Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Bahasa Indonesia di Tengah Krisis Literasi Siswa

Nur Pramudito • Selasa, 5 Mei 2026 | 10:30 WIB
Anwar Huda, Mahasiswa S2 Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Univet Bantara Sukoharjo
Anwar Huda, Mahasiswa S2 Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Univet Bantara Sukoharjo

Oleh: Anwar Huda*)

RADARSOLO.COM - Di sebuah kelas sekolah dasar, seorang guru meminta murid-muridnya membaca teks singkat mengenai kebersihan lingkungan.

Setelah selesai, guru bertanya, “Apa isi utama bacaan tadi?” Suasana kelas mendadak sunyi.

Sebagian siswa saling menatap, beberapa membuka kembali teks yang baru saja dibaca.

Ada yang mencoba menjawab, tetapi jawabannya tidak sesuai dengan isi bacaan. Padahal teks tersebut hanya terdiri dari beberapa paragraf sederhana.

Di sekolah lain, seorang siswa mendapatkan nilai bagus pada mata pelajaran Bahasa Indonesia

Namun ketika diminta menulis cerita pengalaman liburan dalam tiga paragraf, ia tampak kebingungan.

Kalimat yang ditulis berulang-ulang, ide tidak tersusun rapi, dan penggunaan tanda baca masih kacau.

Bahkan ada siswa tingkat SMP yang lebih terbiasa menggunakan singkatan ala media sosial dibandingkan menulis kalimat lengkap. Kejadian seperti ini bukan hanya terjadi di satu sekolah.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya persoalan serius terkait kemampuan literasi siswa di Indonesia.

Sayangnya, masalah ini sering tidak terlihat karena tertutupi oleh nilai akademik yang tampak baik.

Di atas kertas, siswa terlihat berhasil mengikuti pelajaran. Nilai ujian memuaskan, tugas selesai, dan rapor menunjukkan hasil yang cukup tinggi.

Akan tetapi, kemampuan memahami bacaan, menyusun pendapat, dan berpikir kritis justru mengalami penurunan.

Inilah kenyataan pendidikan kita saat ini: siswa belajar Bahasa Indonesia selama bertahun-tahun, tetapi belum sepenuhnya mampu menggunakan bahasa secara baik dan efektif.

Padahal bahasa bukan hanya alat komunikasi. Bahasa merupakan sarana utama manusia untuk berpikir dan memahami dunia. Ketika kemampuan berbahasa melemah, kemampuan berpikir juga ikut terdampak.

Anak yang miskin kosakata akan kesulitan memahami persoalan secara mendalam. Anak yang jarang membaca akan sulit menyusun argumen.

Begitu pula anak yang tidak terbiasa menulis akan kesulitan menuangkan ide secara runtut.

Karena itu, rendahnya literasi bukan sekadar masalah pendidikan, melainkan persoalan besar yang berkaitan dengan masa depan bangsa.

Gejala lemahnya literasi sebenarnya mudah ditemukan di lingkungan sekolah. Namun sering kali dianggap sebagai hal biasa.

Contohnya, banyak siswa tidak memahami instruksi soal dengan benar. Bukan karena materinya terlalu sulit, melainkan karena mereka gagal menangkap maksud pertanyaan.

Ada pula siswa yang mampu membaca dengan lancar, tetapi tidak memahami isi bacaan.

Mereka hanya membaca kata demi kata tanpa benar-benar mengerti maknanya.

Hal serupa terlihat ketika siswa diminta menyampaikan pendapat. Banyak yang memilih diam karena tidak terbiasa menyusun gagasan.

Saat berbicara, penjelasan mereka singkat dan kurang terstruktur. Dalam diskusi kelas pun, jawaban siswa sering hanya satu atau dua kata tanpa alasan yang jelas.

Kemampuan menulis siswa juga menunjukkan persoalan yang sama. Banyak siswa kesulitan membuat paragraf yang utuh dan padu.

Ide yang disampaikan sering meloncat-loncat. Penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan susunan kalimat masih kurang tepat.

Di era digital, tantangan ini semakin besar. Banyak siswa terbiasa menggunakan bahasa singkat seperti “gk”, “sy”, “tdk”, atau “yg”, bahkan dalam tugas sekolah.

Sebagian lainnya lebih memilih menyalin jawaban dari internet dibandingkan menulis dengan pemikiran sendiri. Akibatnya, kemampuan berpikir mandiri semakin menurun.

Selain itu, daya tahan membaca siswa juga semakin rendah. Banyak anak sulit fokus membaca teks panjang.

Baru beberapa paragraf, perhatian mereka sudah teralihkan. Mereka lebih terbiasa menikmati video singkat dibandingkan membaca secara mendalam.

Kondisi ini tidak terlepas dari pengaruh budaya digital yang berkembang sangat cepat. Anak-anak hidup di tengah banjir informasi instan.

Konten hadir dalam bentuk video pendek, potongan gambar, dan tulisan singkat.

Akibatnya, mereka terbiasa menerima informasi secara cepat tanpa proses pemahaman yang mendalam.

Teknologi memang memberikan kemudahan akses informasi. Namun di sisi lain, teknologi juga membawa tantangan besar terhadap budaya literasi.

Saat ini banyak siswa merasa cukup memahami suatu hal hanya dari potongan informasi di media sosial.

Mereka jarang membaca sumber lengkap. Mereka cepat bereaksi, tetapi lambat memahami isi persoalan. Bahkan tidak sedikit yang langsung mempercayai informasi tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.

Situasi ini tentu berbahaya. Masyarakat dengan kemampuan literasi rendah akan mudah terpengaruh hoaks, provokasi, dan informasi menyesatkan. Mereka mudah terpancing emosi, tetapi lemah dalam argumentasi.

Hal ini dapat dilihat dari maraknya komentar kasar dan perdebatan tanpa dasar yang jelas di media sosial.

Semua itu berhubungan erat dengan lemahnya kemampuan membaca kritis.
Lalu, apa penyebab krisis literasi ini?

Pertama, pembelajaran Bahasa Indonesia masih terlalu fokus pada teori dan nilai.

Di banyak sekolah, pelajaran Bahasa Indonesia lebih banyak berisi hafalan tentang jenis teks, majas, atau aturan kebahasaan.

Siswa dituntut memahami definisi, tetapi kurang diberi kesempatan untuk benar-benar menggunakan bahasa dalam kehidupan nyata.

Akibatnya, proses belajar terasa kaku dan membosankan. Siswa belajar demi nilai ujian, bukan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi.

Padahal keterampilan berbahasa hanya dapat berkembang melalui praktik.

Anak perlu dibiasakan membaca, berdiskusi, menulis, dan menyampaikan pendapat secara aktif.

Kedua, budaya membaca di sekolah masih belum kuat.

Program literasi sering kali hanya menjadi formalitas. Sudut baca dibuat sekadar memenuhi penilaian sekolah.

Kegiatan membaca sebelum pelajaran dilakukan tanpa pendampingan yang bermakna.

Di banyak sekolah, perpustakaan belum menjadi tempat yang menarik bagi siswa. Koleksi buku kurang diperbarui dan ruang baca kurang nyaman.

Akibatnya, membaca belum menjadi kebutuhan, melainkan hanya kewajiban.

Ketiga, siswa terlalu terbiasa dengan jawaban instan.

Kemudahan internet membuat banyak siswa memilih jalan cepat. Ketika mendapat tugas, mereka langsung mencari jawaban di mesin pencari lalu menyalinnya.

Bahkan sekarang tugas dapat dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan dalam waktu singkat.

Jika tidak diarahkan dengan baik, teknologi justru membuat siswa kehilangan proses berpikir.

Keempat, ruang diskusi di kelas masih terbatas.

Pembelajaran di banyak sekolah masih berlangsung satu arah. Guru berbicara, siswa mendengarkan.

Padahal kemampuan literasi berkembang melalui interaksi aktif. Siswa perlu diberi kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat.

Dengan begitu, mereka akan terbiasa berpikir kritis dan berani mengemukakan gagasan.

Kelima, lingkungan keluarga kurang mendukung budaya literasi.

Banyak anak tumbuh di rumah yang minim buku dan jarang terjadi percakapan bermakna.

Orang tua lebih sering memberikan gawai daripada membangun kebiasaan membaca bersama.

Padahal keluarga merupakan tempat pertama anak belajar literasi. Anak yang terbiasa melihat orang tuanya membaca akan lebih dekat dengan buku.

Anak yang sering diajak berdiskusi juga akan lebih percaya diri dalam berbicara. Karena itu, mengatasi krisis literasi tidak bisa hanya mengandalkan sekolah.

Dibutuhkan kerja sama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Lalu, apa yang perlu dilakukan?

Pertama, pembelajaran Bahasa Indonesia harus dibuat lebih kontekstual dan menarik.

Guru perlu mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari siswa. Berita, artikel, fenomena sosial, atau pengalaman pribadi dapat dijadikan bahan pembelajaran yang lebih relevan.

Misalnya, siswa diajak menganalisis berita palsu, menulis opini sederhana, atau mendiskusikan dampak media sosial terhadap kehidupan remaja. Dengan cara ini, siswa akan merasa bahwa pelajaran Bahasa Indonesia dekat dengan kehidupan mereka.

Kedua, budaya membaca harus dibangun secara nyata.

Sekolah perlu menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca.

Perpustakaan harus dibuat nyaman dan menarik. Koleksi buku perlu disesuaikan dengan minat siswa.

Guru juga harus menjadi contoh dalam budaya membaca. Yang tidak kalah penting, membaca harus menjadi kegiatan yang menyenangkan, bukan sekadar tugas yang membebani.

Ketiga, budaya menulis perlu terus dikembangkan.

Menulis merupakan latihan berpikir. Karena itu, siswa perlu diberi kesempatan menulis secara rutin, baik berupa cerita pengalaman, opini sederhana, jurnal harian, maupun karya kreatif lainnya.

Sekolah juga dapat menyediakan ruang publikasi karya siswa, seperti majalah sekolah atau papan karya. Ketika tulisan mereka dihargai, motivasi untuk menulis akan tumbuh.

Keempat, pembelajaran harus lebih interaktif.

Kelas Bahasa Indonesia seharusnya menjadi ruang dialog. Siswa perlu lebih sering berdiskusi, presentasi, dan menyampaikan pendapat tanpa takut salah.

Kemampuan berbahasa akan berkembang jika siswa terbiasa menggunakan bahasa secara aktif.

Kelima, literasi digital perlu diajarkan dengan serius.

Siswa harus dibimbing untuk memilah informasi, memeriksa kebenaran berita, serta menggunakan teknologi secara bijak. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir.

Guru juga dapat mengajarkan cara memanfaatkan kecerdasan buatan secara tepat, misalnya sebagai alat pendukung untuk mencari ide atau memperbaiki tulisan.
Keenam, pemerintah perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap penguatan literasi.

Pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada angka dan hasil ujian. Pemerintah perlu meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat perpustakaan sekolah, dan memberikan pelatihan yang memadai bagi guru.

Gerakan literasi juga harus diwujudkan dalam praktik nyata, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Selain itu, media massa dapat menjadi sarana penting untuk menumbuhkan budaya literasi. Kehadiran rubrik opini, cerpen, dan tulisan pelajar dapat menjadi ruang belajar bagi siswa untuk mengenal dunia kepenulisan.

Pada akhirnya, persoalan literasi bukan masalah kecil. Ini adalah persoalan peradaban.

Bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang unggul dalam teknologi, tetapi juga bangsa yang masyarakatnya gemar membaca, mampu berpikir kritis, dan terbiasa berdialog secara sehat.

Sulit membangun generasi unggul jika budaya membaca terus melemah. Sulit melahirkan pemimpin cerdas jika kemampuan berpikir melalui bahasa tidak dibangun sejak dini.

Bahasa Indonesia harus kembali ditempatkan sebagai bagian penting dalam pendidikan. Bukan sekadar pelajaran hafalan, melainkan sarana membentuk cara berpikir, karakter, dan kesadaran sosial siswa.

Guru Bahasa Indonesia juga memiliki peran besar. Mereka bukan hanya pengajar tata bahasa, tetapi pembimbing yang membantu siswa memahami dunia melalui bahasa.

Membangun budaya literasi memang membutuhkan waktu, keteladanan, dan konsistensi. Namun langkah itu harus dimulai sekarang.

Sebab jika krisis literasi terus dibiarkan, kita bukan hanya kehilangan kebiasaan membaca dan menulis. Kita juga berisiko kehilangan generasi yang mampu berpikir secara mendalam dan kritis.

Dan ketika kemampuan berpikir kritis melemah, sebuah bangsa perlahan dapat mengalami kemunduran tanpa disadari.(*)

*) Mahasiswa S2 Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Univet Bantara Sukoharjo

Editor : Nur Pramudito
#krisis literasi siswa Indonesia #Pendidikan Bahasa Indonesia #Univet Bantara Sukoharjo #bahasa indonesia