Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Paktik Daring Tak Efektif, Minim Kompetensi

Damianus Bram • Kamis, 24 Maret 2022 | 14:45 WIB
ASAH SKILL: Kegiatan praktik di SMKN 3 Surakarta saat pertemuan tatap muka. (GERSON SETYO/RADAR SOLO)
ASAH SKILL: Kegiatan praktik di SMKN 3 Surakarta saat pertemuan tatap muka. (GERSON SETYO/RADAR SOLO)
SOLO – Pembelajaran daring selama pandemi sangat berdampak pada siswa SMK. Selain pembelajaran formal mereka juga harus praktik. Akibatnya siswa mengalami kesulitan selama praktik di rumah tanpa pendampingan langsung dari guru.

Siswa SMKN 2 Surakarta Reyhan mengaku kesulitan mengikuti pembelajaran daring karena mereka tidak hanya dibebani praktik. Melainkan juga harus magang. Pembelajaran secara daring terkadang juga terkendala masalah. Sering kali komunikasi guru dan siswa tidak lancar. Akibatnya, materi tidak bisa tersampaikan dengan optimal.

“Kemarin, waktu masih PJJ memang cukup susah, kalau SMK memang lebih baik praktik langsung. Tapi, karena pandemi hanya bisa secara daring. Meski dikasih video tutorial, merakit misalnya, kadang kami susah mengerti kalau tidak praktik langsung,” ujarnya, kemarin (23/2).

Hal senada diungkapkan oleh Ari Siswanto, siswa SMK swasta di Solo. Dia mengaku juga sempat kesulitan berdiskusi dengan temannya saat pembelajaran daring. Dampaknya, saat praktik dia masih kebingungan. Di luar mata pelajaran praktik, siswa relatif bisa mengejar materi.

“Sulit lagi ketika praktik karena tidak didampingi sama guru hasilnya kacau. Tapi kalau untuk materi lain bisa diperdalam di rumah. Untungnya sekarang sudah boleh PTM, sedikit demi sedikit bisa terkejar,” ujar siswa asal Banjarsari itu.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VII Jawa Tengah Suratno mengakui, memang terdapat penurunan nilai kompetensi siswa. PJJ akibat pandemi, membuat penyampaian materi dari guru ke siswa kurang maksimal. Secara otomatis, sistem pembelajaran tersebut akan berdampak pada kualitas kompetensi siswa.

“Karena saat pandemi ini kami utamakan kesehatan dan keselamatan anak-anak, maka keterserapan kurikulum sedikit dikurangi. Kalau mengukurnya dari target kurikulum, jelas tidak 100 persen dan jelas ada penurunan,” ungkapnya.

Hal tersebut menurut Suratno tidak hanya terjadi di Solo. Melainkan di semua daerah yang menerapkan pembelajaran daring. Guna mengejar ketertinggalan, PTM pada SMA/SMK harus terus berjalan. Guru, wajib memaksimalkan waktu PTM untuk menyampaikan pembelajaran yang esensial. Terutama untuk jenjang SMK, yang harus melakukan praktik.

“Waktu praktinya siswa SMK berkurang, meski anak-anak sudah belajar lewat video tutorial. Tapi tidak secara langsung praktik pelajar dengan alatnya. Pasti akan mengurangi tingkat kemampuan kompetensi siswa,” jelas Suratno.

Tidak hanya kompetensi siswa, daya serap siswa SMK di dunia kerja juga menurun. Penurunan tersebut sejalan dengan kondisi pandemi. Di mana banyak perusahaan yang juga mengurangi jumlah tenaga kerjanya. Maka secara otomatis, daya serap siswa SMK di dunia kerja juga menurun. Mengatasi hal itu, cabdin mendorong lulusan SMK untuk menjadi wirausaha, lewat pembelajaran kewirausahaan.

“Harapan kami, semoga PTM ini dapat terus berjalan dengan normal, siswa bisa kembali belajar di sekolah. Untuk mengejar ketertinggalan, tentu dengan prokes ketat. Alhamdulillah dua pekan terakhir ini,  tidak ada laporan temuan kasus di jenjang SMA/SMK,” ujar dia. (ian/bun/dam) Editor : Damianus Bram
#Pembelajaran Praktik Siswa SMK #Paktik Daring Tak Efektif #SMKN 2 Surakarta