RADARSOLO.COM-Memasuki bulan Februari, atmosfer merah jambu mulai menyelimuti berbagai sudut kota di Jawa Tengah.
Rak-rak pertokoan di Simpang Lima hingga pelosok kota mulai dipenuhi cokelat dan bunga.
Namun, bagi para pengguna sepeda motor, ada satu bentuk kasih sayang yang jauh lebih esensial daripada sekadar bingkisan manis: keselamatan di atas roda dua.
Data lalu lintas masih menunjukkan bahwa kecelakaan didominasi oleh kendaraan roda dua.
Di Jawa Tengah, risiko ini kian meningkat seiring karakteristik jalan yang padat dan cuaca ekstrem musim hujan.
Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng Oke Desiyanto mengajak masyarakat mengubah perspektif.
Menurutnya, perlengkapan berkendara (riding gear) sejatinya adalah "Bahasa Kasih" (Love Language) untuk diri sendiri dan keluarga.
“Dalam perspektif safety riding, menggunakan perlengkapan lengkap bukan sekadar menggugurkan kewajiban agar tidak ditilang polisi. Ini adalah bentuk apresiasi tertinggi terhadap nyawa sendiri,” ujar Oke.
Helm hingga Sepatu: Janji untuk Pulang
Oke membedah makna di balik setiap perlengkapan yang kita pakai:
Helm SNI (Bunyi 'Klik'): Ini adalah janji kita pada pasangan atau orang tua bahwa kita akan pulang dalam kondisi utuh. Pastikan tali helm terkunci sempurna.
Jaket dan Sarung Tangan: Pelindung dari 'kejamnya' angin kencang dan suhu dingin Jawa Tengah, sekaligus meminimalkan cedera gesek (abrasi) jika terjadi insiden.
Baca Juga: Awas, Gaya Berkendara Ini Bisa Bikin Ban Motor Rusak! Begini Tipsnya Agar Awet dan Tetap Cari Aman
Sepatu: Kerap disepelekan dengan alasan santai, padahal kaki adalah tumpuan utama keseimbangan saat berhenti atau dalam kondisi darurat. Sandal jepit tidak akan menyelamatkan kaki Anda dari benturan aspal.
Ubah Pola Pikir "Cuma Dekat Kok"
Tantangan terbesar pengendara lokal adalah penyakit meremehkan jarak.
Kalimat seperti "Hanya ke pasar depan kok" atau "Cuma jemput pacar di ujung gang" sering menjadi awal petaka.
“Perlu diingat, aspal tidak pernah memilih korban berdasarkan jarak tempuhnya. Kecelakaan fatal justru sering terjadi di radius kurang dari 5 kilometer dari rumah karena pengendara menurunkan kewaspadaan,” tegas Oke.
Cinta Sejati Itu Pulang dengan Selamat
Menyayangi seseorang berarti memastikan bahwa kita tetap ada untuk mereka di masa depan.
Memaksakan diri berkendara ugal-ugalan atau tanpa pelindung di tengah cuaca ekstrem Februari ini bukanlah bentuk kejantanan, melainkan ego yang membahayakan.
“Cinta sejati diukur dari seberapa besar usaha kita untuk pulang ke rumah dengan selamat. Di jalan raya, ego adalah musuh terbesar dan kepatuhan adalah sahabat terbaik. Jangan biarkan orang tersayang menunggu kepulangan yang tak kunjung tiba,” pungkas Oke. (*)
Editor : Tri wahyu Cahyono