SEPTIAN REFVINDA ARGIANDINI, Solo, Radar Solo
Konsep vertical rotary parking system dirancang oleh tiga mahasiswa dari prodi Arsitektur FT UNS, yakni Oasis Ridho Illahi, Annisa Shafia Mushaffa, dan Bagas Trio Wahyu Saputra.
Total sebanyak 70 orang dari 34 universitas berbeda mengikuti kompetisi bertema “Inovasi pada Bangunan Maritim” ini, yang sepenuhnya dilaksanakan secara daring melalui Zoom Cloud Meeting.
Permasalahan daerah sekitar pesisir menjadi hal yang disorot. Tim Mahasiswa Arsitektur UNS pun menggali isu permasalahan untuk diselesaikan dengan desain arsitektur.
“Tahun ini temanya maritime building. Jadi kami diminta membuat bangunan baru yang bisa membawa inovasi bangunan, dan menggarap potensi unik maritim di berbagai daerah di Indonesia,” ujar Oasis.
Mereka menemukan satu masalah unik di Pantai Ngrenehan yang ada di Kabupaten Gunung Kidul. Hasil temuan tim ini menunjukkan potensi pantai tercermin dari pemandangan dan hamparan pasir putih yang indah. Namun, di pesisirnya terdapat banyak kapal nelayan yang tak terparkir rapi, sehingga membuat pantai menjadi padat, sempit, dan kurang nyaman buat wisatawan.
Dari permasalahan itulah, pada kompetisi ini, mereka mengusung desain parkiran kapal menggunakan konsep vertical rotary parking system. Inspirasi ini muncul dari parkiran mobil vertikal otomatis yang banyak diterapkan beberapa negara di luar negeri. Mereka mencoba menerapkannya pada kapal-kapal di Pantai Ngrenehan dengan mendesain ulang layout sistem parkiran kapal di sana.
“Jadi, kapal-kapal diparkirkan menumpuk ke atas untuk menghemat space di pantai, sehingga pantai menjadi lebih lega, bersih, dan nyaman bagi wisatawan untuk berlibur,” terang Oasis.
Sistem parkiran ini menggunakan generator sebagai sumber energi utama. Adapun sumber energi alternatif yang digunakan berupa panel solar untuk menangkap energi matahari yang banyak tersedia di pantai. Panel solar tersebut terpasang pada atap instalasi parkiran.
Sistem parkir seperti ini dinilai memudahkan kerja nelayan dalam memarkirkan kapal mereka. Hal tersebut karena parkiran ini menggunakan sistem roda gigi yang digerakkan motor dan dioperasikan melalui panel kontrol sederhana. Nelayan pun mendapatkan kemudahannya dengan tidak perlu susah memarkir kapal ke bibir pantai. Kemudahan tersebut juga memang menjadi tujuan yang ditawarkan disamping tujuan utama dalam peningkatan potensi pariwisata.
“Jelas untuk meningkatkan potensi pariwisata. Selain itu, untuk mempermudah nelayan dalam memarkir kapal. Penggunaannya gampang karena menggunakan sistem sederhana,” tutur Oasis.
Keberhasilan dalam kompetisi ini semakin spesial. Keberhasilan ini merupakan kali pertama mereka menembus tiga besar, setelah banyak kompetisi sayembara arsitektur yang telah diikuti. Mereka mengaku senang atas pencapaian yang diraih. Ide desain ini pun diharapkan dapat menjadi inspirasi dan membuka pandangan baru mengenai desain arsitektur maritim maupun desain arsitektur yang lainnya.
“Senang banget pastinya. Kami sudah mengikuti banyak kompetisi sayembara arsitektur. Cuma baru ini yang bisa lolos dan dapat tiga besar. Selain itu, karya kami benar-benar mengambil dari permasalahan yang ada. Jadi kami bisa menyelesaikan permasalahan pantai tersebut,” ujar Bagas. (*/nik) Editor : Damianus Bram