Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Tingkatkan Mutu, Dosen Farmasi UNS Dampingi UMKM Jamu di Sukoharjo

Perdana Bayu Saputra • Minggu, 6 September 2020 | 21:51 WIB
Photo
Photo
SUKOHARJO -Jamu menjadi salah satu kearifan lokal Indonesia yang perlu dilestarikan. Namun permasalahan yang dihadapi adalah jamu memiliki daya saing pasar yang rendah. Penyebabnya ada pada lisensi produk jamu tersebut. Maka perlu pendampingan dalam peningkatan mutu jamu.

"Pengaruh lisensi atau izin edar dapat meningkatkan nilai tawar dari suatu obat, kepercayaan dari konsumen, klaim keamanan, dan pangsa pasar yang lebih luas. Umumnya perusahaan jamu lokal memiliki izin edar PIRT (Perusahaan Industri Rumah Tangga) yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan. Izin edar PIRT ini dari aspek produk tidak fleksibel. Karena dibatasi dalam bentuk sediaan tertentu, misalkan seduhan/godogan atau minuman," beber Ketua Tim Grup Riset Active Pharmaceutical Discovery and Development (APDD) Universitas Sebelas Maret (UNS), Ahmad Ainurofiq kepada Jawa Pos Radar Solo, Sabtu (5/9).

Rofiq, sapaan akrab Ahmad Ainurofiq, bersama anggota timnya, Syaiful Choiri, Saptono, Nestri Handayani, Dinar Sari, Rita Rakhmawati, dan Estu Retnaningtyas mengadakan pendampingan dalam rangka pengabdian masyarakat ke usaha mikro kecil menengah (UMKM) jamu PJ. Suti Sehati di Nguter, Sukoharjo. Para dosen ini berupaya meningkatkan kualitas dan daya saing dari produk jamu yang terstandarisasi oleh BPOM. Agar produk jamu terstandar ini mengalami peningkatan bentuk sediaan yang lebih diterima oleh masyarakat seperti granul instan.

"Untuk saat ini PJ. Suti Sehati lebih fokus pada pengembangan industri jamu herbal yang berupa teh instan, sirup herbal, jamu rebus, dan VCO. Dengan semakin berkembangnya keinginan masyarakat akan produk alami, jamu/pengobatan alternatif yang berkualitas dan alami. Kami mencoba untuk menghadirkan produk jamu dengan menjaga keaslian rasa, warna, dan aroma," jelasnya.

Rofiq menyebut problem yang muncul pada PJ. Suti Sehati yakni izin edar masih menggunakan PIRT. Produk jamu masih berupa minuman celup yang dikemas dalam tea bag, jamu seduhan, jamu godog, dan jamu racikan. Paling banyak bentuk sediaan berupa teh celup atau serbuk jamu. Dan kurangnya standarisasi produk. Padahal PJ. Suti Sehati menjadi market leader jamu di daerah Nguter, Sukoharjo.

"Sehingga pendampingan ini mampu memberikan dampak positif. Sekaligus berkontribusi secara signifikan terutama pengerajin jamu di daerah tersebut," sambungnya.

Dalam pendampingannya, Rofiq dan tim menawarkan solusi berupa pengarahan dalam upaya standarisasi jamu, pemilihan dan perancangan bentuk sediaan jamu, proses pembuatan jamu, dan cara mencegah cemaran mikroba dan jamur pada produk jamu.

"Salah satu produk jamu yang menjadi model adalah jamu Sirma yang berisi Sirsak dan Manggis. Produk jamu ini merupakan sediaan sederhana yaitu teh celup. Sediaan ini kurang diterima oleh masyarakat. Selain itu belum dilakukan standarisasi produk jamu tersebut," tandasnya. (sct/aya) Editor : Perdana Bayu Saputra
#dosen #farmasi