Mesin coffee roaster karya siswa SMKN 2 Surakarta ini tak kalah dengan buatan pabrik. Desainnya dibuat menarik dan elegan. Memiliki beberapa ukuran, mulai dari 1,5 kilogram (kg), 3,5 kg, dan 12,5 kg. Sehingga lebih efektif dan efisien.
Wakil Kepala (Waka) Humas SMKN 2 Surakarta Suratna menjelaskan, pembuatan mesin coffee roaster ini hasil kolaborasi antara sekolah dengan perusahaan mitra. Selama proses pembuatan, siswa didampingi tim ahli dari perusahaan tersebut.
“Mesin coffee roaster ini hasil dari program teaching factory. Awalnya kami mengirim siswa ke perusahaan mira unuk diajari cara pembuatannya. Baru kemudian kami menjalin kerja sama untuk mengembangkan coffee roaster bersama siswa di sekolah,” terang Suratna, kemarin (29/10).
Cara kerja coffee roaster ini sangat sederhana. Biji kopi dimasukkan melalui corong tabung mesin. Kemudian dipanaskan dengan suhu yang terkontrol secara otomatis. Selama proses pemanasan, alat terus berputar supaya suhunya merata. Setelah itu, biji kopi digiling. Hingga berubah menjadi serbuk kopi yang halus dan lembut.
“Suhu mesin juga dapat diatur sendiri untuk menghasilkan cita rasa sesuai keinginan kita. Misal ingin kopi rasanya sedang, suhunya sekian derajat. Karena suhu yang tepat akan memengaruhi warna, rasa, dan kualitas kopi,” imbuhnya.
Proses pembuatan satu mesin coffee roaster bergantung ukuran. Untuk mesin ukuran 1,5 kg, butuh waktu pengerjaan 3-4 pekan. Terkait lokasi pengerjaan, dilakukan di dua tempat.
“Perakitan mesin dikerjakan di bengkel SMKN 2 Surakarta. Sedangkan perakitan komponen listrik di perusahaan mitra bersama siswa,” bebernya.
Serbuk kopi yang sudah di-roasting pakai coffee roaster kreasi siswa SMKN 2 Surakarta ini dukungan apresiasi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbu) Republik Indonesia Nadiem Anwar Makarim. Saat kunjungan ke Kota Bengawan, beberapa waktu lalu. Nadiem bahkan sempat menikmati kopi hasil seduhan siswa.
“Waktu pak menteri datang, kami suguhkan wedang kopi. Dan kata menteri, kopinya enak. Hanya saja warnanya masih terlalu pekat,” ungkap Suratna.
Mesin coffee roaster ini ternyata diminati para pecinta kopi dari berbagai daerah. Total tujuh unit mesin laku terjual. Sesuai amanah Kemendikbudristek, siswa SMK harus bisa memenuhi permintaan layanan jasa dan barang yang dibutuhkan pasar.
“Semoga program teaching factory ini membuat SMK terus berkembang. Terus bersinergi dalam dunia industri, sesuai bidangnya masing-masing,” tandasnya. (ian/fer/dam) Editor : Damianus Bram