“Khusus bagian kerangka kaca, pakai wadah bekas hand sanitizer. Tutup atas pakai bekas botol air mineral. Pembuatan emergency lamp butuh waktu tujuh jam. Mulai dari membentuk casing sampai rangkaian listriknya,” kata Cornelius, kemarin (24/1).
Ide pembuatan emergency lamp ini berawal dari menumpuknya limbah elektronik dan sampah plastik di lingkungannya. “Lewat produk ini, setidaknya ikut mendaur ulang sampah menjadi barang bermanfaat,” imbuhnya.
Keunggulan emergency lamp karya Cornelius, yakni tahan lama dan harganya terjangkau. Karena bisa di-charge ulang jika baterainya habis. Selain itu, cahaya yang dihasilkan jauh lebih terang dibanding produk pabrikan. Peminatnya, yakni para traveler camping, pedagang malam, dan pehobi mancing di malam hari.
“Sementara baru produksi sekitar 80-an buah. Masyarakat tahunya dari mulut ke mulut. Karena kami belum siap menerima pesanan dalam jumlah besar. masih kekurangan tenaga dan fokus PTM (pembelajaran tatap muka),” terang guru pembimbing KIR SMK Muhammadiyah 3 Surakarta Dwiyono.
Dwiyono berharap, prestasi ini bisa memotivasi siswa yang lainnya untuk mengembagkan kreativitas sesuai bidang masing-masing. “Semoga kami dapat memenangkan lomba tingkat nasional dan dikenal masyarakat sebagai sekolah kreatif. Selanjutnya, kami fokus meningkatkan minat dan bakat siswa,” bebernya. (mg2/ian/fer) Editor : Damianus Bram