RADARSOLO.COM - Provinsi Jawa Tengah (Jateng) dianugerahi bentang alam pegunungan yang memukau.
Menciptakan jalur riding yang menantang sekaligus memuaskan hasrat para bikers. Rute populer seperti dataran tinggi Dieng, lereng Merapi-Merbabu, hingga jalur selatan via pegunungan Cilacap-Pangandaran kerap menjadi destinasi favorit.
Namun, di balik keindahan tersebut, tersimpan tantangan serius.
Tikungan curam, tanjakan-turunan ekstrem, serta permukaan jalan yang kerap berubah menuntut kewaspadaan tinggi.
Banyak pengendara, terutama yang terinspirasi gaya balap, sering tergoda untuk mencoba teknik 'gaya miring' (cornering) dengan kecepatan tinggi di jalan raya.
Padahal, menguasai tikungan pegunungan bukan tentang seberapa miring atau rebah posisi motor, melainkan tentang kecerdasan mengelola kecepatan dan pengereman.
Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng, Oke Desiyanto, mengingatkan bahwa karakteristik jalan pegunungan sangat berbeda dengan sirkuit atau jalan datar.
"Tikungan di perbukitan umumnya bersifat buta (blind corner). Kita tidak bisa melihat apa yang ada di balik tikungan, entah itu kendaraan dari lawan arah, kerikil, atau satwa liar," jelasnya.
Oleh karena itu, adaptasi kecepatan menjadi krusial. Aturan emas yang wajib dipegang adalah prinsip Slow In, Fast Out.
Pengendara harus mengurangi kecepatan sebelum masuk tikungan untuk memastikan visual yang jelas.
Kecepatan ideal adalah kondisi di mana pengendara mampu berhenti total jika tiba-tiba muncul bahaya di depan.
Oke menambahkan, permukaan jalan pegunungan rentan terhadap pasir, tanah licin, tumpahan oli, atau lumpur.
Baca Juga: Awas, Gaya Berkendara Ini Bisa Bikin Ban Motor Rusak! Begini Tipsnya Agar Awet dan Tetap Cari Aman
"Jika nekat berbelok rebah atau miring dengan kecepatan tinggi di permukaan seperti itu, dipastikan 99 persen akan berakhir tergelincir atau low side," tegasnya.
Selain itu, tikungan pegunungan sering memiliki kemiringan tak terduga (camber) yang sangat memengaruhi traksi ban.
Teknik Pengereman di Jalur Berbukit
Selain manajemen kecepatan, teknik pengereman adalah kunci keselamatan mutlak. Kegagalan mengelola rem di turunan tajam menjadi penyebab utama kecelakaan fatal.
Oke menyarankan untuk melakukan pengereman proporsional (depan 70%, belakang 30%) saat motor masih dalam posisi tegak dan lurus, jauh sebelum memasuki tikungan.
Pengereman keras saat motor sedang miring justru akan memicu stand up effect (motor kembali tegak), yang membuat motor keluar jalur dan berpotensi menabrak kendaraan dari lawan arah atau pembatas jalan.
"Setelah masuk tikungan, jika perlu koreksi kecepatan tipis, boleh melakukan trailing brake atau pengereman sangat ringan menggunakan rem belakang saja untuk menjaga kestabilan," imbuhnya.
Waspada Rem Blong di Turunan
Saat menghadapi turunan panjang, haram hukumnya menahan tuas rem terus-menerus karena dapat menyebabkan rem panas dan blong (brake fade).
Teknik yang benar adalah melakukan pengereman kuat sebentar, lalu lepaskan, dan ulangi. Cara ini memberi jeda agar komponen rem bisa mendingin.
Pengendara wajib memanfaatkan engine braking dengan menggunakan gigi rendah (gigi 1 atau 2).
"Khusus pengguna motor matik, wajib menurunkan kecepatan secara drastis sebelum jalan menurun. Tahan gas sedikit (gantung gas) agar engine brake tipis bisa membantu kinerja rem, sehingga motor tidak meluncur bebas," saran Oke.
Menutup penjelasannya, Oke berpesan agar pengendara bijak dalam menyalurkan hobi touring-nya.
Baca Juga: Santri Sadar Keselamatan Berlalu Lintas dan #Cari-aman
“Riding di pegunungan adalah ujian sesungguhnya dari kematangan seorang pengendara. Pegunungan Jateng bukan sirkuit, dan nyawa jauh lebih berharga daripada sensasi rebah maksimal. Ingatlah selalu, riding yang smart adalah riding yang kembali utuh sampai di rumah,” pungkasnya. (*)
Editor : Tri wahyu Cahyono