RADARSOLO.COM – Motor matik kini menjadi pilihan utama masyarakat perkotaan karena menawarkan kenyamanan dan kepraktisan saat digunakan sehari-hari.
Pengendara hanya perlu memutar gas tanpa harus repot memindahkan gigi.
Namun di balik kemudahan tersebut, terdapat komponen penting yang bekerja keras setiap saat, yakni Continuously Variable Transmission (CVT).
Sistem CVT memiliki peran vital dalam menyalurkan tenaga mesin ke roda belakang. Jika oli mesin diibaratkan darah, maka CVT adalah otot yang memastikan tenaga motor tersalur dengan baik.
Sayangnya, karena berada di dalam rumah transmisi yang tertutup rapat, perawatan CVT kerap diabaikan oleh pemilik motor matik.
Instruktur Training Astra Motor Jateng, Fachrul Reza, menjelaskan bahwa banyak pengguna baru menyadari pentingnya servis CVT setelah muncul gejala seperti getaran, suara kasar, hingga tarikan motor yang terasa berat.
“CVT itu bekerja terus menerus setiap motor digunakan. Kalau jarang dibersihkan, debu kampas dan panas berlebih bisa memengaruhi performa motor secara keseluruhan,” ujar Fachrul Reza.
Di dalam ruang CVT terdapat sejumlah komponen penting seperti V-belt, roller, pulley, dan kampas ganda yang saling bekerja berkesinambungan.
Seiring pemakaian, debu jalanan, sisa gesekan kampas, serta panas tinggi akan menumpuk di dalam ruang CVT.
Apabila tidak rutin dibersihkan, kotoran tersebut dapat menghambat pergerakan roller dan memicu gejala “gredek” atau getaran saat motor mulai berjalan.
Kondisi ini membuat tarikan motor terasa lebih berat dan mengurangi kenyamanan berkendara.
Fachrul menambahkan, banyak pengendara menunda servis CVT karena merasa motor masih dalam kondisi normal.
Padahal, kerusakan pada CVT biasanya terjadi secara perlahan dan sering tidak langsung disadari.
“Kalau dibiarkan terlalu lama, risiko paling fatal adalah V-belt putus di jalan. Itu bukan cuma bikin motor mogok, tapi juga bisa membahayakan pengendara,” tambahnya.
Mengabaikan perawatan CVT bukan hanya berdampak pada performa, tetapi juga dapat memicu kerusakan dengan biaya perbaikan yang cukup besar.
Salah satu risiko paling serius adalah putusnya V-belt akibat karet yang mengeras dan retak karena suhu panas berlebih.
Saat V-belt putus ketika motor melaju, tenaga mesin akan langsung terhenti. Kondisi tersebut tentu berbahaya bagi pengendara.
Bahkan, serpihan V-belt yang rusak juga berpotensi merusak komponen lain seperti pulley hingga rumah CVT.
Karena itu, servis dan pembersihan CVT secara rutin sangat dianjurkan, idealnya setiap 6.000 hingga 8.000 kilometer di bengkel resmi AHASS.
Dalam proses servis, mekanik akan membersihkan ruang CVT dari debu dan kotoran, memberikan grease khusus pada pulley, serta memeriksa kondisi kampas ganda dan V-belt.
Dengan perawatan yang rutin, motor matik dapat terhindar dari gejala lemot, getaran berlebih, hingga konsumsi bahan bakar yang boros.
Performa motor pun tetap terjaga sehingga perjalanan menjadi lebih nyaman, aman, dan menyenangkan.(*)
Editor : Nur Pramudito