Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

PTM di Solo Resmi Dihentikan, Ortu Waswas: Klaim PJJ Menyebabkan Learning Loss

Damianus Bram • Senin, 7 Februari 2022 | 03:47 WIB
Anak-anak didampingi sukarelawan belajar di pos ronda yang disulap jadi perpustakaan di Kampung Joho, Manahan, Banjarsari, tahun lalu. Pemkot akan memberhentikan PTM dan kembali memberlakukan PJJ. (RADAR SOLO PHOTO)
Anak-anak didampingi sukarelawan belajar di pos ronda yang disulap jadi perpustakaan di Kampung Joho, Manahan, Banjarsari, tahun lalu. Pemkot akan memberhentikan PTM dan kembali memberlakukan PJJ. (RADAR SOLO PHOTO)
SOLO– Pembelajaran tatap muka (PTM) di Kota Solo resmi dihentikan per Senin (7/2). Digantikan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sistem daring. Kebijakan ini diambil, setelah kasus Covid-19 di Kota Solo meningkat sejak Sabtu-Minggu (5-6/2). Dihentikannya PTM membuat sejumlah orang tua siswa dan satuan pendidikan khawatir terjadi learning loss, jika kembali menerapkan PJJ.

Winarsih, orang tua siswa salah satu SMA negeri di Kota Solo cenderung memilih PTM dibandingkan PJJ. Diakuinya, pelajaran yang disampaikan guru lebih efektif dan mudah dipahami ketika PTM. Meskipun dia juga khawatir dengan merebaknya kasus Corona di Kota Bengawan.

“Sebenarnya secara pembelajaran lebih cocok PTM. Anak kan butuh interaktif tanya jawab dengan guru untuk memudahkan memahami materi. Kalau kasus Covid-19 di Solo meningkat, takutnya nanti PJJ lagi,” ujarnya, Minggu (6/2).

Didik orang tua siswa salah satu SD negeri di Solo menambahkan, varian baru Omicron membikin waswas. Namun, dia lebih memilih PTM dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) ketat. Karena menurutnya, sekolah-sekolah di Kota Solo sudah menerapkan prokes dengan baik dan ketat.

“Sebagai upaya pencegahan, mungkin bisa PTM 50 persen. Menurut saya ini langkah terbaik untuk menekan penyebaran Covid-19,” bebernya.

Humas PAUD IT Nur Hidayah Surakarta Fika Yudhi Hidayati mengaku, mayoritas orang tua siswa menginginkan PTM. Meski sebagian kecil ada yang meminta PJJ karena khawatir buah hatinya terpapar Corona.

“Banyak yang minta tetap PTM. Sedangkan orang tua yang menginginkan PJJ, persentasenya tidak sampai 5 persen,” terangnya.

Menanggapi keresahan orang tua siswa, lanjut Fika, kembali diterapkan pembelajaran hybrid (gabungan luring dan daring) sejak sepekan yang lalu. Sekolah juga menerapkan prokes secara ketat bagi siswa dan guru.

“Agak takut juga kalau nanti harus kembali PJJ. Karena saat ini anak sudah nyaman ikut PTM. Kami juga masih menggelar pembelajaran hybrid. Karena beberapa orang tua meminta kebijakan untuk PJJ di rumah. Jadi kami menggelar dua-duanya,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala PAUD Anak Negeri Indonesia Sri Wahyuni mengaku sudah menerapkan prokes dengan ketat. Termasuk meningkatkan koordinasi dengan orang tua siswa, untuk ikut mengawasi prokes buah hatinya di luar lingkungan sekolah.

Kunci kesuksesan PTM, lanjut Wahyuni, adalah disiplin prokes. PTM dapat berjalan jika siswa, guru, dan orang tua bersinergi dalam pencegahan penyebaran Covid-19.

“Sedih juga kalau nanti kembali PJJ. Karena pembelajaran sudah nyaman dengan PTM. Di sini PTM sudah terlanjur berjalan baik dan tidak ada kendala. Takut kalau nanti PJJ,” tandasnya. (mg2/ian/dam) Editor : Damianus Bram
#pembelajaran tatap muka #PTM di Solo Dihentikan #siswa terpapar covid-19 #PTM di Stop #PJJ di Solo