Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ini Scissor Lift, "Crane" Versi Siswa SMKN 2 Solo: Bisa Jangkau Gang Sempit

Syahaamah Fikria • Sabtu, 11 Desember 2021 | 19:35 WIB
PENELITIAN: Uji senyawa kandungan yang ada dalam kelapa sawit di lab FMIPA UNS. (ENRI PRAMUJA FOR RASO)
PENELITIAN: Uji senyawa kandungan yang ada dalam kelapa sawit di lab FMIPA UNS. (ENRI PRAMUJA FOR RASO)
Memangkas dahan pohon, perbaikan lampu penerangan jalan umum (PJU), atau instalasi listrik, biasanya memanfaatkan truk crane. Masalahanya, truk crane tidak bisa menjangkau jalan perkampungan atau gang-gang sempit. Tapi tenang, sekarang ada scissor lift karya siswa SMKN 2 Solo yang bisa jadi solusi.

SCISSOR lift merupakan kreasi siswa kelas XII SMKN 2 Solo. Berupa mesin tangga hidrolis, yang terpasang di kendaraan roda tiga. Bodinya yang minimalis, diklaim mampu memperbaiki lampu PJU, instalasi listrik, hingga memotong dahan pohon di gang-gang sempit.

Kepala Program Teknik Mesin SMKN 2 Solo Joko Darmanto menjelaskan, proses perakitan scissor lift melibatkan 10 siswa kelas XII. Waktu pengerjaan sekitar 1,5 bulan di bengkel sekolah setempat. Mulai dari perakitan hingga tahap finishing.

“Selama pengerjaan menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat. Siswa selalu didampingi oleh guru dan para tentor dari industri yang sudah menjalin kerja sama dengan kami,” terang Joko.

Scissor lift alias tangga gunting ini dilengkapi pump hydraulic dan baterai, untuk mengangkat boks ke atas. Bosk terbuat dari besi yang memuat 3-4 orang. Diklaim mampu menjangkau ketinggian sekitar 9 meter dan beban seberat 500 kilogram (kg).

“Kelebihannya bisa masuk ke gang-gang sempit. Misal ada lampu di gang yang rusak, bisa dibetulkan pakai alat ini. Lebih praktis dan efisien,” imbuh Joko.

Satu tangga gunting menghabiskan biaya sekitar Rp 90 juta. Sudah termasuk harga pembelian kendaraan roda tiga.

“Harga tersebut sangat terjangkau. Kendaraannya saja sekitar Rp 30 juta. Mengapa kami pilih kendaraan roda tiga? Ya karena lebih ringkas, mudah dibawa ke mana-mana, dan bisa menjangkau tempat yang sempit,” bebernya.

Siswa SMKN 2 Solo membuat boks untuk scissor lift. (ISTIMEWA)
Siswa SMKN 2 Solo membuat boks untuk scissor lift. (ISTIMEWA)
Uji coba pump hydraulic pada alat scissor lift di bengkel SMKN 2 Surakarta. (ISTIMEWA)

Diakui Joko, ada sedikit kendala dalam pembuatan scissor lift. Sekolah tidak memiliki beberapa komponen pendukung. Mengatasi masalah tersebut, sekolah menggandeng perusahaan industri. Terutama yang berkecimpung di sektor tersebut.

“Kami kan basisnya bukan perusahaan besar. Jadi ada beberapa komponen yang tidak bisa kami penuhi. Untungnya ada kerja sama dengan industri yang sangat membantu,” paparnya.

Inovasi siswa SMKN 2 Solo ini sudah sampai ke telinga Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka. Bahkan, putra sulung Presiden Joko Widodo ini sudah memesan beberapa unit untuk mendukung kinerja organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkot Solo.

“Rencana akan diresmikan sekalian diberi nama oleh wali kota, akhir tahun ini. Selama proses tersebut, kami akan terus sempurnakan,” ungkap Joko.

Joko berharap melalui inovasi tersebut, SMKN 2 Solo berusaha menanamkan budaya industri kepada para siswa. Harapannya setelah lulus nanti, siswa langsung terserap di dunia kerja dan dunia industri (DUDI).

“Semoga inovasi tangga gunting ini, bisa menjadi jalan bagi siswa SMKN 2 Solo untuk terus berkembang dan bersinergi di dunia industri. Sekaligus menjadi bekal mereka sebelum terjun langsung ke dunia industri,” harapnya. (ian/fer) Editor : Syahaamah Fikria
#crane #scissor lift #inovasi #smkn 2 solo