“Pembelajaran daring berat bagi guru maupun siswa. Kalau SMA mungkin masih bisa. Tapi kalau SMK? Sangat berat karena ada praktiknya,” kata Sriyanta, kemarin (12/7).
Kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah yang berdiri sejak 2012 lalu itu, masih daring. Namun, ada kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) andalan sekolah dengan 288 siswa pada tahun ajaran 2021/2022 ini. Sehingga total siswa mencapai 800 siswa lebih. “Kita ajak anak-anak bikin film-film pendek. Kita adakan kegiatan sinematografi,” bebernya.
Gebrakan ini diambil karena melihat potensi sekolah lain. Belum banyak yang punya kegiatan tersebut. “Sejak pandemi, kami ajak anak-anak bikin film-film pendek. Lalu di upload di YouTube,” ujarnya.
Pembuatan film pendek tetap memperhatikan prokes. Hanya melibatkan sekitar 10 siswa. “Kadang saya juga terjun langsung. Syuting ke sawah-sawah. Anak-anak banyak yang suka kegiatan ini," urainya.
Salah satu film pendek karya siswa, pernah ikut lomba antarpelajar se-Jawa Tengah. Meski gagal juara, terpenting menurut Sriyanta adalah proses produksinya. “Dari 200 peserta, kami peringkat sembilan. Kami tidak mikir juara. Terpenting anak-anak bisa berkreasi selama pandemi,” ungkapnya.
Ke depan, rencananya bakal dibuat sinema ketoprak pelajar. Naskah sudah jadi, namun belum syuting. “Tahun ini SMKN 5 Sukoharjo ikut FLS2N di empat cabang lomba. Yaitu menyanyi solo, tari tradisional, film pendek dokumenter, dan film pendek fiksi,” bebernya. (kwl/fer/dam) Editor : Damianus Bram