RADARSOLO.COM-Kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya wisudawan termuda di salah satu universitas ternama di Kota Semarang, menjadi keprihatinan bersama.
Lokasi kejadian merupakan jalan yang menurun dan menikung serta di sisi jalan terdapat pepohonan cukup lebat.
Ini menjadi pengingat agar selalu waspada saat berkendara terutama di jalur cukup ekstrem.
Potensi bahaya dari kondisi dan situasi jalan menikung adalah adanya blindspot menuju tikungan.
Jika tidak mengontrol kecepatan, tanpa sadar kecepatan naik karena jalan mulus rata menurun dan terang (khas permukaan jalan beton).
Jalan menurun panjang dan blindspot adalah kombinasi berbahaya.
Kemungkinannya adalah kecepatan sudah tinggi dan situasi depan tertutup pepohonan.
Sebab itu, setelah menikung dan ternyata ada kendaraan lain yang berhenti karena mogok, itu menyebabkan tidak cukup jarak untuk mengerem.
Atau kemungkinan lain adalah salah mengantisipasi, yakni yang awalnya berniat menyalip, namun dari arah berlawanan melaju kendaraan lain yang sedang menanjak.
Di jalan menurun, selain kecepatan makin tinggi, juga terjadi peningkatan momentum yang berdampak memengaruhi inersia kendaraan.
Berujung jarak pengereman akan jauh lebih panjang dibanding di kecepatan yang sama di jalur lurus.
Demikian halnya dengan kendaraan menanjak, ada kemungkinan mempertahankan rpm tertentu agar tidak kehilangan tenaga saat menanjak.
Dalam hal ini sangat dianjurkan untuk memantau speedometer dan mengontrol kecepatan agar selalu memiliki jarak untuk bereaksi dan tindakan pencegahan atau penyelamatan di kondisi jalan ekstrem.
Sebagai referensi, di kecepatan 40 Km/jam, pengendara harus melihat sejauh 30 meter ke depan agar mampu mengerti dan memahami situasi dan mampu mengambil keputusan yang tepat.
Jika kecepatan bertambah, maka jarak pandang harus semakin jauh.
Bila kondisi pandangan terhalang blindspot, maka tindakannya adalah menurunkan kecepatan dan waspada.
Perhatikan jauh di depan dan selalu mencari potensi bahaya yang bisa saja terjadi.
“Kita bisa meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya dengan mengikuti training keselamatan berkendara atau yang paling mudah menggunakan alat simulasi Honda Riding Trainer untuk berlatih potensi bahaya,” ujar Oke Desiyanto Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah. (*)
Editor : Tri Wahyu Cahyono