Menurut dia roh sekolah swasta bisa bertahan karena mampu berinovasi dengan hal-hal kekinian dalam dunia pendidikan.
"Untuk itu sekolah yang tutup pasti tidak mampu mengikuti perkembangan dan tidak berinovasi dalam pendidikan," jelas Kangsure.
Ditambahkan Kangsure, beban dari sekolah dapat bertahan ada dua, selain inovasi juga marketing. Dua hal ini yang membuat layanan dari sekolah swasta menjadi prima.
"Memang ada sekolah swasta yang tutup, tapi tidak sedikit juga sekolah swasta baru yang buka. Ini membuat daya saing tinggi," ujarnya.
Kangsure mengatakan, sebenanrya sekolah swasta juga mendapat dana bantuan dari pemerintah. Namun dana tersebut peruntukkannya untuk siswa, bukan untuk sekolah. Untuk operasional sekolah-sekolah ini mengandalkan dari SPP maupun dana sumbangan.
“Berbeda dengan sekolah negeri, di mana dana dari pemerintah," urai Kangsure.
Untuk itu, dia bingung kenapa sampai ada sekolah negeri yang kekurangan murid hingga harus terpaksa di-regrouping. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi sekolah negeri untuk meningkatkan kualitas dan pelayanan.
"Ada dana biaya operasional sekolah (BOS), baik itu dari pusat dan daerah. Insfrastruktur ada dana alokasi khusus (DAK). Kemudian untuk gurunya ada gaji pokok ditambah tunjangan dan sertifikasi. Untuk sekolah penggerak ada dana BOS pekerja," jelasnya.
Namun sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan guru yang bekerja optimal. Sebab, para guru yang berstatus ASN ini terlalu berada di zona nyaman sehingga tidak melakukan inovasi.
"Jadi datang, mengajar, selesai. Seharusnya ada peningkatan kinerja dari guru tersebut," ujarnya
Untuk itu inovasi dari guru negeri ini juga wajib dilakukan agar orang tua ketika akan memasukkan anak mereka ke sekolah negeri tidak ragu.
“Untuk itu saya mendukung ada pengangkatan guru negeri berstatus P3K, di mana tiap lima tahun sekali kinerja guru negeri ini akan dievaluasi apakah ada peningkatan atau tidak," ujar dia. (atn/bun/dam) Editor : Damianus Bram