Oleh Mohammad Ali Yafi *)
RADARSOLO.COM - Pagi itu, anak-anak membuka kotak makanan yang mereka terima di sekolah.
Ada yang langsung menyantap nasi dan lauknya, ada juga yang mengamati isi piring teman di sebelahnya, ada pula yang bertanya, “Ini sayur apa?” atau “Kenapa ada buah hari ini?”
Percakapan kecil seperti ini sering dianggap remeh. Padahal, di situlah sebenarnya proses belajar bisa dimulai.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah Indonesia sejak 2025 lalu sebenarnya membawa peluang besar bagi pemenuhan gizi anak.
Perhatian publik sejauh ini banyak tertuju pada distribusi, besarnya anggaran, dan jangkauan penerima.
Diskusi tentang kualitas menu dan mekanisme penyaluran juga mulai mengemuka.
Namun, satu dimensi penting masih jarang dibicarakan secara serius, yaitu potensi MBG sebagai ruang belajar.
Makanan yang dibagikan setiap hari tidak hanya bisa mengenyangkan, tetapi juga bisa menjadi sumber pengetahuan. Pertanyaannya lantas bergeser: apa yang mereka bisa pelajari dari makanan tersebut?
Studi menunjukkan bahwa hubungan antara program makan sekolah dan hasil pendidikan maupun kesehatan sudah cukup kuat.
Dongqing Wang dkk (2021) menunjukkan bahwa program makan sekolah dapat meningkatkan kehadiran dan berkontribusi pada perbaikan indikator kesehatan anak, terutama di negara berkembang.
Namun, temuan ini tidak secara otomatis berarti bahwa anak memahami gizi atau mengubah kebiasaan makannya. Seperti yang dikemukakan Cohen dkk (2021), penyediaan makanan saja tidak cukup untuk memastikan anak mengonsumsi makanan sehat atau mengembangkan preferensi yang lebih baik. Inilah titik celah yang perlu diisi.
MBG dapat dipahami sebagai infrastruktur dasar. Program ini menyediakan akses makanan, waktu makan bersama, dan ruang interaksi sosial yang terjadi setiap hari di sekolah.
Namun demikian, pemahaman seseorang terhadap gizi atau literasi gizi tidak lahir dari konsumsi semata. Ia terbentuk melalui pengalaman yang dipandu, diulang, dan diberi makna.
Sekolah, dalam konteks ini pada institusi pendidikan dasar, memiliki posisi kunci untuk mengubah aktivitas makan menjadi pengalaman belajar yang bermakna.
Dalam hal ini, ada dua lapis peran yang perlu dibedakan. Lapis pertama adalah kondisi yang disediakan program: kualitas menu dan konsistensi distribusi menentukan seberapa kaya bahan yang tersedia di atas meja.
Lapis kedua adalah apa yang dikerjakan sekolah di dalam kondisi apapun yang ada. Kedua lapis ini berjalan paralel, bukan berurutan. Guru tidak perlu menunggu kondisi ideal untuk memulai.
Langkah pertama terletak pada kualitas menu. Apa yang disajikan di piring anak menentukan apa yang bisa mereka kenali.
Makanan yang beragam, berwarna, dan seimbang memberi kesempatan bagi anak untuk mengamati dan membedakan jenis-jenis pangan.
Mereka mulai mengenali bahwa ada sumber karbohidrat, protein, sayur, dan buah dalam satu porsi makan.
Dalam hal ini, piring makan berfungsi seperti teks pertama dalam literasi gizi.
Tanpa kualitas menu yang baik, tidak ada bahan konkret yang bisa dipelajari.
Sebaliknya, menu yang monoton atau tidak seimbang membatasi pengalaman anak dan mempersempit ruang belajar.
Langkah kedua berkaitan dengan konsistensi. Literasi tidak terbentuk dari satu kali paparan.
Anak membutuhkan pengalaman yang berulang agar mampu mengenali pola dan membentuk kebiasaan.
Program yang berjalan setiap hari dengan menu yang terstruktur memberi peluang bagi anak untuk melihat keteraturan dalam apa yang mereka makan.
Sebaliknya, distribusi yang tidak stabli akan memutus pengalaman belajar.
Anak tidak memiliki cukup kesempatan untuk mengamati, membandingkan, dan memahami pola makan sehat.
Konsistensi program bukan sekedar isu logistik, melainkan prasyarat pembentukan kebiasaan jangka panjang.
Langkah ketiga, dan yang paling menentukan, adalah desain pedagogis di sekolah. Aktivitas makan bisa berlangsung secara pasif jika tidak diolah.
Anak makan, kenyang, lalu selesai. Namun, dengan intervensi sederhana, momen yang sama dapat berubah menjadi ruang refleksi.
Guru dapat mengajak anak mengamati isi piring mereka, menyebutkan jenis makanan yang ada, atau membandingkan dengan makanan yang biasa mereka konsumsi di rumah.
Pertanyaan sederhana seperti “Apa yang kamu makan hari ini?” atau “Mana yang paling sering kamu makan di rumah?” membuka ruang percakapan yang menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan pengetahuan dasar tentang gizi.
Di kelas rendah, guru dapat menggunakan warna sebagai titik masuk yang paling mudah yakni anak diajak untuk menyebutkan warna sayur atau buah di piringnya, lalu secara perlahan dihubungkan dengan manfaatnya.
Sementara itu, di kelas tinggi, percakapan bisa bergerak lebih jauh, misalnya membandingkan menu hari ini dengan makanan yang biasa mereka beli di kantin atau warung sekitar sekolah.
Ini semua tidak memerlukan modul khusus atau jam Pelajaran tambahan.
Yang dibutuhkan hanyalah guru yang hadir secara penuh selama waktu makan dan mau memantik percakapan yang sudah ada di depannya.
Literatur menunjukkan bahwa intervensi berbasis sekolah yang menggabungkan pengalaman langsung dengan pendidikan gizi memiliki dampak lebih kuat dibanding pendekatan yang hanya bersifat informatif.
Sebagaimana dikemukakan oleh Omidvar dkk (2023) dalam sebuah tinjauan sistematis bahwa program yang melibatkan aktivitas praktis, diskusi, dan paparan berulang lebih efektif dalam meningkatkan literasi gizi dan kebiasaan makan anak.
Hal ini menegaskan bahwa belajar tentang makanan tidak cukup dilakukan melalui ceramah atau materi tertulis, tetapi perlu diintegrasikan ke dalam pengalaman konkret.
Di titik ini, peran guru menjadi sangat krusial. Guru tidak harus menjadi ahli gizi, tetapi berfungsi sebagai mediator yang membantu anak memberi makna pada apa yang mereka alami.
Mereka dapat memantik percakapan, memberi label sederhana pada makanan, dan mengaitkan pengalaman makan dengan konsep dasar kesehatan.
Pendekatan ini tidak menambah beban kurikulum secara signifikan karena dilakukan dalam aktivitas yang sudah ada.
Guru hanya perlu melihat momen makan sebagai bagian dari proses belajar.
Pengalaman dari berbagai negara menunjukkan bahwa pendekatan seperti ini bukan hal yang utopis.
Di Jepang, program makan sekolah dikenal dengan konsep shokuiku, yang menempatkan makan sebagai bagian dari pendidikan.
Anak tidak hanya menerima makanan, tetapi juga diajak memahami asal-usul makanan, nilai gizinya, dan kebiasaan makan yang sehat.
Di Finlandia, makan sekolah diposisikan sebagai bagian dari lingkungan belajar yang terintegrasi dengan kurikulum.
Sementara itu, Brasil mengembangkan program makan sekolah yang menghubungkan penyediaan makanan dengan edukasi gizi dan sistem pangan lokal.
Ketiga contoh ini menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak ditentukan oleh distribusi makanan saja, melainkan oleh integrasinya dengan pembelajaran di sekolah.
Konteks ketiga negara itu memang berbeda dari Indonesia, namun yang bisa dipinjam adalah caranya memandang momen makan yang bukan sebagai jeda. Momen itu hadir sebagai bagian dari hari belajar.
Di Indonesia, tantangan implementasi tentu tidak ringan. Program sebesar MBG membutuhkan waktu untuk mencapai stabilitas operasional.
Namun, justru pada tahap awal inilah arah pengembangan perlu ditentukan. Jika MBG hanya diposisikan sebagai program pemenuhan kebutuhan dasar, dampaknya akan berhenti pada jangka pendek.
Sebaliknya, jika sejak awal dipandang sebagai peluang pendidikan, maka efeknya dapat meluas hingga pembentukan kebiasaan dan kesadaran anak.
Anak yang terbiasa mengamati, mengenali, dan membicarakan makanan akan memiliki kesadaran yang lebih baik dalam memilih pangan di masa depan.
Perubahan dalam pendidikan tidak selalu datang dari kebijakan besar atau kurikulum baru.
MBG memang tidak luput dari berbagai persoalan, mulai dari ketidakstabilan distribusi, keragaman kualitas menu, hingga keterbatasan pengawasan di lapangan.
Namun, di tengah semua itu, guru tetap memiliki celah yang nyata: momen makan yang terjadi setiap hari, di depan mata mereka, dengan anak-anak yang sudah duduk dan sudah membuka kotak makanannya.
Celah itu tidak membutuhkan anggaran tambahan atau kebijakan baru untuk dimanfaatkan.
Ketika guru, siswa, dan lingkungan sekolah memberi ruang bagi percakapan itu, makanan tidak lagi berhenti pada fungsi biologis.
Ia menjadi medium belajar yang hidup, yang membentuk cara anak memahami tubuh, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari mereka.(*)
*)Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Tunas Pembangunan Surakarta