Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Wujud Kepemimpinan Guru yang Visioner Bermuatan Nilai Kearifan Lokal Sebagai Penguatan Pembelajaran Mendalam di Era AI

Nur Pramudito • Jumat, 8 Mei 2026 | 11:30 WIB
Eka Candra Saputra,S.Pd., M.Pd
Eka Candra Saputra,S.Pd., M.Pd

*) Oleh Eka Candra Saputra,S.Pd., M.Pd

RADARSOLO.COM - Peran pemimpin di masa kini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang dan konteks kehidupan sehari-hari.

Pemimpin yang tangguh dan berwawasan global dapat dilihat dari peran guru sebagai agen penggerak dan perubahan bangsa. 

Guru sebagai objek vital dunia pendidikan memberikan kontribusi signifikan dalam membentuk karakter murid dan meningkatkan prestasi akademis melalui inovasi pembelajaran.

Sejatinya, guru juga berfungsi sebagai fasilitator yang bertanggung jawab penuh dalam mengawal aktivitas murid serta memberikan penilaian autentik sejak proses belajar mengajar dimulai.

Perubahan ke arah yang lebih baik berdasarkan kondisi pendidikan saat ini merupakan bukti nyata bahwa guru memiliki kemampuan menjadi pemimpin yang visioner dan bermartabat bagi murid, masyarakat, dan tempat pengabdian pada negara maupun lembaga yang terkait.

Visioner merupakan salah satu sifat pendidik yang terintegrasi dalam kompetensi pribadi dan sosial. 

Kompetensi pribadi yang dimiliki oleh seorang guru bertanggungjawab pada hati nuraninya, karena profesinya sebagai pendidik yang berusaha memimpin murid untuk menyelesaikan proses belajar mengajar di sekolah dan masyarakat sekitar.

Sedangkan kompetensi sosial menggambarkan peran guru dalam memimpin kepentingan individu maupun kelompok (masyarakat) melalui segenap ilmu dan keteladanan yang dimiliki.

Peran guru menurut penulis terbagi menjadi 2 kategori dalam tulisan ini, pertama guru sebagai pemimpin kelas, dan kedua Kepala Sekolah sebagai pemimpin sekolah yang mengupayakan terciptanya kondisi sekolah dan sumber daya manusia unggul dan visioner.

Kedua peran sebagai pemimpin dalam tulisan ini, menggambarkan secara praktis kepemimpinan seorang guru di masa kini.

Visioner sebagai pilar memajukan kualitas pembelajaran dan membentuk guru memiliki komitmen serta rasa percaya diri yang tinggi dalam mengemban misi pembelajaran.

Sikap visioner guru dalam konteks pembelajaran dan kemasyarakatan yang selaras dengan jiwa kepemimpinan yang ideal dan transparan meliputi: inovasi model pembelajaran dan adaptasi kurikulum, memahami potensi murid terhadap minat belajar, penyesuaian program kelas, sekolah, dan adaptasi kemajuan IPTEK serta AI (Artificial Intelligence).

Sedangkan, wujud kepemimpinan guru di masyarakat meliputi: memimpin kegiatan sosial kemasyarakatan, penyuluhan budaya lokal yang sejalan dengan ilmu pengetahuan di era AI, penekanan pada penguatan nilai-nilai kearifan lokal, serta memimpin kegiatan literasi digital guna mendukung pembelajaran mendalam.

Oleh karena itu, guru sebagai pemimpin di masa kini berdasarkan konteks pendidikan dan kemasyarakatan dapat diwujudkan melalui sifat visioner, pemahaman kearifan lokal, konsep pembelajaran mendalam (Deep Learning), dan transformasi era digital berbasis AI.

Sikap visioner guru dapat diperluas melalui pemahaman nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi bagian integral dari strategi kepemimpinan transformasional, mengingat guru adalah teladan utama dan pemimpin bagi murid di sekolah.

Kepemimpinan visioner kepala sekolah, khususnya, memiliki peran krusial dalam mendorong transformasi pendidikan dengan merumuskan visi dan misi yang relevan, serta memperkuat budaya inovasi dalam menghadapi tantangan era Society 5.0. Hal ini mengharuskan pemimpin pendidikan untuk mengembangkan kapabilitas adaptif, mengintegrasikan kurikulum yang fleksibel, dan memberdayakan pendidik melalui pelatihan berkelanjutan guna menghadapi disrupsi teknologi dan perubahan paradigma pembelajaran.

Nilai kearifan lokal diyakini sebagai aset pendidikan yang berbentuk nilai-nilai humanis, edukatif, moral, dan sosial yang mampu memperkaya praktik kepemimpinan dan pembelajaran.

Menurut penulis, kearifan lokal dapat dipelajari dari kehidupan sehari-hari guru ketika membelajarkan diri di masyarakat secara adaptif. Guru memiliki jiwa kepemimpinan yang berorientasi pada masa depan.

Dalam pandangan penulis, visioneritas tidak hanya sekadar teori untuk merumuskan pemahaman pendidikan yang bersifat hierarkis dan orientasi global. Melainkan upaya guru untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki, mengintegrasikan kearifan lokal sebagai elemen pendukung untuk mengimplementasikan budaya pendidikan yang transformatif di era AI.

Untuk mewujudkan kepimimpinan adaptif, jujur, dan transparan sehingga mampu menginspirasi murid dan masyarakat setempat, guru boleh mengimplementasikan program pembelajaran mendalam yang terintegrasi budaya lokal.

Salah satu contohnya; penulis yang saat ini sebagai Kepala Sekolah di SD Negeri Pare 1 Mondokan Sragen dan Plt di SD Negeri 2 Sumberejo Mondokan Sragen menguatkan pembelajaran mendalam berbasis kearifan lokal Sragen.

Langkah yang ditempuh penulis meliputi: merancang program sekolah yang terintegrasi budaya lokal, menerapkan program sekolah secara adaptif mengikuti perkembangan zaman, dalam hal ini pembelajaran berbasis AI akan diupayakan menjadi poin inovasi pembelajaran masa kini, mengevaluasi program sekolah yang sudah terlaksana untuk diperbarui secara teknis supaya terintegrasi kearifan lokal dan pembelajaran bermakna dengan AI, dan menghubungkan hasil belajar murid dan kinerja guru dengan kebutuhan masyarakat sebagai tantangan global.

Tujuan utamanya adalah mengembangkan kurikulum yang secara harmonis memadukan nilai-nilai luhur budaya lokal dengan kemajuan digital, mengatasi kesenjangan akses teknologi di masa kini.

Nilai kearifan lokal di Sragen yang dapat dimanfaatkan guru untuk mengembangkan keterampilan memimpin yang visioner meliputi: filosofi Sumbangsih dan Gotong Royong di Bumi Sukowati, Etos kerja Tani Utomo (masyarakat agaris), Nilai historis situs Sangiran (perkembangan pola pikir sesuai zaman), semangat guyub rukun dalam musyawarah, dan kearifan kuliner berbasis ekonomi rakyat.

Nilai-nilai tersebut termasuk bagian dari kearifan lokal karena saat ini masyarakat masih melestarikan keberadaannya baik secara teoretis dan praktis. Menurut penulis, dari konteks kehidupan sehari-hari murid dapat belajar secara kokurikuler maupun ekstrakulikuler yang terencana sesuai rencana pembelajaran.

Konsep ini sudah membuktikan kepemimpinan seorang guru yang bermartabat untuk mengembangkan potensi murid melalui nilai kearifan lokal setempat yang nantinya diaplikasikan di kelas dengan memanfaatkan AI. Perkembangan potensi murid secara kognitif, afektif, dan psikomotorik memberikan nuansa baru sesuai konsep belajar Deep Learning.

Pendekatan pembelajaran mendalam secara efektif mentransformasi nilai-nilai kearifan lokal seperti Bhineka Tunggal Ika menjadi aktivitas belajar, terutama melalui proyek kolaboratif, diskusi interaktif, dan konten digital yang dikembangkan oleh guru, khususnya materi pelajaran yang bersumber dari Kabupaten Sragen Jawa Tengah.

Dengan demikian, pemikiran penulis menjadi sebuah kontribusi bagi kemajuan pendidikan Indonesia walaupun bersifat sederhana, tetapi mampu menginspirasi guru-guru di Indonesia. Besar harapan penulis, untuk mempublikasikan tulisan ilmiah ini majalah populer di kota Soloraya. 

Pembelajaran yang bermakna sebagai visioneritas kepemimpinan yang adapatif dimaknai oleh penulis sebagai proses membelajarkan murid secara terbimbing melalui pendekatan yang menyenangkan, meliputi: mind full learning (belajar berkesadaran), meaningfull learning (belajar bermakna), dan Joyful Learning (belajar menggembirakan). Menurut penulis, belajar berkesadaran fokus pada potensi murid dalam belajar.

Murid tidak lagi menerima informasi pasif, melainkan agen aktif yang memahami tata cara belajar yang efektif dan menyenangkan. Belajar bermakna berarti membelajarkan murid dengan segenap kasih sayang dan pemahaman ilmu yang di transformasikan sebagai materi pelajaran yang relevan, sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari murid.

Belajar menyenangkan atau menggembirakan berarti murid mendapatkan kebahagiaan dari proses belajar yang telah dilakukan, sehingga pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki mampu menguatkan hubungan harmonis antar sesama murid dan guru serta warga sekolah.

Konsep pembelajaran bermakna di sekolah menjadi tantangan bagi penulis untuk mewujudkan kepemimpinan yang adaptif dan transparan. Wujud kepemimpinan ini diusahakan oleh penulis melalui pengelolaan program kerja sekolah yang sejalan dengan kurikulum merdeka yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Kiat-kiat penulis sebagai pemimpin memberikan inovasi bagi pendidikan masa kini melalui integrasi budaya lokal, nilai kearifan lokal, dan pendekatan belajar di era AI sebagai wujud meningkatkan peradaban global yang humanis dan reflektif.

Guru dan kepala sekolah sebagai pemimpin berusaha mengevaluasi program-program yang sudah dilakukan, untuk mengetahui rencana tindak lanjut di masa depan agar potensi sekolah berkembang sesuai peradaban zaman, guru dan murid semakin berkembang dan menginspirasi masyarakat sekitar.

Melalui kiat tersebut, peran kepemimpinan guru berdampak bagi masyarakat dan para pemangku kebijakan sekolah di Indonesia. Oleh karena itu, perkembangan zaman digital berbasis AI menjadi tren pendidikan masa kini untuk memperkuat peran pemimpin melalui sosok guru yang diharapkan mampu mendidik dan melatih murid sesuai potensi yang dimiliki berdasarkan materi pelajaran dalam kurikulum Merdeka.

Kecerdasan buatan adalah tantangan serius bagi pemimpin untuk mengantisipasi terjadinya penurunan potensi pemikiran kritis di masa kini.

Sebagai contoh, murid dapat menentukan langkah belajar sesuai kehendaknya dengan memanfaatkan AI, guru mampu menyusun rencana pembelajaran yang praktis berbasis AI.

Sedangkan dampak jangka panjangnya, kemudahan dalam mengelola informasi yang mendukung proses belajar dan bekerja pendidik salah dapat mengakibatkan kesenjangan dalam berpikir kritis.

Oleh karena itu, diperlukan strategi integrasi AI yang cermat dalam kurikulum untuk menumbuhkan kemampuan analisis kritis siswa, bukan sekadar memfasilitasi akses informasi.

Dalam konteks pembelajaran masa kini, penulis memberikan contoh tentang upaya membangun keterampilan personal untuk menjadi pemimpin yang memiliki ciri khas “visioner” yang tangguh dan berkesadaran.

Pendidikan yang bermartabat adalah memberikan pelayanan terbaik bagi murid, rekan sejawat, dan masyarakat. Jiwa kepemimpinan penulis sudah dilatih sejak masa pendidikan tinggi yang mengantarkan ke jenjang karier sebagai seorang guru dan pemimpin yang visioner.

Hal ini selaras dengan tuntutan era industri 5.0, di mana pendidik harus mengembangkan keterampilan digital berbasis AI dan meningkatkan kemampuan berpikir kreatif guna membimbing generasi penerus agar kompeten, berkualitas, dan beretika.

Oleh karena itu, penulis mengajak kepada sesama pendidik, murid, dan masyarakat untuk rajin belajar dengan literasi ratulisa (rajin menulis dan membaca), sebagaimana slogan; “membacalah untuk menulis dan menulislah agar dibaca umat sepanjang hayat” agar menjadi manusia terdidik  dan tidak terlupakan karena berkembangnya zaman. Pepatah edukatif tersebut selalu digelorakan oleh Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum., sebagai penggerak literasi Arfuzh Ratulisa, DIKLISA (Dialog Literasi Pendidikan Bahasa dan Sastra), dan SILITA (Silaturahmi Literasi Semesta). 

Bukti nyata bahwa penanaman sikap visioner sejak dini memberikan kontribusi optimal bagi penulis, diantaranya pengembangan kompetensi kepribadian yang berdampak bagi masyarakat, melalui pembukaan klinik massage cedera olahraga (MCO), melatih murid di ajang POPDA cabor panahan dan sepak bola sejak dini sesuai masa bakti penulis, mengikuti kegiatan-kegiatan guru Penjaskes secara aktif dan berkesinambungan, dan mendapatkan amanah sebagai Kepala Sekolah.

Pengalaman berharga dan bermakna yang penulis dapatkan adalah wujud dari penerapan sikap visioner bagi pendidik untuk terus adaptif dalam membelajarkan diri sendiri, murid, dan mengabdi pada masyarakat dengan kebaruan integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran mendalam di era AI.

Visioner adalah pilihan bagi setiap pendidik untuk mengembangkan keterampilan dan potensi yang dimiliki agar berorientasi pada masa depan sesuai perkembangan zaman. Kearifan lokal adalah sumber belajar yang berasal dari potensi daerah untuk dijadikan pengetahuan baru sehingga bermanfaat bagi murid, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendekatan pembelajaran mendalam sebagai tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui dasar-dasar pendidikan yang ditunjang dengan pemanfaatan keterampilan kepemimpinan di era pesatnya kecerdasan buatan (AI).

Dengan demikian, paradigma pendidikan di masa kini tetap selaras dengan konsep memanusiakan manusia sesuai kodrat ilahi untuk berkembang sebagaimana mestinya tanpa ada diskriminasi, dengan adanya jiwa kepemimpinan yang visioner bermuatan pilar kearifan lokal.(*)

*)

Editor : Nur Pramudito
#Penguatan Pembelajaran #Kepemimpinan Guru #artificial intelligence #kearifan lokal