“Sabun herbal salah satu bidang usaha yang menarik untuk dikembangkan. Melalui sentuhan kreasi dalam produksi, termasuk perluasan pemasaran. Menjadikan usaha sabun herbal rumahan ini, sebagai peluang usaha yang menjanjikan secara ekonomi,” kata Ketua PKM Pemberdayaan UKM Sabun Herbal Endang Susilowati, kemarin (3/8).
Selama PKM, Endang didampingi dua dosen Pendidikan Kimia FKIP UNS, yakni Sri Retno Dwi Ariani dan Sri Mulyani. Dibantu beberapa mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Kimia UNS. Mulai dari Aulia Ageng Pangesti, Bagus Saputro, dan Ari Kusumawardani.
UMK ini diberi pelatihan dan pendampingan selama produksi. Termasuk pendampingan pengemasan dan pemasaran.
“UMK De Javu dirintis sejak 2014. Selama ini memroduksi aneka sabun herbal, dengan bahan aditif ekstrak buah dan sayuran. Sayang produknya kurang berkembang. Bahkan penjualannya turun drastis selama pandemi,” imbuh Endang.
Penurunan penjualan karena packaging kurang menarik. Plus pemasarannya yang hanya menunggu pesanan dari pelanggan. Padahal, konsumen sabun herbal biasanya masyarakat kalangan menegah ke atas.
Endang berharap, pengembangan sabun herbal cair antiseptik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen. Dikembangkan dalam empat varian kandungan, yakni lidah buaya, jeruk nipis, sereh, dan sirih merah. Terkait pemasaran, dikembangkan melalui online atau marketplace.
“Metode yang dilakukan tim kami, ada empat tahapan. Mulai dari sosialisasi lewat diskusi dan koordinasi bersama mitra. Lalu pelatihan, pendampingan produksi, dan pengemasan. Kemudian pendampingan perluasan pemasaran, pendampingan pengurusan sertifikat halal MUI, serta evaluasi dan tindak lanjut,” urai Endang. (aya/wa) Editor : Damianus Bram