Kegiatan ini merupakan serangkaian agenda international guest lecture yang merupakan salah satu implementasi UNS sebagai world class university. Diikuti 300 peserta dengan pembicara utama Prof. Dr. Arthorn Riewpaiboon, B.Pharm, M.Sc, seorang pakar farmakoekonomi dari Universitas Mahidol, Bangkok, Thailand.
Didaulat sebagai master of ceremony (MC) Dr. dr. Ratih Puspita Febrinasari, M.Sc. Kegiatan dibuka Dekan FK UNS Prof. Dr. dr. Reviono, Sp.P(K) yang mendukung penuh acara ini sebagai sarana berbagi informasi dan pengetahuan tentang dampak Covid-19 terhadap ekonomi.
Selanjutnya sesi materi dan diskusi dipandu dr. Nur Hafidha Hikmayani, M.Clin.Epid, Ph.D. International Guest Lecture berlangsung lancar dan sukses. Audiens aktif bertanya dan menunjukkan ketertarikan dengan materi yang disampaikan.
Di awal presentasinya, Prof Arthorn menyampaikan, dampak Covid-19 terhadap ekonomi makro dan mikro di beberapa negara di dunia, khususnya di Asia Tenggara.
Di level makro, dampak Covid-19 dapat ditunjukkan dengan perubahan pertumbuhan gross domestic product (GDP) yang merupakan salah satu parameter utama kemajuan ekonomi sebuah negara.
Di 2020, hampir semua negara mengalami penurunan GDP akibat terpuruknya ekonomi global di awal masa pandemi. Di kuartal kedua tahun ini, Indonesia dan Thailand mulai menunjukkan peningkatan pertumbuhan GDP sebesar 2 persen dibanding kuartal pertama, meskipun cakupan vaksinasi untuk Covid-19 di kedua negara masih berkisar di angka 20 persen.
Hal ini menandakan bahwa keberhasilan pengembangan vaksin Covid-19 yang disusul dengan percepatan program vaksinasi masal berkontribusi terhadap pemulihan ekonomi kedua negara.
Di level ekonomi mikro, dijelaskan bahwa dampak Covid-19 terhadap sistem kesehatan nasional yang diukur melalui beberapa parameter, di antaranya biaya yang dikeluarkan akibat penyakit yang menjangkiti masyarakat (cost of illness), biaya intervensi kesehatan (cost of health intervention) yang termasuk di dalamnya program vaksinasi, serta biaya layanan medis (cost of medical service).
Cost of illness dapat bersifat langsung (yaitu biaya medis dan nonmedis) maupun tidak langsung (yaitu hilangnya produktivitas, timbulnya disabilitas, dan kematian dini).
Sebagai materi pamungkas disampaikan metode evaluasi ekonomi intervensi kesehatan, di antaranya cost-effectiveness analysis (CEA), cost-utility analysis (CUA) dan cost-benefit analysis (CBA), yang dihitung dalam periode waktu tertentu (time horizon) dan dapat menyesuaikan perspektif yang diinginkan (misalnya perspektif pasien, institusi kesehatan, sistem kesehatan, ataupun publik).
Dalam hal ini, evaluasi ekonomi mempertimbangkan biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk sebuah intervensi berikut luaran atau dampak yang dihasilkan (baik positif maupun negatif), sehingga didapatkan angka pembiayaan intervensi kesehatan total maupun per unit luaran.
Menanggapi pertanyaan tentang perbandingan efektivitas pembiayaan antara berbagai jenis vaksin yang ada saat ini, Prof. Arthorn menjelaskan, negara-negara terdampak Covid-19 memiliki tingkat cakupan vaksinasi yang beragam akibat perbedaan jumlah kasus, kebutuhan vaksin, daya beli dan lobi ke produsen, logistik, peraturan terkait vaksin, serta sikap masyarakat terhadap program vaksinasi.
Oleh karena itu, sejauh ini evaluasi tentang efektivitas pembiayaan antarjenis vaksin belum dapat ditentukan.
Sebagai penutup, Prof. Arthorn menekankan bahwa pembiayaan yang besar untuk mengatasi pandemi Covid-19 khususnya untuk upaya pencegahan dengan program prokes, 3T dan vaksinasi dapat diimbangi dan digantikan dengan manfaat yang lebih besar. Berupa penurunan jumlah kasus, penekanan angka disabilitas dan kematian dini, serta pengurangan pembiayaan medis akibat Covid-19, yang selanjutnya akan diikuti dengan kembalinya produktivitas masyarakat serta pemulihan ekonomi nasional. (*) Editor : Damianus Bram