Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kuasai Teknik Engine Brake dan Postur Tubuh yang Tepat Saat Melintasi Jalur Wisata Pegunungan

Nur Pramudito • Rabu, 24 Juni 2026 | 15:01 WIB
Kuasai Teknik Engine Brake dan Postur Tubuh yang Tepat Saat Melintasi Jalur Wisata Pegunungan (Honda Jateng)
Kuasai Teknik Engine Brake dan Postur Tubuh yang Tepat Saat Melintasi Jalur Wisata Pegunungan (Honda Jateng)

RADARSOLO.COM - Aroma aspal kering dan sejuknya angin pegunungan menyambut kedatangan para pelancong di bulan Juni ini.

Masa libur panjang sekolah yang bertepatan dengan puncak musim kemarau menjadi waktu paling favorit bagi warga Jawa Tengah untuk touring tipis - tipis.

Destinasi dataran tinggi seperti Tawangmangu di Solo Raya, Kopeng di Kabupaten Semarang, objek wisata Guci di kompas Pekalongan, hingga kawasan Colo di Pati/Kudus, menjadi magnet yang menyedot ribuan pengendara sepeda motor.

Namun, Oke Desiyanto Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng mengingatkan bahwa mengendarai motor di jalur pegunungan sangat berbeda dengan membelah kemacetan Kota Semarang atau melintasi jalur datar Pantura.

Jalur wisata dataran tinggi menuntut keterampilan khusus karena didominasi oleh tanjakan curam, tikungan tajam (hairpin turn), dan turunan panjang.

Jika kita perhatikan berita kecelakaan di jalur - jalur tersebut, musuh utamanya hampir selalu sama: gagal menikung (out of control) atau rem blong, terutama pada sepeda motor matik.

Berkendara di pegunungan bukan soal seberapa berani memutar gas, melainkan seberapa cerdas mengendalikan gaya gravitasi dan traksi ban.

Menikung (cornering) dan mengerem di jalur pegunungan sebenarnya bisa dianalogikan seperti "berdansa dengan pasangan".

Dalam berdansa, jika bergerak terlalu kaku, maka mudah kehilangan keseimbangan.

Jika bergerak terlalu agresif tanpa ritme, kita akan menginjak kaki pasangan dan jatuh bersama.

Di atas motor, "pasangan" kita adalah mesin dan momentum fisik kendaraan.

Jika menikung terlalu kaku atau mengerem terlalu mendadak di tengah tikungan, artinya sedang memaksa motor untuk "terpeleset".

Harus ada ritme yang pas antara pengurangan kecepatan, pemosisian tubuh, dan pembukaan gas kembali.

Mengapa motor matik paling sering mengalami rem blong di turunan Tawangmangu atau Kopeng?

Jawabannya adalah vapor lock atau matinya fungsi rem akibat panas ekstrem.

Ketika menahan tuas rem terus - menerus sepanjang turunan, piringan dan kampas rem akan bergesekan tanpa henti hingga mencapai suhu ratusan derajat Celsius.

Efeknya, minyak rem mendidih, memunculkan gelembung udara, dan membuat rem terasa "kosong" atau blong saat ditekan.

Untuk menghindari petaka ini, berikut teknik pengereman yang benar:

Ingat rumus baku sebelum menikung: Slow In, Fast Out (masuk tikungan dengan kecepatan melambat, keluar dengan segera setelah selesai menikung).

Selesaikan proses pengereman saat motor masih dalam posisi tegak sebelum memasuki tikungan.

Begitu masuk ke area tikungan, lepas rem secara perlahan, jaga kecepatan konstan, dan baru putar gas kembali setelah melihat ujung keluar tikungan.

“Bagi warga Solo, Semarang, Pekalongan, dan Pati yang akan berwisata pada libur Juni ini, hormati jalur pegunungan dengan selalu mengendalikan kecepatan dan menyesuaikan penggunaan transmisi. Jangan biarkan kecepatan mengambil alih kendali atas keselamatan Anda. Gunakan perlengkapan berkendara yang lengkap, terutama helm, sebelum memulai perjalanan. #Cari_Aman, nikmati liburan dengan selamat dan nyaman,” pesan Oke.(*)

Editor : Nur Pramudito
##cari_aman #honda jateng #Astra Motor Jateng #Tips berkendara #safety riding