RADARSOLO.COM – Berkendara beriringan, tentu biasa ditemui atau dilakukan para bikers. Mulai di jalan perumahan hingga ruas jalan provinsi, ada saja bikers yang berkendara beriringan.
Hal ini tentu bisa mengundang risiko, bahkan bahaya. Sehingga bikers harus memperhatikan kecepatan saat beriringan, jarak terhadap kendaraan di depan, situasi dan kondisi di depan yang akan dilewati, termasuk rambu, markah atau alat pemberi isyarat lalu lintas.
Banyak kejadian kecelakaan berawal dari situasi bikers yang berkendara beriringan. Dua sepeda motor berjalan beriringan di belakang mobil. Mobil tiba-tiba melambat dikarenakan suatu hal terjadi di depannya, menyebabkan motor yang persis di belakang mobil akan melakukan gerakan pengereman mendadak. Motor yang paling belakang tidak memiliki ruang yang cukup untuk melakukan pengereman sehingga menabrak. Terjadilah kecelakaan beruntun.
Baca Juga: 152 Modifikator Pamerkan Pesona Motor Mereka di Ajang Honda Modif Contest 2023 Region Jawa
Lantas, apa yang harus diperhatikan saat berkendara dalam situasi beriringan tersebut?
Pertama, bikers perlu menyadari bahwa ada potensi bahaya, jika mobil melakukan gerakan tiba-tiba. Tindakan perlambatan terjadi karena mobil tersebut ingin memberikan kesempatan jalan kepada pengendara lain yang ingin masuk ke jalurnya.
Kedua, gagal menjaga jarak aman merupakan satu dari lima perilaku salah yang menyebabkan kecelakaan yang dialami motor paling belakang. Sehingga bikers perlu menambah jarak aman dengan cara mengurangi kecepatan.
Ketiga, selalu perhatikan kondisi dan situasi meski terlihat aman sekali pun.
Jarak aman yang dianjurkan saat mengendarai sepeda motor beriringan dengan kecepatan 40 km per jam adalah 20 meter sampai 30 meter. Mewujudkan jarak 30 meter saat berkendara akan sulit karena tidak ada patokan dan mengandalkan perasaan.
Maka, disarankan menggunakan parameter satuan waktu yaitu detik. Menggunakan rumus kecepatan, jarak dan waktu, maka dengan kecepatan konstan 40 km per jam dalam 1 detik akan menghasilkan jarak 11,1 meter.
Dengan menggunakan detik inilah, bikers akan lebih mudah menemukan pendekatan visual yang ideal tentang jarak aman sesungguhnya. Untuk mempermudah menghitung detik harus menggunakan bantuan tiang atau benda-benda yang diam di sekitar jalan.
"Gunakan kendaraan lain yang berjalan dengan kecepatan yang akan kita pantau," tutur Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng Oke Desiyanto.
Kendaraan yang berjalan meninggalkan tiang tersebut menjadi patokan awal menghitung durasi waktu. Jika kecepatan 40 km per jam yang dipantau, maka patokannya adalah jarak mulai dari kendaraan meninggalkan tiang dan berjalan selama 2 atau 3 detik. Dengan ini, bikers akan mendapatkan jarak visual sebagai gambaran yang harus digunakan sebagai jarak aman.
“Poin keselamatan pada situasi ini dengan menjaga jarak aman dari kendaraan lain, ini memberikan waktu dan ruang untuk bereaksi terhadap bahaya. Sehingga mampu melakukan tindakan mengantisipasi bahaya dengan aman, jika pengendara depan bergerak tiba-tiba” jelas Oke. (*/ria)
Editor : Syahaamah Fikria