RADARSOLO.COM - Mitsubishi Pajero Sport Dakar dan Jetour T2 sama-sama menawarkan karakter SUV, tetapi keduanya dibangun dengan pendekatan yang cukup berbeda.
Mitsubishi Pajero Sport Dakar mengusung sasis ladder frame dan mesin diesel, sedangkan Jetour T2 menggunakan konstruksi monokok dengan mesin bensin turbo 2.000 cc.
Perbedaan tersebut membuat karakter berkendara keduanya terasa cukup kontras. Dalam pengujian yang menjadi bahan perbandingan, Jetour T2 menunjukkan keunggulan ketika digunakan di jalan raya, terutama dari sisi fitur, kenyamanan kabin, dan pengendalian.
Di sisi lain, Mitsubishi Pajero Sport Dakar tetap memiliki sejumlah keunggulan yang menjadi daya tariknya, seperti kapasitas tujuh penumpang, mesin diesel, konstruksi ladder frame, serta kemampuan yang lebih siap untuk menghadapi medan berat.
Harga dan Desain Mitsubishi Pajero Sport Dakar
Unit Mitsubishi Pajero Sport Dakar yang dibandingkan dibanderol sekitar Rp670 juta. Sementara varian Ultimate berada di atasnya dengan tambahan sejumlah fitur.
Beberapa kelengkapan yang membedakan varian tersebut antara lain kamera 360 derajat, adaptive cruise control, pilihan warna interior, serta sunroof.
Meski masih memiliki tampilan yang gagah, desain Mitsubishi Pajero Sport Dakar disebut mulai menunjukkan usia. Generasi yang menjadi basis model saat ini sudah hadir sejak sekitar 2016 dan telah mendapatkan beberapa pembaruan melalui facelift.
Sementara itu, Mitsubishi juga disebut tengah menyiapkan model baru di kelas yang lebih tinggi. Model tersebut kabarnya tidak lagi menggunakan nama Pajero Sport.
Jetour T2 Tawarkan Kabin Lebih Modern
Masuk ke bagian interior, perbedaan karakter kedua SUV langsung terasa. Jetour T2 menawarkan desain kabin yang lebih modern dengan berbagai fitur yang berorientasi pada kenyamanan dan kemudahan penggunaan.
Kualitas material dan detail interior Jetour T2 mendapat penilaian positif dalam pengujian. Area kabinnya juga dilengkapi banyak tempat penyimpanan yang membuat penggunaan sehari-hari lebih praktis.
Fitur yang tersedia cukup lengkap, mulai dari wireless charging dengan sistem pendingin, cup holder berlapis karet, hingga berbagai kompartemen penyimpanan.
Tidak berhenti di situ, Jetour T2 juga membawa panoramic sunroof berukuran besar, kamera 540 derajat, ADAS Level 2, sistem audio Sony dengan 12 speaker, ventilated seat, ambient light, serta X-Mode.
Sementara Mitsubishi Pajero Sport Dakar memiliki pendekatan yang lebih sederhana. Keunggulannya antara lain kapasitas tujuh penumpang, kursi baris ketiga yang dapat dilipat hingga rata dengan lantai, double blower sampai baris belakang, serta inverter 150 watt.
Dalam penilaian kenyamanan, Jetour T2 memperoleh angka 9, sedangkan Mitsubishi Pajero Sport Dakar mendapat nilai 7.
Suspensi Jetour T2 memang terasa cukup kaku, tetapi karakter tersebut masih dianggap mampu memberikan kenyamanan ketika melewati jalan yang rusak maupun permukaan bergelombang.
Mesin Diesel Pajero Sport vs Turbo Jetour T2
Perbedaan berikutnya terdapat pada sektor dapur pacu. Mitsubishi Pajero Sport Dakar menggunakan mesin diesel 4N15 yang sudah menjadi bagian dari keluarga Pajero Sport selama lebih dari satu dekade.
Meski berjenis diesel, karakter mesin tersebut dinilai cukup halus. Suara dan getarannya relatif terkendali, sementara respons mesin dan transmisi juga dianggap cukup sigap.
Dalam pengujian tersebut, sektor mesin Mitsubishi Pajero Sport Dakar mendapatkan nilai 8.
Berbeda dengan Pajero Sport, Jetour T2 mengandalkan mesin bensin turbo 2.000 cc. Mesin ini disebut memiliki basis yang sama dengan mesin yang digunakan pada Chery 8 Pro Max.
Performa Jetour T2 cukup menarik. SUV tersebut mampu mencatat akselerasi 0-100 km/jam sekitar 9 detik.
Namun, konsumsi bahan bakarnya menjadi salah satu konsekuensi dari penggunaan mesin bensin turbo. Dalam penggunaan perkotaan, konsumsi yang tercatat sekitar 1:7 hingga 1:8.
Saat digunakan dalam perjalanan Jakarta-Klaten, Jetour T2 mencatat konsumsi sekitar 11,3-11,4 km per liter.
Kelebihannya, mesin bensin turbo tersebut masih dapat menggunakan bahan bakar dengan RON 92.
Untuk aspek konsumsi bahan bakar, Mitsubishi Pajero Sport Dakar mendapatkan nilai 8, sedangkan Jetour T2 memperoleh nilai 6.
Handling di Jalan Raya Jadi Pembeda
Konstruksi sasis menjadi salah satu faktor yang membuat sensasi berkendara kedua SUV berbeda.
Jetour T2 menggunakan sasis monokok yang membuat karakter pengendaliannya terasa lebih dekat dengan SUV perkotaan. Ketika melaju di jalan raya, mobil tersebut dinilai lebih stabil dan mudah dikendalikan.
Dalam pengujian handling on-road, Jetour T2 mendapatkan nilai 8. Sementara Mitsubishi Pajero Sport Dakar memperoleh nilai 6.
Namun, angka tersebut perlu dilihat berdasarkan konteks pengujian. Mitsubishi Pajero Sport Dakar memang tidak dirancang semata-mata untuk mengejar karakter handling seperti SUV monokok.
Konstruksi ladder frame yang digunakan justru memberikan keuntungan ketika kendaraan dibawa menghadapi medan yang lebih berat.
Pada varian tertentu, sistem penggerak Mitsubishi Pajero Sport Dakar dilengkapi pilihan four-wheel drive dan low gear. Posisi intake juga dirancang untuk mendukung kebutuhan offroad.
Kemampuan melibas genangan air atau water wading-nya disebut dapat mencapai sekitar 800 mm.
Karena perbandingan ini lebih menitikberatkan penggunaan di jalan raya, keunggulan offroad Mitsubishi Pajero Sport Dakar tidak menjadi faktor utama dalam penilaian.
Mitsubishi Pajero Sport Dakar vs Jetour T2
Jika fokus penggunaan berada di jalan raya, Jetour T2 menunjukkan keunggulan melalui kombinasi interior modern, kelengkapan fitur, kenyamanan, serta handling.
Sebaliknya, Mitsubishi Pajero Sport Dakar menawarkan paket yang berbeda dengan mesin diesel, kapasitas tujuh penumpang, konstruksi ladder frame, dan kemampuan yang lebih mendukung penggunaan di medan berat.
Dengan demikian, kedua SUV tersebut memiliki karakter masing-masing. Jetour T2 lebih menonjolkan teknologi dan pengalaman berkendara modern, sedangkan Mitsubishi Pajero Sport Dakar mempertahankan karakter SUV konvensional yang mengutamakan ketangguhan dan fleksibilitas penggunaan.
Pilihan akhirnya sangat bergantung pada kebutuhan penggunaan, terutama apakah kendaraan lebih sering dipakai untuk aktivitas di jalan raya atau membutuhkan kemampuan lebih ketika keluar dari aspal.
Editor : Nur Pramudito