Alat presensi pintar ramah pandemi berbasis teknologi informasi (IT). Bertujuan meminimalkan kerumunan yang sering terjadi saat penjemputan siswa.
“Apalagi jika guru harus memanggil satu per satu siswa, pastinya sangat kewalahan. Maka dari itu, kami berinisiatif menciptakan program yang bisa memudahkan guru dan mengatasi masalah kerumunan saat penjemputan,” kata Waka Humas MTsN 2 Surakarta Muhammad Islam.
Pengoperasian alat tersebut cukup mudah. Ortu cukup men-scan barcode di handphone (HP) masing-masing ortu ke alat tersebut. Barcode diprogram sesuai nama dan jenjang kelas siswa. Menariknya, saat barcode di-scan ke alat, otomatis memanggil nama siswa bersangkutan melalui pengeras suara. Sehingga guru tidak perlu lagi memanggil siswa secara manual satu per satu.
“Jadi ketika barcode tersebut sudah di-scan, maka otomatis alat akan memanggil nama siswa beserta kelasnya. Suaranya dari Google Voice yang disambungkan dengan speaker di sekolah,” imbuhnya.
Alat ini diletakkan tepat di gerbang masuk sekolah. Diletakkan di atas meja yang dijaga dua guru. Dengan alat ini, bisa meminimalkan interaksi antara ortu dengan guru.
“Aplikasi ini secara tidak langsung sebagai upaya untuk mencegah penularan virus Covid-19 di lingkungan sekolah. Semakin sedikit interaksi, semakin sedikit peluang virus menyebar,” paparnya.
Kelebihan lain dari alat ini, yakni otomatis merekam presensi siswa. Dengan begitu, tingkat kehadiran siswa dalam PTM terbatas semakin mudah dipantau.
“Alatnya memang sudah ada sejak dulu. Tapi untuk programnya memang baru. Hasil kreasi guru IT MTsN 2 Surakarta. Setahu kami, yang menggunakan model program penjemputan seperti ini hanya di MTsN 1 dan MTsN 2. Sekolah negeri setahu saya belum ada,” bebernya.
Lewat presensi digital, diklaim lebih efisien dan efektif. “Penggunaan alat ini sejak awal PTM memang sangat membantu. Baik dari segi proses dan waktu. Dengan program ini, PTM bisa berjalan lancar,” ujarnya.
Sementara itu, keberadaan alat ini juga mendukung membantu orang tua siswa untuk melek teknologi. “Aplikasi ini berbentuk barcode yang bisa diunduh di smartphone, kemudian discan. Dengan begitu, orang tua juga semakin paham terkait perkembangan informasi dan teknologi digital,” tandasnya. (ian/fer/dam) Editor : Damianus Bram