Karena itu, empat siswa kelas XII SMAN 1 Karanganyar bikin aplikasi Eduseks. Yakni Vicky Rian Saputra, Chantiq Hast Dhuatu, Farhan Arief Ramadhan, dan Muhammad Burhanudin Bactiar.
“Akhirnya kami berinovasi bikin aplikasi Eduseks. Mencari strategi yang efektif untuk mengurangi angka pernikahan dini. Sekaligus mencari metode yang tepat dalam pendidikan seksual kepada anak dan orang tua. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi,” ungkap Vicky Rian Saputra kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (6/8).
Aplikasi ini berisi konten video berbasis animasi, terkait pendidikan seksual. Selama pengembangan, ditambah board game untuk menarik minat siswa. Di dalamnya terdapat fitur dare, truth, quiz time, family time, dan sebagainya. Game ini bisa diunduh di aplikasi Eduseks yang terhubung pada QR Code.
Tujuan fitur ini, agar orang tua dan anak saling memahami dan dekat satu sama lain. Memudahkan orang tua dalam mengontrol aktivitas buah harinya. “Campaign kami lewat akun Instagram @eduseks_id. Sebelum PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat), ada rencana sosialisasi ke desa-desa. Tapi sekarang lewat daring dulu. Ini sedang on going,” imbuhnya.
Kreator aplikasi Eduseks lainnya Chantiq Hast Dhuatu menambahkan, banyak tantangan dihadapi selama pembuatan. Banyak pihak yang menganggap remeh. “Kami sering diketawain. Namun, kami sepakat untuk berkomitmen jalani campaign ini. Agar Eduseks ini bisa bersinergi dengan yang lainnya,” tuturnya.
Prosesnya, diawali bikin video. Estimasi sekitar tujuh hari. Urusan konten, diserahkan ke Chantiq Hast Dhuatu. Didesain Muhammad Burhanudin Bactiar. Kemudian soal aplikasi, dipercayakan pada Farhan Arief Ramadhan. Sedangkan Vicky Rian Saputra sebagai koordinator tim.
“Kami yakin pasti dapat investor. Kami lakukan sebisanya dulu. Setelah itu, kami bikin board game. Sempat ada perdebatan tentang desain dan cara mainnya. Kemudian, bagaimana cara agar masyarakat tahu dan mudah mengakses board game,” imbuh Chantiq.
Guru Pembimbing Kelompok Ilmiah Remaja SMAN 1 Karanganyar Giyato mengaku sangat mendukung gebrakan siswanya. “Kendala pasti ada, itulah tantangannya. Pastinya ada jalan juga. Pasti ada celah yang bisa dimaksimalkan untuk menggali potensi. Aplikasi ini akan dilombakan di KOPSI (Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia),” bebernya. (nis/fer) Editor : Syahaamah Fikria