Kabid PAUD dan Pendidikan Non-Formal (PNF), Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta Galuh Murya Widawati menjelaskan, calistung tidak diperkenankan dalam kurikulum PAUD. Sebab idealnya, anak-anak jenjang PAUD dan TK hanya dikenalkan huruf dan angka. Tanpa harus dipaksa calistung.
Alasannya, karena anak usia dini berada pada periode emas. Di mana pada periode ini, otak akan banyak menyerap apa yang dilihat dan didengar.
“Bukan masalah calistungnya. Tapi bagaimana cara mengenalkan membaca, dengan memberi stimulasi halus motoriknya. Sebenarnya anak PAUD itu tidak boleh diajarkan atau dipaksa harus bisa calistung. Hanya boleh dikenalkan pada keaksaraan dulu,” terang Galuh, kemarin (12/6).
Galuh menyesalkan, masih banyak orang tua yang belum memahami hal tersebut. Mayoritas menuntut anaknya harus bisa calistung sebelum masuk SD. Dia mengimbau agar guru PAUD berperan penting, untuk ikut menyosialisasikan kepada orang tua. Bahwa anak usia PAUD tidak seharusnya dibebankan calistung. Karena ini baru dimulai pada jenjang SD.
“Pembelajaran di PAUD seharusnya hanya sebatas menanamkan nilai dasar, konsep dasar, dan keterampilan dasar. Serta pembentukan karakter untuk mempersiapkan anak-anak masuk SD,” tegasnya.
Menurut Galuh, dampak negatif memaksakan anak menguasai calistung, akan merusak kecerdasan mental. Secara kognitif, anak memang jenius. Namun fungsi otak lainnya akan terganggu. Kecuali, jika calistung disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan disukai anak. Misalnya memanfaatkan media gambar hewan peliharaan. Sembari menyebutkan jumlahnya, disertai mengenalkan warna-warna dasar.
“Biarkan anak berkembang sesuai minat dan bakatnya. Dengan demikian, perkembangannya akan sempurna. Di usia PAUD, anak memasuki masa emas yang harus dioptimalkan. Namun optimalisasinya tidak harus berfokus dalam calistung,” pesannya.
Sementara itu, Kepala KB/TK Islam Orbit 2 Surakarta Sudarti menjelaskan, pembelajaran karakter lebih diutamakan pada anak usia dini. Pembentukan karakter siswa, bisa dilakukan dengan beragam pembelajaran yang menyenangkan. Mulai dari melihat video, hingga berkunjung ke tempat wisata untuk belajar secara langsung.
“Idealnya memang karakternya dulu yang dibentuk. Baru kemudian diikuti dengan kognitif dan psikomotorik siswa,” papar Sudarti. (ian/fer/dam) Editor : Damianus Bram