Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sejumlah Mahasiswa Masih Abai Pakai Helm: Risiko Cedera Otak di Balik Kepraktisan

Tri wahyu Cahyono • Kamis, 26 September 2024 | 03:23 WIB
Selain mematuhi peraturan lalu lintas, memakai helm saat berkendara mengantisipasi cedera serius ketika terjadi hal yang tak diharapkan.
Selain mematuhi peraturan lalu lintas, memakai helm saat berkendara mengantisipasi cedera serius ketika terjadi hal yang tak diharapkan.

RADARSOLO.COM-Meskipun helm telah menjadi peralatan standar dengan harga yang terjangkau, masih banyak pengendara, khususnya mahasiswa, yang tidak menggunakannya.

Berdasarkan pengamatan di sekitar lingkungan kampus, fenomena ini masih sering terjadi, terutama di universitas yang dekat dengan permukiman.

Beberapa alasan yang ditemukan dari mahasiswa yang enggan memakai helm adalah keyakinan bahwa risiko kecelakaan dianggap rendah.

Terutama jika jarak yang mereka tempuh tidak jauh.

Mereka merasa sudah sangat familiar dengan rute yang dilalui sehingga mengabaikan keselamatan.

Faktor terburu-buru juga menjadi penyebab, di mana mahasiswa lebih memprioritaskan untuk cepat sampai di kampus tanpa mempertimbangkan risiko keselamatan.

Tidak hanya itu, faktor gaya hidup juga berperan besar.

Bagi sebagian mahasiswa, mengenakan helm dianggap mengurangi kesan "keren" atau tidak sesuai dengan citra yang mereka bangun.

Tekanan dari teman sebaya pun sering kali membuat mereka mengikuti tren tidak menggunakan helm.

Selain itu, helm dianggap tidak praktis karena bisa membuat berkeringat, atau bahkan mereka takut helmnya hilang jika ditinggalkan di parkiran.

Kurangnya pemahaman tentang pentingnya helm dan dampak serius dari kecelakaan juga membuat sebagian mahasiswa meremehkan perlunya perlindungan kepala.

Risiko Cedera Kepala Tanpa Helm: Ancaman Nyata yang Terabaikan

Tidak memakai helm saat berkendara, khususnya di daerah kampus, membawa risiko cedera kepala yang sangat serius.

Salah satu ancaman terbesar adalah Traumatic Brain Injury (TBI) atau cedera otak traumatis, yang bisa berkisar dari ringan hingga parah, dengan konsekuensi jangka pendek hingga jangka panjang.

Mekanisme cedera otak terjadi ketika kepala mengalami benturan keras tanpa perlindungan helm.

Otak dapat bergeser di dalam tengkorak, menyebabkan memar pada jaringan otak (Contusio), perdarahan di dalam atau sekitar otak (Hematoma), pembengkakan (Edema), atau bahkan robekan pada jaringan otak (Laserasi).

Dampak jangka panjang dari cedera otak traumatis tidak bisa diremehkan.

Masalah yang sering muncul adalah gangguan kognitif seperti kesulitan berkonsentrasi, gangguan memori, hingga masalah belajar.

Dampak fisik bisa berupa kelemahan otot, kelumpuhan, atau bahkan epilepsi.

Sementara dari sisi sosial, cedera ini bisa menyebabkan kesulitan berinteraksi dan masalah dalam hubungan sosial.

Helm dirancang untuk menyerap energi dari benturan dan melindungi kepala.

Dengan memakai helm, risiko cedera otak bisa dikurangi secara signifikan, sehingga penting bagi setiap pengendara, termasuk mahasiswa, untuk selalu memakainya.

Pentingnya Kesadaran dalam Berkendara Aman

“Benturan kepala tanpa helm dapat membawa dampak yang sangat serius dan merubah kehidupan seseorang. Menggunakan helm adalah investasi kecil yang bisa menyelamatkan dari risiko cedera otak yang sangat besar. Oleh karena itu, penting sekali untuk selalu memakai helm saat berkendara,” pesan Oke Desiyanto, Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah. (*)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#abai #Astra Motor Jateng #helm #mahasiswa