinggal. Dan ini bukan soal modal melainkan soal kemampuan menyesuaikan diri.

Hal yang sama juga terjadi di birokrasi. Tuntutan pelayanan publik yang cepat membuat aparatur tidak bisa lagi bekerja secara rutin. Mereka dituntut memahami teknologi, berpikir fleksibel dan terus belajar.

Penelitian Surya dan Yuniasanti (2023) menunjukkan bahwa individu dengan learning agility tinggi lebih mampu menghadapi situasi baru karena mampu mengolah pengalaman menjadi pembelajaran. Sementara itu, Rahmawati dkk. (2021) menegaskan bahwa adaptabilitas berpengaruh signifikan terhadap kinerja dalam organisasi yang berubah.

Baca Juga: Dubes Inggris Jajaki Kemitraan Strategis di Jawa Tengah: Soroti SDM, Transportasi Berkelanjutan, dan Industri Hijau

Namun persoalannya, banyak organisasi masih bertahan dengan pola lama. Rekrutmen berbasis masa lalu, pelatihan tidak kontekstual, dan promosi berbasis senioritas. Akibatnya, lahir SDM yang kuat di zona nyaman, tetapi rapuh saat menghadapi perubahan.

Padahal, fleksibilitas justru menjadi kunci. Penelitian Nugroho (2021) menunjukkan bahwa rotasi kerja dan pengalaman lintas fungsi mampu meningkatkan kemampuan adaptif karyawan. Mereka yang terbiasa berpindah peran lebih siap menghadapi ketidakpastian.

Dalam konteks Solo, ini bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan jumlah tenaga kerja yang besar, tekanan terhadap kualitas SDM akan semakin tinggi. Jika tidak diimbangi dengan kemampuan adaptasi, maka pertumbuhan ekonomi hanya akan menjadi angka, tanpa daya tahan.

Solo punya modal besar : budaya, kreativitas, dan semangat kewirausahaan. Tetapi modal itu tidak akan cukup jika tidak ditopang oleh SDM yang agile.

Karena pada akhirnya, di tengah perubahan yang tidak menunggu siapa pun, yang bertahan bukanlah yang paling pintar melainkan yang paling cepat beradaptasi.

Dan mungkin, di situlah tantangan terbesar kita hari ini, bukan kekurangan orang pintar tetapi kekurangan orang yang siap berubah. (*)

Editor : Kabun Triyatno
#ekonomi #perubahan #umkm #kota solo #tenaga kerja