Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Bukan Sekadar Botak! Ini Batas Aman Alur Ban Motor Saat Hujan Januari, Salah Hitung Bisa Fatal

Laila Zakiya • Rabu, 21 Januari 2026 | 11:53 WIB

 

Tonjolan TWI pada ban motor.
Tonjolan TWI pada ban motor.
RADARSOLO.COM - Musim hujan Januari kerap menjadi momok bagi pengendara motor.

Jalan licin, genangan air, hingga jarak pandang terbatas menuntut kondisi kendaraan benar-benar prima. Namun, satu komponen krusial sering diremehkan: alur ban motor.

Masih banyak pengendara beranggapan selama ban belum terlihat “botak”, maka kondisinya aman digunakan.

Padahal, dalam perspektif keselamatan berkendara, standar aman jauh lebih ketat dibanding sekadar visual pola ban.

Batas Alur Ban yang Masih Aman Saat Hujan

Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng, Oke Desiyanto, menjelaskan bahwa ban baru umumnya memiliki kedalaman alur antara 5 hingga 8 milimeter.

Namun, angka tersebut akan terus berkurang seiring pemakaian.

“Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng Oke Desiyanto menjelaskan secara teknis kedalaman alur ban baru biasanya berkisar antara 5 mm hingga 8 mm. Batas minimum yang aman untuk berkendara di kondisi basah adalah 2 mm. Jika sisa kedalaman alur Anda sudah menyentuh angka 1,5 mm atau kurang, daya cengkeram ban terhadap aspal basah akan menurun drastis hingga lebih dari 50%.”

Penurunan daya cengkeram inilah yang sering tidak disadari pengendara, terutama saat hujan deras dengan genangan air.

Fungsi Alur Ban Bukan Sekadar Desain

Alur atau pattern pada ban motor memiliki peran vital sebagai jalur pembuangan air.

Ketika motor melaju di jalan basah, alur ban bekerja membelah air agar ban tetap bersentuhan langsung dengan aspal.

Jika alur sudah terlalu dangkal, air tidak sempat tersalurkan dengan baik.

Kondisi ini memicu hydroplaning atau aquaplaning, yaitu situasi saat ban kehilangan traksi dan seperti mengambang di atas air.

Dalam kondisi tersebut, motor nyaris tidak bisa dikendalikan—rem dan stang kehilangan fungsinya.

Cara Mudah Mengecek Ban: Perhatikan TWI

Banyak pengendara tidak tahu bahwa pabrikan ban sudah menyediakan indikator khusus bernama Tread Wear Indicator (TWI).

Tanda ini berupa tonjolan kecil di dalam alur ban.

Jika permukaan ban sudah sejajar dengan TWI, artinya ban telah mencapai batas kritis dan wajib diganti, tanpa kompromi.

Jangan Abaikan Tanda Kelelahan Ban

Selain kedalaman alur, kondisi fisik ban juga perlu diperiksa secara menyeluruh. Beberapa tanda kelelahan ban yang berbahaya antara lain:

* Flat Spot: Keausan di bagian tengah ban yang mengganggu stabilitas, terutama saat menikung di jalan basah.
* Retak Rambut: Menandakan karet ban sudah mengeras dan kehilangan elastisitas, sehingga daya cengkeram menurun meski alur terlihat masih tebal.
* Benjolan: Kerusakan struktur internal ban yang berisiko menyebabkan ban pecah secara tiba-tiba.

Hujan Januari Tak Memberi Ruang untuk Spekulasi

Di tengah curah hujan tinggi, ban motor ibarat “sepatu” bagi pengendara.

Menggunakan ban dengan alur menipis saat hujan sama berbahayanya seperti berlari di lantai licin dengan alas kaki yang sudah kehilangan grip.

“Periksa tanda TWI Ban hari ini. Jika sudah mendekati batas, sisihkan anggaran untuk menggantinya sebelum nanti berakhir terpaksa mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar akibat kecelakaan. Ingat, keluarga kita menunggu di rumah, bukan di rumah sakit,” ujar Oke.

Keselamatan bukan soal keberanian, melainkan kesiapan.

Di musim hujan, keputusan mengganti ban tepat waktu bisa menjadi pembeda antara sampai rumah dengan selamat atau berakhir di situasi yang tidak diinginkan. (**)

Editor : Laila Zakiya
#honda jateng #januari #musim hujan #Astra Motor Jateng #alur ban motor #Tips berkendara