Kasi Manajemen dan Peningkatan Mutu SMP sekaligus Koordinator PPDB Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta Abi Satoto menuturkan, jika calon siswa pada PPDB tahun ini hanya mengacu pada sekolah negeri, maka daya tampung tersebut tidak akan mencukupi. Namun demikian, masih ada sekolah swasta serta madrasah tsanawiyah (MTs) untuk menampung calon siswa yang tidak masuk ke sekolah negeri.
“Jelas tidak akan cukup kalau masuk negeri semua. Lulusan SD negeri dan swasta itu ada sekitar 11.000 siswa tahun ini. Sedangkan daya tampung SMP negeri itu hanya 5.000 siswa yang bisa ditampung di 27 SMP negeri di Surakarta,” ujarnya, Kamis (2/6).
Mengenai daya tampung sekolah negeri mulai SD dan SMP tahun ini, Abi menjelaskan, di Solo untuk jenjang SD dibatasi 28 siswa, dan SMP 32 siswa di setiap rombelnya. Berdasarkan data disdik, ada sebanyak 152 SD negeri dan 92 SD swasta. Sedangkan untuk SMP, ada 27 SMP negeri dan sisanya SMP swasta. Jadi total ada 244 SD dan 72 SMP negeri maupun swasta yang masih aktif.
“Kalau digabung, SMP negeri dan swasta baru bisa menampung 11.000 lulusan SD tersebut. Bahkan, jika ada yang ingin sekolah di Solo dari luar kota masih bisa. Dari 11.000 (siswa) itu, kalau menurut tahun sebelumnya juga tidak semuanya sekolah di Solo. Ada juga yang ke luar kota, jadi masih aman daya tampungnya,” jelasnya.
Disinggung, minimnya daya tampung SMP negeri. Abi mengungkapkan, jika sekolah negeri ditambah maka akan mempengaruhi keberlangsungan sekolah swasta. Kesempatan untuk menerima peserta didik lebih awal merupakan antisipasi, agar sekolah swasta bisa bertahan dan tidak menutup operasional sekolah mereka.
“Sekolah banyak. Namun kalau semua lari ke sekolah negeri, nanti swasta tutup. Akibatnya pendaftaran ke negeri semua, padahal daya tampung terbatas,” tuturnya
Menurut Abi, kualitas SMP swasta di Solo tidak kalah dengan kualitas sekolah negeri yang lain. Oleh karena itu, sekolah swasta bisa menjadi pilihan apabila tidak tertampung di sekolah negeri. Diapun menyebut antusiasme masyarakat menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta mulai meningkat. Beberapa sekolah swasta bahkan sudah membuka gelombang penerimaan siswa baru sejak awal Mei lalu.
“Sekolah swasta itu punya peminatnya sendiri. Bahkan beberapa sekolah sudah penuh kuota pendaftarannya. Memang kalau swasta PPDB-nya mandiri dan sebagian sudah membuka pendataan atau inden jauh-jauh hari. Namun, Juni baru pendaftaran,” paparnya.
Sementara itu Kepala SMP Al-Azhar Syifa Budi Surakarta Mustaghfirin mengatakan, kuota PPDB di sekolahnya sudah terisi 80 persen. Dari 75 kuota siswa yang disediakan, sudah terisi 52 siswa. Meski diakuinya, PPDB tahun ini tergolong rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Sebelumnya 84 menjadi 75. Faktor penurunan ini berasal dari kondisi pandemi karena mengingat siswa SMP Al-Azhar tidak hanya berasal dari Kota Solo saja. Saat ini hanya kurang 23 siswa untuk memenuhi target kami," jelasnya.
Sedangkan Waka Kesiswaan SD Lazuardi Kamila GIS Surakarta Bayu Tri Hantoro mengatakan, sekolah telah membuka pendataan atau inden sejak semester satu. Sampai awal 2022, kuota pendaftar sudah terisi sebanyak 50 persen dari total kapasitas yang disediakan. Banyak wali murid yang mendaftarkan anaknya bahkan sebelum anaknya cukup umur karena takut kehabisan slot siswa baru.
“Alasan lain pemilihan indent dikarenakan wali murid sangat tertarik dengan kegiatan dan event-event yang diadakan pihak sekolah seperti outing, virtual camp, dan lainnya. Pendaftar jalur indent juga beragam, ada yang dari luar kota seperti Karanganyar dan Sukoharjo atau dikarenakan saudaranya yang bersekolah disini,” ujarnya. (ian/nik/dam)
Total SD Negeri dan Swasta di Solo
- 244 Sekolah (satu rombel 28 siswa)
Total SMP Negeri dan Swasta di Solo
- 72 Sekolah (satu rombel 32 siswa)
Jumlah SMP Negeri di Solo
- 27 Sekolah (Daya tampung 5.000)
Jumlah SMP Swasta di Solo
- 55 Sekolah (Daya tampung sekitar 10.000)